Tampilkan postingan dengan label Pikiran Rakyat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pikiran Rakyat. Tampilkan semua postingan

3 Juli 2015

Pisau

Cerpen Otang K.Baddy (Pikiran Rakyat 15 Desember 2013)
     Sebagai pengemban amarah, yang kerap tertawa dan bersorak jika dalam kemenangan. Menjerit bak tersengat bara api sebelum kemudian menguap jika dalam kekalahan, selayaknya kau tetap aku perangi. sebab kamu ini telah jadi musuh nyataku!
      Saya akan terus mengutukmu tanpa batas waktu. Betapa tidak, sebab bujuk rayumu yang selalu menyesatkan bukanlah suatu fitnah, melainkan nyata-nyata sebuah pendosa.
     “Pisau itu sudah tak aku pakai lagi, selain ujungnya sudah patah juga ia sudah berkarat. Jadi kini benda itu sudah tak berfungsi lagi. Sudah tercampak menjadi sampah,” katamu ketika meminjam bibir lelaki tua itu.
Ujungnya patah, berkarat? Tak berfungsi dan tercampak menjadi sampah?
      “Haha…!”
      Hust, jangan bangga. Tawaku ini bukan tawa sebangsamu yang intinya mematikan nurani. Tawa ini adalah sinisme atas kegoblokkan aktingmu yang jelas kentara di depan mataku. Bahkan, jikapun kamu jauh dariku, tetap saja tak akan mampu mengelabuiku dengan berjuta akting. Perlu dicatat dan diingat, mata dan telingaku tak tuli tak buta. Kenapa, ya.. karena yang saya bicarakan di sini adalah fakta. Sekali lagi, fakta!
Makanya saya akan terus mengutukmu. Jauh atau pun dekat bagi kau dan aku bukanlah suatu ukuran. Berperang atau berdebat di area terbuka, di alam nyata maupun maya, dalam artikel opini atau pun fiksi, bagi kau dan aku bukan persoalan. Makanya, setelah perseteruan-perseteruan di berbagai macam ruang dan waktu tanpa usai, dalam sebuah cerpen ini pun saya kamu undang. Dan saya tak khawatir –apalagi cemas, seandaianya cerpen ini tak dimuat PR pun bukankah kita berdua tetap selalu bersitegang?
      Oya, apa yang persoalan kita tadi?
      “Soal pisau yang patah, berkarat, tercampak dan menyampah.”
Iya itu! Kalau dengan orang-orang bloon –yang kebloonannya tentu karenamu, bisa saja omonganmu dipercaya. Tapi jika dengan saya, wualah nol besar. Omonganmu lebih dari ngabla, goblok. Sebaliknya sama saja dengan melegalkan kenyataan bahwa kamu itu seorang penipu yang terkutuk.
     Hei, dengarkan!
     Seandainya benar ujung pisau itu telah patah dan berkarat, tercampak menjadi sampah, itu hanya cangkangnya. Aslinya tidak. Aslinya kan kamu. Yang saat itu berpura-pura jadi dewa penolong ketika seorang lelaki sakit hati dan bertapa di mulut goa. Menjelmalah kau dalam sebuah pisau bersinar dan siap mengabdi.
     “Alhamdulillah, akhirnya dapat juga pusaka ini,” kata lelaki tua saat itu. Kamu pun tersenyum tatkala lelaki itu sembah sungkem. Lantas kerjasama pun dibuat, dalam arti kinerja saling membutuhkan.
     “Benar, kan?”
     Tuh, kamu tertawa karena apa yang kukatakan adalah benar alias fakta.
Maka jangan kira aku tak tahu tentang pisau itu. Bukan patah atau hilang menjadi sampah, melainkan pisau itu telah dimakan oleh lelaki itu. Memang maunya kamu punya wadah atau tubuh yang lebih elegan. Sebab jika terus di pisau itu tentu kurang leluasa alias agak kaku untuk memperdaya umat. Kamu bisa juga disebut siluman sih, siluman yang perlu cangkang. Ya, cangkangnya tubuh lelaki itu.
