12 April 2015

Cara meniru atau mengkloning script situs lain

    Kadang kita tertarik ingin memiliki suatu web/blog dengan desain web milik yang lain. Terbersit bisakah memilikinya tanpa harus membeli atau menyuruh orang lain untuk membuatnya, miisal dengan cara meniru script dari web tersebut dengan tampilan list atau galleri dan sejenisnya yang menarik --umpamanya. Bagi yang sudah mahir dalam masalah pemograman atau utak-atik desain web/blog, soal ini tentunya merupakan hal gampang, tapi bagi yang awam  atau masih  newbie :D) tentu masih bingung.

Tapi sebaiknya kini tak perlu bingung, ada solusi untuk mendapatkan semua itu, dan saya temukan dari internet. Gimana cara praktis meniru dersain situs lain, ikuti caranya ya..

Hal - hal yang perlu di persiapkan :
Notepad bawaan Windows (Kalau saya sih lebih suka pakai Notepad++ karena lebih lengkap)
Mozilla Web browser dan situs yang mau ditiru desainnya (ini wajib)
Install Firebug (ini adalah addons di mozilla untuk melihat source dan komponen halaman web)
Photoshop (untuk merubah beberapa gambar2 yang diambil dari website yg mau di kloning)


Hal - hal yang perlu diketahui :
karena disini kita akan meniru desain suatu website, pastinya kita akan mengambil beberapa komponen/script yang ada pada website yg ingin kita tiru desainnya/kloning, diantaranya :


CSS (Cascading style sheet) ini bahasa style yg paling penting dalam kesuksesan meniru desain websitenya.
Source HTML dari website yang ingin ditiru
Beberapa gambar/icon yang pada website yg ingin ditiru
Javascript (bila diperlukan)

Mari kita mulai
Pastikan kamu sudah menginstall addon Firebug ke Mozilla ya. Sebagai contoh disini saya akan meniru desain dari situs crocweb dot com (yaitu salah satu perusahaan webhosting).

1. Buka crocweb dot com, jika loading selesai tekan Ctrl + U (untuk menampilkan view source). Alhasil, akan terlihat berbagai kode2 HTML, inilah susunan kode HTML dibalik situs crocweb

2. Kedua, copy paste seluruh kode2 tersebut ke notepad, kemudian save as dengan nama "index.html" tanpa tanda kutip.

Sebenarnya sampai disini kita sudah berhasil mengkloning situs crocweb, tapi blm secara keseluruhan.

3. Selanjutnya, cari dan copy file CSSnya, dari view source di gambar 1, terlihat bahwa ada satu kode CSS di baris ke 6. Ini dia link shortcut CSS yg saya maksud.

<link rel="stylesheet" type="text/css" href="style.css" media="all" />

Kemudian, buka CSS tersebut, dengan cara klik "style.css", copy dan paste semua kode CSSnya ke notepad. Simpan dengan nama yg sama "style.css".

4. Setelah itu, kembali ke halaman situs crocweb. Ambil semua gambar yang terdapat pada situs crocweb, dengan cara klik kanan pilih "View Page Info". Akan terlihat banyak sekali daftar/link images, blok semua link tersebut, kemudian Save As

Tentukan folder penyimpanan gambar, buat folder baru dengan nama "images" ini disesuaikan dengan direktori tempat penyimpanan images yang ada di dalam kode CSS. Ingat! folder images ini harus di simpan dalam satu folder dengan index.html dan style.css tadi. Lalu bagaimana cara mengetahui direktori penyimpanan dari file images tersebut? mudah saja, kita bisa lihat pada style.css, contohnya bisa lihat pada gambar dibawah ini

5. Untuk merubah beberapa gambar bawaan dari crocweb kita bisa mengeditnya sendiri melalui Photoshop, misalnya ingin merubah logo, banner, ataupun icon - icon lainnya. Kita anggap disini selesai karena dibuat sesuai kebutuhan masing2.

6. Sampai disini sudah selesai sebenarnya untuk versi simplenya.

Tahap Advanced
Setiap website pastinya memiliki struktur halaman yang berbeda2, untuk itu dibutuhkan kemampuan lebih dalam melewati tahap2 ini, terkadang para web developer atau bahkan kita hanya membutuhkan bagian2 tertentu saja dalam meniru desain suatu website, sehingga tidak perlu meniru semua desain secara keseluruhan.

Untuk itu, disinilah peran Firebug (addons di mozilla) yang memudahkan kita untuk meniru bagian2 tertentu saja dari suatu website. Penasaran seperti apa sih firebug itu dan seberapa besar fungsinya dalam membantu kita mengkloning website? Lihat gambar dibawah

http://www.ads-id.com/forums/clear.gif

Keterangan :
Nomor 1 : Inspect Tool, digunakan untuk menyeleksi suatu objek, tool inilah yang biasa digunakan untuk menyeleksi bagian2 tertentu yang akan kita ambil.
Nomor 2 : Setelah mengklik inspect tool, arahkan mouse/sorot bagian2 yang akan diseleksi
Nomor 3 : hasil dari seleksi tersebut dapat di lihat source HTMLnya. Kode ini bisa kita copy ataupun edit
Nomor 4 : Sama seperti nomor 3, bagian ini adalah source dari CSS website, kita bisa copy dan menerapkan CSS ini pada website kita.

Sedikit tips tentang bagaimana cara menanggapi etika dalam hal yang menyangkut copyright/hak cipta, disini tingkat kemiripan sebisa mungkin dibuat tidak benar2 100% sama (sudah pasti, jika tidak ingin dilaporkan ke pihak berwajib oleh empunya karena melanggar hak cipta kan? :peace:)

Kesimpulan :

Tingkat kesulitan dalam meniru desain suatu website/cloning berbeda - beda, tergantung dari bagaimana struktur website tersebut ditampilkan. Cara diatas bisa Anda terapkan untuk desain website Anda nantinya, tentunya harus ada pemahaman lebih tentang bahasa pemrograman web jika hasilnya ingin memuaskan.

Intinya, bagian2 yang sangat dibutuhkan adalah CSS jika ingin meniru bagian2 tertentu, gunakanlah firebug agar memudahkan proses pengerjaan. Untuk program editing berbagai kode2 pemrograman kamu bisa gunakan Notepad++, search di google sudah pasti ada kok :).

Nah, demikianlah sedikit tutorial dalam meniru desain website, TS juga agak lelah nih menulis artikel panjang ini, semoga bermanfaat :swt2:

Mohon maaf kalau ada kesalahan, mohon koreksinya untuk para master.
*note:
 Artikel yang Buanakata (bk) sajikan ini hanya sebagai media pembelajaran saja, dan bukan untuk disalahgunakan. Dan admin buanakata tidak bertanggung jawab apabila tindakan yang digunakan untuk hal-hal yang melanggar hukum.(*)

10 April 2015

Anak-anak Serigala

Cerpen Adam Yudhistira (Lampung Post, Minggu, 5 April 2015)


DESAS-DESUS itu merebak di Desa Yeleniskoye, Desina Kruizseva melahirkan anak-anak serigala. Ia merayap seperti asap dan terisap masyarakat menjadi mitos yang bernuansa gelap. Kata mereka, sudah tak terhitung anak-anak serigala yang lahir dari rahim Desina. Bahkan desas-desus itu menjalar—sejak kerap terdengar lolong serigala pada malam-malam purnama yang memecah keheningan Desa Yeleniskoye. Masyarakat percaya, lolongan itu adalah anak-anak Desina yang beralih rupa menjadi serigala.

Konon, Desina Kruizseva dikutuk karena menjalin cinta dengan Major Rudolf Sauerbrei—seorang perwira muda dari serdadu Nazi. Masyarakat Desa Yeleniskoye mengusir Desina saat diketahui gadis itu mengandung benih Major Rudolf Sauerbrei. Dan kutukan itu menjadi semacam teror bagiku berpuluh tahun setelahnya—sebab entah benar atau tidak—kurasa aku pernah bertemu dengan salah satu dari mereka.

Aku mendapatkan pengalaman ini dari Vasilly. Ia lelaki setengah baya bertubuh gemuk, warga Yeleniskoye. Aku mengenalnya saat bekerja di Oblast, Chelyabinsk-Soviet, di penghujung tahun ‘80-an. Vasilly salah satu pekerja di proyek yang sama-sama kami tangani. Sampai kini aku masih sulit percaya jika mengingat cerita yang dituturkannya.

“Dia (maksudnya Desina) sedang berada di Kota Stalingrad,” ucap Vasilly memulai kisahnya.

Aku dan Vasilly berbincang di sebuah bar kumuh di sudut Desa Yeleniskoye. Langit gelap, hujan turun sangat deras, suasana bar begitu sepi. Hanya ada aku, Vasilly, dan pria tua pemilik Bar. Cuaca buruk itu membuat kami terjebak dan itulah titik mula kisah musykil ini kudengar.

“Lalu bagaimana dia bisa mempunyai anak dari Major Rudolf?” tanyaku sembari menenggak seteguk vodka untuk menghangatkan darahku yang membeku.

“Dia sukarelawan perang di sana.”

Aku memandang keheranan, “Setahuku saat perang di tepi Sungai Volga itu, serdadu Nazi dan Tentara Merah sama-sama sulit, rasanya tak mungkin dua kubu ini bisa bertemu dalam keadaan damai, apalagi untuk urusan cinta. Sungguh tak masuk akal, Kawan.”

“Dia sukarelawan perang, dia tidak memihak siapa pun.” Vasilly  memantik korek dan menyalakan sebatang rokok. “Desina mengaku jika janin yang dikandungnya adalah anak Major Rudolf, tapi bukan berarti mereka miliki ikatan cinta.”

“Kau pernah bertemu Desina?”

“Ehmm... tidak, aku dapat cerita ini dari kakekku.”

“Ah...” keluhku kecewa. “Lalu bagaimana cerita selanjutnya?”

“Desina Kruizseva terjebak di reruntuhan gedung.” Vasilly menggaruk hidungnya yang besar sebentar. “Dia memberi perawatan medis untuk Tentara Merah yang terluka di garis belakang, saat itulah dia diculik dan dibawa ke kubu Jerman.”

Kureguk lagi setegukan vodka di dalam gelas, lantas kuajukan analisisku, “Aneh sekali, setahuku juga, petugas medis adalah para pria, jarang ada wanita yang bertugas langsung di titik pertempuran seperti dalam ceritamu itu.”

“Jadi kau tidak percaya padaku, Bramantyo?” ucapnya sambil menunjukan raut wajah meradang.

Aku mahfum, tipikal lelaki Rusia memang mudah sekali naik darah. Aku tertawa, “Aku percaya, aku percaya. Sudahlah, lanjutkan saja ceritamu, aku masih ingin mendengarnya.”