     Satu hal yang paling memuakkan, tubuh yang kau rasuki itu adalah tubuh mertua saya. Sekali lagi, mertua saya!
     “Duh Gusti, Ya Allah, dia itu mertua saya. Mertua Saya!”
      “Aauww…!”
Tahan goblog! Sesekali tahan dong, dengan hanya sekali menyebut nama Allah saja kamu sudah panik dan kesakitan. Padahal itu pun cuma bisik di hati. Tapi kenapa tatkala seorang koruptor bersumpah di pengadilan dengan mulutnya berteriak “Allahu Akbar” kamu malah tenang-tenang saja. Malah saya lihat kamu makin setia dengannya. Dasar penjilat kau, ah!
     Maka selanjutnya kau harus diam, tak perlu komentar apalagi mendebati saya. Sebab apa pun reka kata yang kau ucapkan, tak bakal membuatmu menjadi mahluk yang sempurna. Jika sudah terkutuk, ya tetap terkutuk!
***
      Memang sesama manusia harus saling menghormati. Terlebih pada orang tua, dalam hal ini termasuk mertua. Tapi untuk mertuaku, tidak! Tapi awas jangan salah tafsir, jika selama ini saya ingin membunuh mertua itu. Mertua yang lelaki itu, yang telah membuat istrinya manut. Dan kemanutannya itu otomatis jadi sesamanya. Menjadi kembarannya. Malah, karena telah menelan pisau itu maka menjadi wadah setanlah mereka. Itulah sebabnya saya ingin membunuh mereka, membunuh lakunya. Sebab kalau tak dibunuh kelakuannya, celakalah keduanya.
     Memang mertuaku bukan pemangku negeri berdasi. Hidupnya tak bermobil, tak bermotor, bahkan sepeda pun tak pernah punya. Rumahnya bukan gedung bertingkat, bukan pula gedung biasa yang normal pada umumnya. Rumah mertua hanya tembok usang berdinding tebal tanpa semen. Namun yang bertingkat dan menjulang adalah kerajaan angkaranya. Setidaknya itu menurut saya sebagai menantunya.
Jujur saja, secara umum memang tak mencolok apa-apa yang saya tudingkan. Saat Jum’at kliwon atau Rebo Wage, tak tercium bakar kemenyan. Pun di dalam ruangan atau sudut kamar sempit, tak tampak bubur hitam-putih dan kembang setaji.
      “Itu bukan zamannya,” begitu secara tak sengaja suatu saat mereka berujar. Memang saya angguki, tapi bukan berarti percaya tanpa kelainan dalam hidupnya. Toh pelit dan kejam pada anak-cucu, bukankah itu pun suatu kelainan?
.     Mohon dicatat, yang bicara di sini adalah aku. Seorang menantu dari mertuaku. Yang entah stress atau apa di otakku, tiba-tiba tanpa sengaja mampu merekam keganjilan-keganjilan itu. Anehnya keganjilan-keganjilan itu telah membuat sepasang suami-istri gaek itu awet jaya. Kukatakan jaya, selain gampang beli tanah-kebun, herannya tak pernah mengalami sakit. Yang ada paling cuma pura-pura sakit.
Kendati tak memuja Buta Ijo, setan ipri atau Nyai Blorong, saya berani menuduh bahwa kehidupan mertuaku memakan tumbal. Gelagat itu terbaca setelah fakta demi fakta terus bicara, termasuk dengan setan/iblis yang saat ini dekat kita dan kusuruh diam dulu.
     Sebenarnya aku tak mengalami ketika Kang Karsum –kakak iparku, saat meninggal dulu. Sebab saat itu aku masih kecil dan belum jadi menantunya mereka. Yang saya alami saat-saat menjelang kematian Ceu Warsoh, kakak iparku yang kedua. Dia sakit keras setelah sebelumnya dicaci-maki oleh ibu-bapaknya alasan minta pinjam beras. Padahal lebih dari wajar jika Ceu Warsoh –yang lama menjadi janda, minta pinjam atau diberi barang dua liter beras atau lebih pun, sebab setiap panen tak kurang bepuluh ton gabah kering didapat mertua.