“Oke,” katanya sambil mengisap rokoknya terlebih dulu. “Percayakah kau jika kukatakan, anak-anak yang lahir dari rahim Desina menjelma serigala?”

Aku terkejut mendengar pertanyaan sekaligus pernyataan itu. Vasilly benar-benar pandai memancing rasa penasaranku. Aku mengangguk dan kucondongkan tubuhku sedikit ke arahnya. Ceritanya mulai menarik, sebab tak hanya di Indonesia saja ada hal-hal berbau klenik begini, ternyata di negara sebesar dan semaju Rusia ada juga cerita seperti itu. Hitung-hitung mengobati rasa rinduku pada Tanah Air, lantas kuteruskan pertanyaan-pertanyaanku.

“Menurut kakekku, Desina tidak sendirian menerima kutukan itu.”

“Maksudmu?”

Belum sempat Vassily menjawab pertanyaanku, tiba-tiba pria tua yang duduk di sudut bar menunjuk ke muka Vassily sambil berkata, “Eta lozh!”

“Zatknyis! Ya cibya nakazhu!” bentak Vasilly. Pria tua itu sontak terdiam, kemudian menunduk ketakutan. Aku tak mengerti apa yang mereka katakan, sepertinya Vasilly mengancam pria itu hingga dia ketakutan. Pria tua itu kembali mengacuhkan kami, tapi sesekali masih kudengar gumaman dari mulutnya.

“Iya, maksudku banyak perempuan lain yang menerima kutukan sama seperti dirinya. Diusir dan melahirkan anak-anak serigala.”

“Kenapa bisa seperti itu?”

“Karena benih yang ditanamkan serdadu-serdadu Nazi itu adalah benih-benih iblis. Dan perempuan yang menerima benih itu—apa pun alasannya—pasti akan menerima kutukan yang serupa.”

Aku mengangkat tangan dan mengisyaratkan pada pria tua penjaga bar untuk menambahkan vodka ke dalam gelasku. Pria tua itu mengangguk, dengan cekatan ia menuang cairan beraroma menyengat itu ke dalam gelas. Ia mendengus saat melirik Vasilly, melihat itu, aku tersenyum geli. Vasilly sendiri tak memedulikan keberadaan pria tua itu.

“Maksudku begini, bagaimana bisa serdadu Nazi menanamkan benihnya pada perempuan Soviet pada masa genting seperti itu?”

“Kau kritis sekali, tapi kau terlalu lugu untuk menguak fakta-fakta sejarah yang tidak sempat tertulis.” Vasilly menyeringai, di sela-sela giginya yang kuning, terselip beberapa pecahan daun tembakau.

“Aku tidak mengerti,” ucapku jujur. Aku sungguh tertarik mendengar kisah itu, tapi Vasilly menjadikan rasa ketertarikanku menjadi sebuah “siksaan” yang mengasyikkan. Rasa penasaranku ditarik-ulur olehnya. Itu membuatku mulai jengkel dan merasa sedang dipermainkan.

“Dulu...” katanya melanjutkan ceritanya lagi, “banyak perempuan Soviet yang menjadi budak seks serdadu Nazi.”

Aku mengangguk-angguk. Sejarah yang dicelotehkan lelaki itu tentu saja tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Aku mulai merasa lelaki bertubuh tambun yang menguarkan aroma bawang ini cuma terobsesi dengan kisah-kisah hantu picisan.
“Seperti lazimnya negeri-negeri yang disinggahi bala tentara iblis, negeri kami juga pernah merasakan masa-masa suram itu,” lanjutnya sambil menghembuskan gumpalan asap rokok tepat ke wajahku.

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku yang perih terkena hembusan asap rokoknya. Kutegakkan posisi dudukku dan menjauh. Bukan cuma itu, sebenarnya cerita lelaki ini mulai menjurus pada kegilaan terstruktur dalam lisannya sendiri. Aku pesimistis ceritanya mengandung kebenaran.
Dia—kurasa—lelaki yang memiliki ketidaknormalan dan terobsesi kompulsif pada teori-teori konspirasi atau kisah-kisah menyeramkan tentang Nazi. Aku menduga pemikiran Vasilly sudah terjangkiti semacam paham kebencian pada mitos ras yang sempat didengung-dengungkan Jerman pada periode Perang Dunia II. Kebencian itu termanifestasikan dalam bualan kosongnya tentang anak-anak serigala—yang di telingaku tak ubahnya semacam caci-maki paling konyol yang pernah kudengar.

Aku mereguk vodka di dalam gelas yang isinya tinggal setengah. “Mengapa kau mengira jika serdadu-serdadu itu bala tentara Iblis?” tanyaku mengerutkan alis.

Vasilly terkekeh memamerkan deretan gigi-gigi keroposnya, “Kenyataannya memang seperti itu. Kau tahu? Hanya serdadu-serdadu iblis yang bisa melakukan kejahatan dan berambisi menguasai umat manusia dalam satu kekuasaan.”

“Aku tidak mengerti...”

Lelaki itu mendekat dan berbisik, “Dari kakekku pula aku tahu jika Hitler itu jelmaan Lucifer,” katanya mengangguk meyakinkanku.

Aku mendengus, “Kurasa ceritamu sudah melantur jauh dari kisah Desina Kruizseva. Sebaiknya kita kembali ke cerita tentang perempuan itu saja,” ucapku mengingatkannya.

Vasilly mengangkat dua tangannya seperti lagak orang yang menyerah, “Oke, oke...” katanya mengalah.

“Nah lanjutkan, mulailah dengan kisah tentang Major Rudolf, mengapa ia memilih Desina Kruizseva?” tanyaku sembari meraih gelas vodkaku dan mereguk isinya hingga tandas.

“Ah, itu memang sudah menjadi agenda terselubung, Bram.”

“Oh ya?”

“Iya! Aku bisa menjamin itu!” katanya menepuk meja. Matanya menyorot yakin. “Nazi mencetak serdadu-serdadunya dengan menanamkan benih iblis dalam kantong-kantong sperma mereka, untuk nanti dibuahkan pada perempuan yang negerinya menjadi target penaklukan. Desina adalah perempuan kuat dan pemberani, ia adalah perempuan yang tepat untuk program itu.”

“Wow!” seruku terkagum-kagum. “Maksudmu itu semua adalah konspirasi?”

“Tepat sekali!” jawabnya tertawa. “Kelak benih-benih itu akan lahir di negeri-negeri taklukan dan menjadi bala tentara iblis yang dikoordinasikan untuk tujuan Nazi di masa datang.”

“Tujuan apa?”

“Tujuan menguasai seluruh dunia.” Vassily tersenyum puas melihat ketakberdayaanku.
“Luar biasa,” sahutku menggeleng kagum. Sebenarnya aku kagum pada kepiawaiannya mendeskripsikan cerita sampah yang sarat omong kosong itu. Aku ingin terbahak, tapi takut ia tersinggung.

Hening sejenak, Vasilly tampak melamun. “Aku tahu kau tidak percaya pada ceritaku ini, Bramantyo,” ucapnya mengagetkanku.

“Oh tentu saja aku percaya, Kawan,” tangkisku cepat-cepat. “Tadi kau bilang mendapat cerita ini dari kakekmu, bukan?”

Vasilly mengangguk, kali ini wajahnya berubah datar. Bahkan sangat datar. Suhu di dalam ruangan bar yang tak seberapa luas itu mendadak menjadi lebih dingin. Aku menatap matanya, hatiku berdenyar.

“Lalu dari mana kakekmu bisa mendapatkan cerita menakutkan itu? Eng ... maksudku bagaimana cerita itu bisa sampai pada kakekmu dan sampai pula padamu?”

Vasilly menyeringai. Dia menatap mataku lekat-lekat dan bola matanya yang biru keruh itu menyala. Dengan nada suara penuh penekanan dan terdengar mistis, dia berkata, “Kakekku adalah Major Rudolf Sauerbrei dan nenekku adalah Desina Kruizseva.”

Vasilly menggeram, suaranya—entah kenapa—kudengar sangat mirip geram serigala dan aku terdiam dalam cekaman rasa takut yang sulit kuilustrasikan. n

Catatan:
• Eta lozh! : Itu bohong!
• Zatknyis! Ya cibya nakazhu! : Diamlah! Kupukul kau nanti!

25 Maret 2015

Ternyata Bukan Ayahku

    Cerpen: Afsir Mlajah (Radar Surabaya 22 Maret 2015)
 