     “Ita..pulanglah kamu, karena nenek dan kakek lagi tak punya uang, relakan gajimu untuk membayar biaya perawatan rumah sakit,” kata mertua istri via telepon yang diangguki mertua lelaki kala itu. Heran,padahal tabungan mereka di BRI hasil penjualan gabah puluhan juta.
Dan meninggalah Ceu Warsoh, anak kedua dari mertuaku.
      Bagaimana Ceu Imas, kakak iparku yang ketiga? Apakah akan menjadi korbannya? Memang nyawanya tidak, tapi rumahtangganya yang sudah berjalan hampir 20 tahun dengan kang Hadi dan telah dikarunia satu anak perawan, tiba-tiba berantakkan. Ceu Imas berbuat serong hingga berujung perceraian.
***
      Ita, anaknya Ceu Warsoh berhenti jadi pembantu rumahtangga karena dilarang nenek-kakeknya. “Percuma jadi babu gajinya tak mampu untuk membeli sawah-kebun,” katanya. Seperti dalam dongeng, ada-ada saja alasan untuk membuat cucunya itu tersiksa. Tak sekedar disebut pemalas, hal sepele model boros sabun mandi pun kerap jadi masalah. Ita sering disiksa, digebuk kayu bakar. Yang fatal dan gila, tega-teganya seorang kakek meludahi kemaluan cucunya setelah sebelumnya menjambret handuk gadis itu usai mandi. Mending kalau di kamar mandi, ini di halaman rumah dan dilihat para tetangga. Bah!
      Setelah kabur ke Jakarta, Ita pun menikah dengan orang Cilegon. Bibi-Mamang, adiknya bapak kerap mewanti agar hasil tanah warisan yang 20 juta itu segera diberikan pada Ita. “Ini sekedar mengingatkan janji Akang, uang itu akan diberikan jika Ita menikah,” begitu kata Bi Jumsih, adiknya bapak. Bukan tanpa alasan, sebab Ita sudah bulat ingin menetap dan bikin rumah di Citangkil, Cilegon daerah suaminya. Namun lelaki itu tak juga menunaikan janjinya, sekalipun Ita kerap bolak-balik memintanya tak secara langsung.
     Saat Ceu Imas hajatan menikahkan gadis semata wayangnya, tiba-tiba terjadi kisruh. Biangkeroknya siapa lagi kalau bukan lelaki gaek itu. Ita yang datang jauh-jauh dari Cilegon bersama suami dan satu anaknya yang masih bayi disambut caci-maki di depan para tamu undangan. Karuan saja irama pongdut yang sengaja menghibur di panggung pun sempat berhenti beberapa saat.
      Saya terus merekam keganjilan demi keganjilan itu. Watak mertuaku yang pelit dan galak pada Ita, anehnya tak berkutik tatkala diketahui Ceu Imas nyeleweng dengan menantunya. “Biarlah, soal itu semua tiada yang anti,” katanya tanpa malu. Padahal jinah, apalagi antara mertua dan menantu seperti yang dialami Ceu Imas, bukankah itu seperti binatang?
      “Sudahlah, itu lupakan saja!” tegas kedua mertuaku, “Yang kita pikir mengenai Si Ita. Tak cuma 20 juta, sebagai rasa bersalah saya selama ini akan tambahkan 10 juta, jadi dengan 30 juta semoga bisa buat nambah modal hidup di Citangkil sana.”
       Tangis bahagia begitu kentara di wajah Ita. Begitu pun di wajah kedua mertuaku. Bahkan lelaki itu sampai tertawa terbahak ketika sore hari didengar bus Patas jurusan Pangandaran-Merak terguling di tanjakan Nagreg.
      Dan aku yakin, lelaki yang tertawa itu bukan mertuaku yang sejujurnya. Melainkan kamu, ruh jahat yang mendiami pisau itu!(*)
       (Pangandaran, 17 September 2013)