      Lelaki itu bernama Pak
Broto. Siapa yang tidak
mengenalnya? Ia adalah
seorang wakil rakyat yang
terkenal di mana-mana.
Tapi, aku merasa heran.
Banyak orang mencibirnya. Banyak
rakyat membencinya. Termasuk juga
aku. Aku sangat membencinya. Entah
apa yang membuatnya dibenci sedemikian
rupa. Aku tak tahu.
      “Aku benci Ayah,” ungkapku pada Bi
Suci, pembantu yang telah bekerja di
rumahku semenjak aku kecil, pada
suatu hari.
      “Mengapa, Mas?” Bi Suci bertanya
heran.
      “Entahlah. Ayah selalu tidak punya
waktu untukku setiap kali aku butuh
padanya,” jawabku. “Aku juga heran,
mengapa teman-temanku membenci
Ayah? Apa karena Ayah seorang wakil
rakyat?”
       “Ya tidak begitu, Mas.” Bi Suci menyangkal.
“Wakil rakyat kan dipilih oleh rakyat. Tentunya, ayahmu
Adalah sosok yang baik sehingga rakyat memilihnya,”
hiburnya.
       “Kalau benar begitu, lalu, mengapa
banyak orang memandang sinis padaku?
Setiap kali aku pergi ke suatu tempat,
mereka selalu mencemoohku. Setelah
itu, lantas mereka menyebut-nyebut
nama Ayah.” Aku menggerutu. Bi
Suci lantas mengusap keningku, mencoba
menenangkan.
       “Mungkin itu hanya perasaanmu
saja, Mas,” ucapnya.
       “Nggak mungkin, Bi. Pasti ada sesuatu
di balik itu.” Aku membantah.
Bi Suci hanya tersenyum.
       “Ssst. Sudahlah. Jangan dipikirkan,”
pesannya. Aku hanya bisa diam. Mau
bagaimana lagi? Mau bagaimanapun,
aku sudah terlanjur membencinya.
        ***
      Hari-hari kulalui begitu saja tanpa
ada arti. Mungkin hanya ibu, Bi Suci,
dan seorang lelaki misterius yang menemaniku
ketika diriku tertimpa masalah.
Bukan ayah! Sekali lagi, lelaki
itu bukan ayah! Ayah terlalu sibuk.
Sepertinya dia bukan lagi seorang manusia
yang mempunyai perasaan; rasa
lelah, rasa rindu, atau rasa cinta. Ia
lebih mirip robot yang bekerja tanpa
mengenal waktu dan lelah. Tapi anehnya,
tetap saja banyak orang yang
membencinya. Termasuk juga aku!
      Banyak orang berkata bahwa ayah
seperti ini seperti itu. Tak kapoknya
mereka membicarakan ayahku yang
kini mulai berusia setengah abad.
Hingga suatu hari, ketika ayah mendapat
mobil baru, mereka datang berbondong-
bondong ke rumah. Entah apa
yang mereka inginkan. Mereka datang
bukan hanya dengan tangan kosong,
tapi masing-masing orang membawa
sesuatu di tangannya. Ada pentongan
kayu, sapu lidi, pisau, celurit, parang,
bahkan senapan! Dengan amarah yang
meluap-luap mereka menyuruh ayah
keluar. Untungnya, saat itu ayahku
sedang dinas di luar kota. Sehingga,
orang-orang itu pulang dengan tangan
hampa dan masih dengan amarah yang
membara. Mereka mengumpat, mencaci,
bahkan mengancam. Saat itu, aku
bersembunyi di balik pintu, takut-takut
mengintip punggung mereka
menghilang di kelokan jalan.
***
       Sore harinya, seperti biasa, aku duduk
sendiri termenung di depan rumah.
Kulihat bunga-bunga di taman
tampak indah dijilat cahaya jingga.
Dan di pojok pagar sana, kulihat seseorang
berjalan sambil menggendong
sebuah keranjang besar. Dialah
lelaki misterius yang sangat
kukagumi. Meski hanya
menjadi seorang pemungut
sampah, ia disenangi
banyak orang, termasuk
diriku. Ia ramah pada siapa
saja. Sangat berbeda
dengan sosok ayah yang
kukenal selama ini.
       Cepat kuberlari ke arah
pintu gerbang untuk
menantinya. Dari kejauhan, kulihat ia
menyunggingkan kedua bibirnya. Beberapa detik
kemudian, kami bertemu. Kuajak ia
masuk ke dalam. Namun, ia tak mau. Malu, katanya.
       Jadilah kami duduk bersama di pos
jaga satpam dekat pintu gerbang.
       “Jangan sering melamun,” katanya
membuka pembicaraan. “Ada masalah?”
       Aku meliriknya sekilas. “Ya,” jawabku
singkat. “Mengapa tadi pagi para
warga datang ke rumah? Apa yang
mereka inginkan dari ayah?” Aku
mengutarakan apa yang sedang berkecamuk
dalam pikiran.
      “Ha ha ha.” Lelaki misterius itu tertawa.
“Warga hanya meminta hak yang semestinya
mereka terima, Mas. Tapi, ayahmu
tidak pernah memberikannya,” ujarnya.
      Aku mengernyitkan dahi. “Itukah
alasannya mengapa mereka datang
seperti orang kesurupan?”
       “Ha ha ha.” Ia tertawa lagi. “Kurasa
memang begitu.”
       “Hhh.” Kuhembuskan nafasku panjang.
       “Aku juga benci ayah,” ungkapku.
       Lelaki itu terperanjat. “Kau benci
ayahmu sendiri?” Ia bertanya lantas
diiringi gelak tawa. “Sepatutnya itu
tidak terjadi, Mas. Apa alasanmu sehingga
dapat membencinya?”
       Aku tersenyum kecut, mengingat harihari
yang kulalui dengan atau tanpa ayah
itu sama saja. Tapi, perkataannya juga
betul. Apa alasanku untuk bisa membencinya?
       “Dimas, Dimas. Ayahmu itu orang
hebat. Coba lihat, apa yang ia inginkan
selalu bisa diwujudkannya.” Lelaki
misterius itu menepuk-nepuk pundakku
lantas tertawa getir. Sejenak
kudapati airmukanya sedikit berubah,
seperti ada sesuatu yang dipendamnya.
       “Apakah ayah pernah melakukannya
padamu?” Aku iseng bertanya.
Ia tertegun. “Apa maksudmu?”
      “Hm. Apakah ayah pernah menginginkan
sesuatu darimu?” Aku
mencoba menjelaskan.
Ia menundukkan kepala. Sorot matanya
tiba-tiba berubah. “Mengapa kau
bertanya seperti itu?”
      “Ha ha ha.” Kini aku yang tertawa.
“Aku ingin kau lebih baik daripada
sekarang. Bila memang ayah
pernah menginginkan sesuatu
darimu dan telah mengambilnya,
siapa tahu aku dapat mengembalikannya
padamu!”
      “Hm? Ha ha ha.” Lagi-lagi ia
tertawa getir. “Kau tidak akan
bisa melakukannya, Mas,” ujarnya.
“Lagipula, terlalu sulit bagiku
untuk menerimanya kembali!”
       “Huh? Memang apa yang
telah ayah ambil darimu?”
Aku menyatukan kedua alis.
        “Ha ha.” Ia tertawa getir, lagi.
“Sesuatu, Mas. Sesuatu yang
sangat berharga bagiku,” katanya .
      “Aku harus pergi, Mas .
Sampai jumpa kembali di lain waktu!”
Tiba-tiba saja ia beranjak pergi. Aku
mencoba mencegahnya, tapi tidak
bisa. Sempat kulihat matanya berkaca-
kaca menahan airmata.
       “Tenang saja, Pak.
Aku akan berusaha mengembalikannya
untukmu!”
       Aku bertekad dalam hati.

***
       Beberapa hari kemudian...
       Malam itu mungkin adalah sebuah
malam yang sangat berarti bagiku.
Semua anggota keluarga berkumpul
di meja makan untuk makan malam.
Tak terkecuali ayah. Tak biasanya ia
hadir di antara kami; aku, ibu, dan Bi
Suci. Aku sangat bahagia malam itu.
Sayangnya, kebahagiaan tersebut hanya
datang sementara. Belum selesai
acara makan malam bersama itu,
terdengar suara pintu digedor-gedor
dari luar. Siapa sih yang tak tahu adab
bertamu itu? Aku mendengus kesal.
Bi Suci lalu beranjak membukakan
pintu. Sejurus kemudian terdengar
suara berat beberapa orang lelaki. Apakah
mereka yang datang mencari ayah
beberapa hari yang lalu? Aku menduga-
duga. Takut, khawatir.
Tak berselang lama setelah berbincang
sebentar, Bi suci memanggil ayah.
“Tuan Broto, ada yang ingin bertemu!”
Ia berseru.
      Ayah cepat-cepat cuci tangan lalu
pergi ke ruang depan. Diam-diam aku
membuntutinya dari belakang. Dan betapa
terkejutnya diriku setelah kulihat
ada banyak personel polisi berdiri berjejer
di luar sana. Bukan hanya itu, di
belakang mereka kulihat orang-orang
berkerumun sambil riuh rendah
bersorak-sorai. Seorang polisi melangkah
tegap menghampiri ayah.
      “Selamat malam, Pak!” Sapanya
sambil berhormat.
      “Selamat malam.” Ayah menjawab.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?”
“Anda yang bernama Bapak Broto?”
Polisi itu bertanya.
      “Iya, benar, Pak. Ada masalah apa, ya?”
      “Anda kami tangkap sebagai dugaan
tersangka atas kasus penggelapan
dana rakyat!” Polisi itu mengeluarkan
borgol lalu meraih tangan ayah.
       CKELK! Seketika tangan ayah sudah
diborgol.
      “Loh, Pak? Apa yang Anda lakukan?
Saya tidak melakukan apa-apa! Mana
bukti Anda?” Ayah memberontak.
      “Kami melakukan apa yang harus kami
lakukan. Anda dapat memberikan
pembelaan di pengadilan nanti.” Polisi
itu menggiring ayah menuju mobil
tahanan yang sudah berada di luar pagar.
Ibu yang baru saja keluar berlari
menghampiri ayah. “Tunggu, Pak!
Tunggu! Apa salah suami saya?” Ia
berteriak histeris.
      “Bapak Broto diduga telah melakukan
penggelapan dana rakyat sebesar tiga
miliar rupiah. Oleh karena itu, Bapak
harus kami tangkap.” Polisi tadi menjelaskan,
lalu naik ke atas mobil tahanan.
       Ibu terus saja mengoceh bertanya ini
itu, tapi para polisi tidak menggubrisnya.
Orang-orang yang berkerumun di
luar sana ikut-ikutan berkomentar
meriuhkan suasana. Mobil tahanan itu
segera pergi meninggalkan kami.
Seiring dengan itu, orang-orang yang
berkerumun tadi membubarkan diri.
Kini, tinggal diriku yang tercenung
bingung dan ibu yang terisak menangis.
***
      Malam semakin larut. Aku tidak bisa
tidur malam itu. Aku duduk di ruang
tamu. Tak berapa lama kemudian Bi
Suci datang.
     “Tidak tidur, Mas?” Ia bertanya. Aku
menggelengkan kepala.
     “Bi, aku ingin tahu tentang seseorang,”
ungkapku.
     “Seseorang? Siapa? Mungkin Bibi
bisa menjawab.”
     “Hhhh. Hmmm.” Aku mengatur nafas
sejenak. “Bibi tahu, lelaki pemungut
sampah yang biasa lewat di depan
rumah? Siapa dia sebenarnya?” Kulihat
Bi Suci terperanjat. Ia lantas menghela
nafasnya panjang.
      “Dimas, mungkin sudah saatnya kau
tahu akan hal ini,” ujarnya. Aku mengernyitkan
dahi mencoba menebaknebak
apa yang akan dikatakannya.
     “Sebenarnya kamu bukan anak Pak
Broto, Mas.” Seketika kata-kata itu
seakan mencekik jantungku. Kalau
bukan anak dia, lalu aku ini anak siapa?
     “Ibumu menikah dengan Pak Broto ketika
kamu berusia dua tahun. Percaya
atau tidak, kamu bukanlah anak kandung
Pak Broto.” Mata Bi Suci berkacakaca.
     “Lalu, aku ini anak siapa, Bi? Siapa
ayahku sebenarnya?” Aku tak sabar
bertanya.
      “Ayahmu...” Bi Suci memelankan
suaranya. “Ayahmu adalah lelaki
pemungut sampah itu, Mas. Dialah
ayahmu yang sebenarnya. Dialah
suami pertama ibumu. Ibumu dulu
meminta cerai pada lelaki itu karena
ia tak mampu mencukupi kebutuhan
keseharianmu. Di samping itu, Pak
Broto adalah orang kaya yang sejak
lama mencintai ibumu. Dengan imingiming
harta, ibumu memilih pisah dari
ayahmu lantas menikah dengannya.”
Kulihat Bi Suci tercenung menatapku.
Aku sendiri entah mengapa merasa
sesak mendengar penjelasannya.
Langit seolah-olah jatuh menimpaku.
Kini, telah kuketahui rahasia di balik
semua ini. Kini kutahu mengapa aku
harus membencinya. Ternyata, ia
bukanlah ayahku (*)

24 Maret 2015

Jejak Langkah dan Ajaran Sosrokartono




          “Nun di suatu masa nanti, Terusan Suez bakal mandi darah, api berkobar dahsyat di Benua Asia dan Afrika. Akhirnya kedua benua, akan berpaut menyatu padu di kota ini (Bandung)”
                                                                                     Ramalan Sosrokartono, 1940.