2 Juli 2015

Kampung Toke

Cerpen Otang K.Baddy ( Pikiran Rakyat 9 Juni 2013 )

      Entah kenapa tiba-tiba kampung itu dijuluki kampung toke. Aku tak tahu pasti selain hanya menggangguk atau mengiyakan jika seseorang bertanya di mana tepatnya aku tinggal. “Oh, dari Kampung Tokek itu ya?” demikianlah orang di luar desa atau bahkan sampai di luar kabupten menyebut nama lain kampungku. Dan memang meski tak tertera di KTP atau data wilayah, Kampung Tokek lebih populer di banding nama aslinya Kampung Rawung.
      “Jika kelak mau berumah tangga, awas, jangan beristri dari Kampung Toke,” kata nenekku ketika saat itu aku masih kelas V SD. Tak sedikit pun aku mengomentari atau bertanya kenapa atau ada apa dengan Kampung Toke. Toh omongan soal beristri –apalagi perkara berumah tangga—itu pun sudah termasuk berlebihan dilontarkan padaku yang masih polos kala itu. Tapi melihat aku bergeming malah nenekku tampak cemas dan berkata, “Itu pun jika tak mau bernasib seperti ayahmu yang sering tergigit toke, bahkan sampai kepergiannya.”
      Tetap saja aku tak tertarik dan tak mengerti tentang apa yang dipesankan nenekku, bahkan sampai kepergian ibunya ayah itu. Memang benar ayah beristrikan ibu itu berasal dari Kampung Rawung alias Kampung Toke. Kampung tetangga, masih satu desa. Namun, seingatku kepergian ayah yang lebih dulu dari nenek itu bersumber dari penyakit asmanya yang akut dan tak kunjung sembuh. Jadi bukan tergigit mahluk bernama toke.
**
      Maka menikahlah aku dengan seorang istri dari Kampung Toke. Tak berpikir dari orang mana aku harus berjodoh. Sesuai harapan dan keyakinan, yang namanya jodoh –kendati dibebaskan memilih, hakikatnya tetap Tuhan yang ngatur. Jadi apa yang telah datang dan menimpa, termasuk beristrikan dari Kampung Toke itu, kuterima sebagai rahmat dan anugerah yang perlu disyukuri.
      Sebagai kesepakatan kedua pihak aku pun netap di Kampung Toke, tempat semula istriku tinggal dan dilahirkan. Sebagaimana umumnya masyarakat tani kami pun ikut bertani. Membuka ladang, menggarap sawah dan menanam palawija. Hidup terasa rukun, suasana adem-ayem, bahkan sampai beranak dua. Mungkin semua terjadi karena pernikahan kami di samping jodoh yang kuat, juga berkat do’a mertua yang tampak begitu cocok atas kehadiranku sebagai menantunya. Terlebih setiap sebulan sekali, kami tak menolak jika beliau minta dibuatkan bubur dua warna, yang katanya sebagai bakti anak pada orang tua. Dan Sejujurnya aku tak pernah digigit mahluk yang bernama toke. Begitu pun yang lain di kampung itu, entahlah, belum satu pun aku melihat orang yang tengah digigit toke, terlebih sampai meninggal.
**
       Dan isyu tentang toke itu mendadak santer jadi perbincangan dari mulut ke mulut. Harga satu ekor bisa mencapai puluhan juta lebih, bahkan ada yang berani menukarnya dengan sepeda motor yang masih gresh. Dan tentu saja Kampung Toke jadi fokus utama sebelum lainnya bagi para penggila toke. Tak sedikit mereka yang datang dari luar kampung, luar desa, bahkan ada yang luar kabupaten. Lalu terbetik di benakku, mungkin inilah jawaban atas julukan tentang Kampung Toke. Julukan sebelum datangnya suatu fakta. Seperti ada yang menafsirkan Tasik yang berarti ‘keusik’, semuanya gelap sebelum terjawab dengan letusan Galunggung dan huru-hara pasir besi. Demikian juga dengan julukan kampungku, Kampung Toke, yang ternyata (entahlah) tiba-tiba menjadi ramai suara toke.
       Di hampir setiap rumah, tunggul kayu dan tebing batu toke-toke itu tiba-tiba banyak berada. Setiap malam, pagi dan sore, selalu ramai berbunyi, saling bersahutan satu sama lainnya. Tokkee…tokee..tokkee..!
Tapi para pemburu toke itu tampak kecewa atas buruannya. Toke-toke yang ditemukan di tempat ini tak sesuai dengan apa yang diharapkan. Ukurannya kecil-kecil alias umum. Sedang yang dibutuhkan mereka toke yang berukuran besar, antara satu sampai dua kilogram.