       Apa yang dikatakan oleh Drs.RMP Sosrokartono (1877 – 1952), kakak kandung pahlawan nasional RA Kartini, ternyata menjadi kenyataan. Terbukti pada tahun 1955, Kota Bandung dijadikan ajang Konferensi Asia-Afrika. Suatu tiang pancang awal kebangkitan dan persatuan bangsa-bangsa di benua Asia-Afrika yang baru merdeka, terlepas dari penindasan dan penjajahan oleh kaum kolonialis. Dan itu dimulai dengan “Krisis Suez” yang terjadi di awal tahun 1950-an, dan meibatkan kekuatan militer Inggris dan Prancis. Menghadapi Mesir yang mendapat bantuan dan simpati negara-negara Arab dan Asia-Afrika lainnya. Kejadian itu persis, sesuai dengan ramalan atau “visi gaib” dari Sosrokartono, 15 tahun sebelumnya.
       Sastria pendita nan waskita
       Sosrokatono memilki kekuatan spiritual yang hebat. Waskita dan waspada! Sebagian orang menyatakan bahwa beliau memiliki ‘indera keenam’ dan ‘mata ketiga’, istilah-istilah yang kurang dipahami oleh orang awam.
       Sejak usia muda, beliau sudah terlihat bakat paranormalnya. Pada suatu hari di tahun 1880, Sosrokarto
yang baru berusia tiga tahun, mengumpulkan semua barang mainannya. Kemudian dikemasi dalam suatu wadah, siap untuk dibawa, bila sewaktu-waktu keluarga RM Samingun (ayah Kartono-Kartini) harus alih tugas dari Mayong.
     Orang-orang di rumah bertanya pada Kartono kecil: “Mengapa alat-alat permainanmu kau kumpulkan?”
     Jawab Kartono :    “Mau pindah rumah”
     Penanya            :    “Siapa yang mau pindah?”
     Jawab Kartono :     “Ayah !”
     Penanya           :      “Pindah ke mana?”
     Jawab Kartono:      “Ke Jepara”.
      Bukan main! Sungguh aneh kala itu! Tiga bulan kemudian masih di tahun 1880 itu  juga, ayahnya menerima ‘Surat Besluit Gepernemen’ yang memindahkan RM Samingun ke Jepara, untuk menduduki jabatan Bupati Jepara. Menggantikan kedudukan ayah mertuanya.
      Semua tepat seperti ramalan “si Kakek Kecil” , nama julukan Sosrokartono di lingkungan keluarga RM Samingun. Memang  si Kakek Kecil ini memiliki sifat ‘terang-pandang’ atau ‘clairvoyance’ sebagaimana terjadi dalam kisah berikut ini:
      Tahun 1918, Perang Dunia I di Eropa usai sudah. Prancis dan Jerman mengadakan perundingan rahasia di tengah hutan Campienne, Prancis. Tempat perundingan diajaga ketat, tak ada wartawan yang dipernenankan hadir dalam pertemuan itu. Sebelum keluar pengumuman resmi, surat kabar ‘New York Herald Tribune’ telah menyiarkan hasil perundingan. Pengirim beritanya adalah seorang koresponden di Eropa dengan kode ‘bintang tigs’, kode Drs.Sosrokartono. Kejadian tersebut sempat mengejutkan pers dunia, sehingga belia diberi julukan “wartawan agung”.
       Keanehan-keanehan atau keajaiban lain seputar beliau, banyak terjadi dan dialami oleh para pengikutnya, sampai akhir hayatnya dan dimakamkan di Sidho Mukti, Kudus tahun 1952.
       Drs.RMP Sosrokartono yang lulusan Universitas I eiden, tergolong genius. Menguasai 36 bahasa, terdiri dari 17 macam bahasa Eropa, 9 macam bahasa Timur dan 10 bahasa daerah Indonesia.
       Beliau menguasai bahasa sampai ke dialek-dialeknya. Sebagaimana terjadi di zaman pendudukan Jepang. Masa itu beliau lebih tekun hidup prihatin. Puasa, mengurung diri beberapa hari di kamar pribadinya. Tiba-tiba dating seorang Nyonya Eropa, uluk salam –“Good morning doctor!” Masih belum ada jawaban.
       Baru setelah si nyonya mengucap salam buat ketigakalinya, Sosrokartono keluar dari kamarnya, menyambut salam si nyonya dan mempersilahkan tamunya masuk. Kemudian terjadilah obrolan yang asyik, diseling tawa-ria, dengan menggunakan bahasa yang tak dipahami leh para hadirin yang siang malam selalu membanjiri rumah Darussalam di Jl.Pungkur No.19 Bandung.
        Mengapa si Nyonya Eropa harus uluk salam sampai tiga kali? Ssrokartono member penjelasan kepada para pengikutnya. Dari logat ucapan ‘good morning’ yang pertama, Sosrokartono langsung mengetahui bahwa si nyonya bukan orang Inggris. Dari logat salam yang kedua, diketahui bahwa si nyonya adalah orang Rusia. Selanjutnya, ucapan ‘good morning’  yang ketiga, Sosrokartono memastikan si nyonya berasal dari daerah Ukrania. Ternyata benar, nyonya tadi adalah orang Rusia. Tokoh dunua theosofi yang terkenal dan misterius. Datang dan meninggalkan tempat dalam waktu sekejap mata.
       Karena kemahirannya berbahasa, maka Sosrokartono diminta menjadi juru bahasa tunggal di forum Volkenbond  (cikal bakal PBB) di Geneva. Swiss pada tahun 1918. Kemudian Sosrokartono diangkat oleh pemerintah Prancis menjadi pegawai tinggi pada Kedutaan Prancis di Den Haag, tahun 1921. Tatkala beliau di Jenewa (tahun 1918 – 1920), Sosrokartono sering mengadakan perjalanan keliling, singgah di Negara-negara Eropa sesuai dengan hasrat hatinya, ingin mengenal bangsa-bangsa di dunia.
      Dalam perjalanan dari Swiss menuju Italia, sesampainya di lereng Pegunungan Alpen yang membatasi kedua Negara, Sosrokartono dibegal oleh sekawanan penyamun bangsa Italia. Selain barang bawaannya dirampas, para penyamun berniat membubuhnya. Maka dengan bahasa Italia bernada halus Kartono meminta barang waktu sesaat untuk mengerjakan shalat dan menulis sepucuk surat buat ibunya di Pulau Jawa. Timbul perdebatan. Kartono mengajukan alas an, bahwa ibundanya yang selalu akan menunggu kedatangannya, mrasa cemas tanpa berita dari putranya yang jauh di rantau orang. “Bila aku telah memberi kabar kepada ibuku tentang kematianku, silahkan anda bunuh aku”, begitu kata Kartono kepada para penyamun. Mendengar kata-kata tadi, bajingan-bajingan Italia itu merasa terharu. Lalu mengembalikan seluruh harta milik Kartono, dan mengantarkannya dengan naik pedati memasuki perbatasan Italia.
        Kejadian itu membuktikan, bahwa sikap berhikmat kepada Ibunda, dapat menjadi doa restu selamat bagi dirinya. Sosrokartono telah membuktikan kebenaran ungkapan; tiada keramat yang paling ampuh di dunia selain doa Ibu, atau istilah Sunda –‘Indung Tunggul Rahayu!’
       Sejak kejadian di lereng Pegungan Alpen itu, Sosrokartono amat rindu kepada ibundanya yang tinggal di Salatiga. Maka pulanglah beliau ke tanah air. Dan memilih Kota Bandung pada tahun 1927 sebagai tempat huniannya.
       Pada akhir 1927-an beliau aktif menjadi pendidik di Perguruan Taman Siswa, selain juga menjadi tokoh spiritual, pendukung pergerakan nasional di Kota Bandung. Para tokoh pergerakan nasional seperti Soekarno, juga mahasiswa TH yang lagi menghadapi ujian, sering sowan kepada beliau, untuk memohon doa restu. Kala Soekarno muda jadi ‘singa podium’ di Bandung, dapat dipastikan Sosrokartono hadir ‘diam’ memberikan dukungan moral di sisinya.
       Pada suatu ketika, Sosrokartono yang yang dituakan di Perguruan Taman Siswa, mendapat undangan untuk meresmikan gedung sekolah milik perguruan itu di Garut dan Cianjur. Repotnya, hari, tanggal dan peresmian waktunya bersamaan. Namun entah bagaimana caranya, ternyata pada saat yang bersamaan di dua tempat yang berjauhan (Garut dan Cianjur) peresmian gedung sekolah, dapat dilaksanakan oleh beliau. Hal itu terbukti dari dua lembar foto dan berita surat kabar, yang menyiarkan pristiwa tersebut.
       Sejak Sosrokartono mendiami rumah ‘Darussalam’ di Jl.Pungkur No.19, beliau sering menolong orang yang susah, sakit, dan kesulitan mental maupun spiritual. Beliau menolong ‘pasiennya’ dengan member air putih sebagi media penyembuhan. Oleh karena itu beliau sering disebut sebagai ‘Dokter Cai’.
       Tatkala Sosrokartono masih hidup, pernah mengatakan bahwa beliau tidak mengajarkan sesuatu, tidak mempunyai murid atau menjadi guru. Baginya: “Murid gurune pribadi, guru muride pribadi, pamulangane sengsara sesame, ganjarane ayu lan arume sesame”  (‘Guru sang murid adalah pribadi murid sendiri, murid sang guru adalah pribadi guru sendiri, bahan pelajarannya adalah kesengsaraan dan penderitaan sesame manusia, pahalanya adalah kebahagiaan bagi sesama hidup’).
       Hakikat hidup ini adalah cinta kasih manusia kepada Tuhan. Cinta kasih itu hendaknya disalurkan dengan mengambakan diri kepada hamba Tuhan (sesama  manusia).
      Pandangan hidup Sosrokartono, memegang teguh ‘laku’, tindakan dan perbuatan, yang disebut ‘Catur Murti’.  Catur Murti ini merupakan perilaku kehidupan. Maka bagi mereka yang ingin mempelajarinya, berdatangan ke tempat kediaman beliau di Bandung kala itu. Mereka disebut ‘monosuko’, yaitu orang-orang yang suka rela datang tanpa diundang ke tempat itu ***@
                                                                                (sumber: Ir.Harry Kunto-ITB)