     “Ini bukan main-main, yang dua kilogram bisa mencapai ratus-jutaan, bahkan bisa ditukar dengan mobil sekelas avanza,” kata seseorang dalam suatu kerumunan. Namun sampai beberapa hari, minggu, bulan, jenis toke yang dicari itu tak juga ditemukan. Dan orang-orang jadinya –terlebih aku—tak merasa tergiur. Sebab itu suatu yang mustahil. Jangankan yang satu kilogram, untuk ukuran enam-tujuh ons pun tak ada. Berat toke umumnya tak jauh dari 3-4 ons. Dan seumpama ada tentu itu bukan toke biasa, melainkan namanya toke ajaib yang berada di negeri dongeng.
      Dan isyu toke berharga jutaan pun lenyap. Yang ada cuma pemburu toke biasa dari luar kampung yang konon dijual seribu perak per ekor. Masyarakat pribumi tak sedikit pun tertarik, dan membiarkan toke-toke itu perlahan hilang dan suaranya jarang terdengar lagi. Kampung Toke jadi sepi.
**
      Mas Parman –selanjutnya Wa Kaman (mengakrabkan panggilan buat anakku pada Uwaknya, beliau orang Jatim yang menikahi Oyoh-- kakak iparku) tiba-tiba sakit. Perutnya mengembung bak busung lapar. Aneh, padahal ia tak pernah lapar. Wa Kaman termasuk rajin bekerja. Terlebih sejak ter-PHK di pabrik pakan unggas di Cileungsi Bogor, ia membulatkan tekadnya untuk hidup bertani di Kampung Toke, menggarap sawah-ladang pemberian mertuanya –yang juga mertuaku. Dengan hasil panen yang luamayan jadi ia jauh dari yang namanya kelaparan.
     Berkat hasil jual tanah warisan dari Jatim dan sedikit uang pesanggon kala itu, ia mampu membeli sebidang tanah untuk kemudian dibangun rumah tembok alakadarnya, oramg kampung menyebutnya’balong saat’.
      Dalam sakitnya Wa Kaman mengeluh bahwa perutnya terasa bak ditusuk-tusuk benda tajam. Beberapa kali ke dokter, juga dengan cara obat kampung, tak ada yang mempan. Hingga lahir kesimpulan, jalan terakhir untuk mengatasi semuanya harus dengan cara ‘melek’. Satu solusi yang dipesankan Romo Kandang -- julukan almarhum Mustofa, ayahnya Wa Kaman, atas kecerdikannya saat perang kemerdekaan melawan Belanda. yakni dengan laku tak tidur. Sebagai kerabat, aku merasa berdosa jika tak menunaikan tugas untuk menemaninya.
     Dengan berbekal air putih, kami pun melek.
     Pada malam pertama tak ada isyarat apa-apa. Hanya sakit di perut yang dikata bak ditusuk-tusuk itu katanya agak berkurang.
     Malam kedua, yang diduga akan lebih aman, malah sebaliknya. Sekira pukul 10 malam, Perut Wak Kaman sakitnya menjadi-jadi, bahkan saking tak tahannya sampai ia berjungkir-balik di lantai. Karena panik yang membucah, atas permintaan Ceu Oyoh –istrinya Wa Kaman, saya meng-sms salah satu keluarganya di Magetan, Kuceritakan semuanya, termasuk soal lelaku ‘melek’ itu. Sesuatu yang tak terduga sekaligus mencengangkan, “Coba periksa, apakah di bawah jam dinding itu ada seekor toke?” kata Mas Samin di sms itu. Dan.. jiah!, mahluk predator berkulit kasar seperti hiu itu, bak tergertak seketika nelusup ke balik jam dinding.
      “Gebuk dengan sapu lidi, tapi jangan sampai mati” sms dari Mas Samin kemudian.
Karena takut jam dinding terjatuh, meski tak telak aku berhasil memukul dua kali dengan sapu lidi, sebelum kemudian toke itu menyelamatkan diri masuk lobang langit-langit. Aneh, Wa Kaman sakitnya langsung sembuh. Paginya seorang lelaki, tetangga terdekat, tiba-tiba menjenguk Wa Kaman seraya mengucap syukur atas kesembuhan sakit perut itu.
      “Penyakait zaman kini memang aneh-aneh. Termasuk saya, tiba-tiba tulang-tulang ini semalam terasa remuk,” ujar lelaki itu seraya meringis menahan sakit. Lantas menyalami Wa Kaman dan berharap sakit tulangnya segera sembuh.
     Apa kaitannya dengan toke itu, kami segera menebak-nebak. Kabar dari mertua, lelaki itu sebelumnya mewanti agar tanah itu dijual pada dirinya. Kepalang SPPT-nya nempel, katanya. Permintaan itu sering dilontarkan pada Tisno –anak si empunya tanah, yang meninggal setelah sebelumnya sakit perut dan didampingi toke. Tapi sang mertua segera menggalangnya, sebelum kemudian dibayar Wa Kaman.
      Terpikir itu aku jadi teringat omongan nenek tentang nasib ayah. Secara medis memang menderita asma yang akut. Namun di balik itu ada cerita lain, mungkin ayah selalu menolak untuk menerima paham yang dianut mertuanya. Yakni setiap Selasa kliwon harus mengadakan ritual di kamar khusus, dengan sesaji bubur merah-bubur putih. Tapi apakah nyambung jika dikaitkan dengan toke-toke itu? Entahlah.**@
(Pesisir Kidul, akhir Mei 2013)


*Otang K.Baddy –nama feba dari Otang Komaludin. Menulis cerpen dan puisi, tinggal di Pangandaran.

No rek BRI: 4016-01-001033-50-2 A/n: Otang Komaludin
Hp: 082130928552
e-mail: otangk234@gmail.com





23 Mei 2015

Manusia Berbulu

(Cerpen Otang K.Baddy/Pikiran Rakyat 20 Januari 2013)

Sebagai manusia berbulu, tak sepatutnya kamu menaruh dendam padaku. Kendati demi keimanan boleh lapar atau demi kehormatan boleh miskin, namun istilah itu tak kena jika kamu terapkan. Malah teramat janggal. Sebab iman dan hormat pun kamu sudah tak punya.

Makanya jangan macam-macam.

Kamu harus diam. Seperti diamnya wanita gila atau mereka yang terpedaya dalam dekapmu. Terkesima, mungkin saja. Atau bisa saja mereka itu terlena dibalik kata-kata berbunga, yang mengalir indah bak sungai di taman nirwana. Indah dalam angan yang mengawang karena kebutaan cinta, sebaliknya bagiku itu sesuatu yang menyebalkan.

Namun sebelumnya sangat berdosa jika aku tega membiarkanmu dalam rana. Sementara kubuang tentang fakta karmamu yang berhembus dari bibir dan lidah sekitar kita. Pandangan mereka yang jujur, sorak dan tepuk tangan dibalik cibiran itu, telah kamu rasakan sebagai sayatan sembilu.

“Benar-benar pediih!” pekikmu seraya mengelus dada yang berbulu. Seharusnya kamu sadar, apa-apa yang telah kamu rasakan pilu itu, merupakan sebab-akibat dari keliaran nafsumu sebagai mahluk berbulu.

Mungkin karena kepiawaianmu, bulu-bulu di sekujur tubuh yang kasar bak duri-duri itu bisa tersulap halus dan lembut. Kamu memang kadang pandai menjaga penampilan.

Tapi jangan kira aku buta dan melihat seekor kucing berbulu halus saat aku kerap menolongmu dari pilu. Juga tak melihat berbulu domba ketika kadang mengamankanmu dari ancaman luar yang mamatikan. Kerap menolongmu, bukan atas panggilan jiwa semata, melainkan hanya sebatas teman, rekan kerja, disamping juga sebagai tetangga. Bukankah selain keluarga dan yang jauh lainnya harus menolong tetangga dulu?

Pun aku melihatmu sebagai manusia. Bukan sebagai kera di cagar wisata, yang kerap berkedip binal dimana melihat pengunjung wanita.

Memang kamu lelaki dengan kulit berbulu. Saat bulu-bulumu kasar, tak sedikit yang menyebutmu mirip celeng. Kendatipun suka makan cacing hidup-hidup --usai mencarinya di tanah basah, bukan berarti menunjukan diri sebagi hewan musuh petani. Bukan pula hewan sebaya yang dagingnya sempat diisyukan sebagai campuran baso itu. Ulah itu sekedar mengobati penyakit typhus-mu, yang dipercayai orang kampung saat tak mampu pergi ke dokter.

Tubuhmu yang kekar, serta otot-otot yang kencang menyembul, tak berlebihan jika ada yang menganggapmu jawara pilih tanding. Kendati olah-ragamu bukan arahan koni, namun sebagai pemanggul semen dan pengaduk pasir dalam kuli bangunan, telah mampu membentuk karakter tubuhmu yang tangguh.

Namun keperkasaan tubuh itu tak mampu menjadikanmu seorang pemimpin. Bukan pemimpin macam presiden-gubernur-bupati atau ketua partai. Jauh tanah ke langit, tahyul sekilas pun dunia macam itu –sekalipun ketua RT, bagimu tak tersirat. Hal sekecil apa pun positif kepifiguranmu seakan tak ada.

Rumahtanggamu yang kacau, pertanda perkasamu tak sebanding dengan jiwamu yang lembek. Bohong besar, jika dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Pun pada suatu negara yang megah dengan mercusuar, ternyata di dalamnya sangat brobrok dan korup. Apa lagi kamu. Jangankan memangku keluarga, memimpin diri sendiri pun kadang masih labil.

Tapi kamu mengelus dada manakala ada yang menyebut dukamu adalah karmamu. Siapa mau menebar angin di situlah badai tertuai. Pisau atau seribu sembilu yang dirasa menyayat ulu hati, tiada lain dan tiada bukan adalah ulah-ulahmu yang bak berpisau-sembilu, menghunus-menyayat lain orang sebelumnya.

Istrimu kedua kalinya kini jadi tkw. Keempat anakmu tak terurus, menangis dan lapar tetap jadi beban mertuamu yang hampir lansia. Tapi aneh, kamu bilang istri dan mertuamu sama gilanya; “Dia tak menyayangi saya sebagai suami. Pun mertua yang wanita itu, terakhir ini kerap ngadat dan marah-marah pada saya. Ini benar-benar konyol!” sesalmu setengah mengambang.

“Hihihi..huhuhu…huhuy..!”

Hai tunggu dulu, tawa itu bukanlah melucu. Jika tak mau dikatakan sinis, boleh jadi sebagai bentuk protes atas pikiranmu yang pilon. Betapa tidak, kepergian istrimu menjadi tkw, baik saat pertama maupun yang kedua, adalah tersebab keliaran nafsumu yang telah melahirkan duri, jarum, pisau maupun sembilu di hatinya. Juga di hati atau jiwa sang mertua yang wanita itu , sama saja telah kamu sakitkan.

Seakan meratapi nasib, kamu terdiam. Ada isak di sana. Tangismu yang tersedu, tak ubah bocah dikekang jajan, adalah sandiwara klasikmu yang menjemukan. Seketika laga duplikasi Macho dan jawaramu lenyap. Jam terbang gentayang, aura kasihmu redup sampai kuyup. Lagu pilu yang terasingkan, bak pestamu telah kabur ke angkasa luar. Perumpamaan itu timbul manakala kantongmu kering tanpa ampun. Lantas seperti biasa minta belas kasihku. Wew!

Kamu tak mampu menghitung, seberapa jauh nafsu liarmu yang terasakan. Dibalik kekonyolan itu kamu bilang: “Saat aqil baliq itulah kenormalanku terlahir, lantas berkembang dengan suka cita,” akumu. Di saat para sebaya masih malu-malu, sementara kamu itu telah punya keberanian.

Bahkan, dalam dahaga-lapar, kamu sampai tega menerkam seorang nenek yang tengah buang hajat di pematang. Bukan abnormal, dan lebih dari sekedar manusia normal, ketimbang si Dodo yang berani-beraninya mencumbui seekor ayam betina, katamu membusungkan dada.

Walau lakumu pada akhirnya menjijikan, namun dongeng-dongengmu kadang membuatku terpana . Kisah kasmaran di kebutaan cinta dalam petualangmu, telah meluluh lantakan kesahajaanku sebagai penghamba yang alim. Puber keduaku yang layu terimbas moneter, seketika menggeliat hijau bak tanaman tersiram hujan.

Namun jangan tuduh aku segilamu. Sebab, apa yang telah kulakukan bukan suatu kecerobohan seperti saat lapar dan hausmu. Tidak. Melainkan ulah itu lebih disebabkan pada timbal balik atas kebaikanku yang kerap membantumu dalam rana.

Kesepian, dibalik kata itulah kamu kerap berlindung. Padahal siapa yang mau percaya, saat keberadaan atau ketiadaan istrimu, ulahmu tetap sama. Seperti binatang. Bahkan bulu-bulu yang kian halus itu seolah menunjukan identitasmu sebagai binatang liar. Betapa tidak, buktinya kamu senang menyesap darah serta melahap daging-daging mentah itu.

Kehausanmu memang tak pandang bulu. Selain tega memangsa kaum lansia yang uzur, kakak ipar dan mertuamu pun tak luput dari bayang-bayang taringmu.

Namun aku tak berani istigfar saat menyimak lakumu melebihi kewajaran binatang liar. Baik yang mamalia atau pun melata, semua tetap sama dengan lakumu yang gila. Bayangkan, saat senja meremang kamu keluar melenggang seperti macan. Matamu yang tajam dan jelalatan bagai ular, telah lihai mencuri kesempatan. Entah sudah berapa puluh --atau malah ratus--pintu kedai daging yang telah kamu sambangi. Bangga atas biadabmu yang tak mampu menghitungnya, membuatku muak.

Di remang senja menua. Saat para pemilik daging tengah menunaikan magrib dan berwirid di masjid, di situlah kamu beraksi.

Tak sekedar lebay, gigimu ompongmu terkesan seperti balita yang gemar menyusu. Di sela lidah menyesap asi, gusi nakalmu kadang menggigit. Tak heran, jika tak menggelinjang kadang si ibu itu tak kuasa menjerit menahan sakit. Gaya balitamu yang trauma, menangis nyaring, seakan semerindukan ibu yang lain.

Binatang terliar sekalipun tak mampu menandingimu. Aksimu lebih jahat, meresahkan dan menjijikan bagai tai cecurut. Meloncat dari jendela ke jendela, mencuri yang ras maupun abu-abu. Tak ada puasnya dari mulai tetangga terdekat sampai merambah ke desa luar.

**

Maka huru-hara itu pun terjadi.

Si jago merah melalap gubukmu. Ratusan massa yang tergabung dari para pedaging yang dirugikan itu kalap. Dan mereka bersorak, manakala di bara api itu tampak sesosok tubuh menggelepar-gelepar terbakar.

“Mampuslah kamu musang…!”

“Musnahlah kamu buayaa…..!”

“Rasakan itu kembang nerakamu, setaann…!”

“Merdeka..! Merdekaaa…!”

Begitulah. Seakan merayakan kemenangan, mereka menari mengitari api membara malam itu. Dan perlahan mereka pun bubar, seiring dengan bau hangus tak sedap yang menguar.

Huru-hara yang konyol, begitulah aku pikir. Sebab peristiwa tragis itu tak mampu melumatkanmu. Saat tampangmu berubah cecurut yang penuh luka bakar, kesigapanku telah mampu melemparkanmu ke kolong ranjang. Itu kulakukan demi keselamatanmu dari maut. Sementara tubuh yang terbakar habis itu adalah seorang wanita gila, mangsamu yang diseret dari dekat pos ronda.

Perjuangan untukmu tak sampai di situ. Deritamu yang tak kunjung usai , telah membuatku banyak berkorban. Tak cuma tenaga, harta dan pikiran, istriku pun tanpa sengaja telah kupersembahkan padamu.

Maka tak perlu macam-macan, jika diketahui bahwa selain dengan mertuamu aku pun sering mengencani istrimu(*)

17 Mei 2015

Parang

(Cerpen Otang K.Baddy/Pikiran Rakyat 11 November 2012)
Ternyata kamu pun jadi menyukai yang namanya parang. Bahkan kamu mengenalnya lebih jauh ketimbang aku seorang petani, perambah hutan. Misal jika gagang parang itu rusak, kamu segera menggantinya dengan kayu pilihan. Nyaris tak percaya ketika malam menjelang tidur, atau bangun sebelum fajar, suara khas bak tukang mebel kreatif terdengar jelas dari luar. Bunyi gergaji, suara ketukan palu. Gruk..gruuk..trak-trak-trak. Ternyata kamu tengah mendandani beberapa gagang parang itu. Pun jika mata benda itu berkarat, tumpul tanpa ampun, kamu segera mengasahnya dengan telaten.

Ah, perubahan drastis yang memilukan, begitu aku pikir. Seperti suatu lelucon dan janggal. Betapa tidak. Malam-malam menjelang tidur, saat bangun pagi buta, sebelumnya celah kosong itu kerap kamu isi kegiatan sepadan yang elegan. Kalau tak menyulam benang sutra, sebagai wanita telaten setidaknya memilah, mengistrika, melipat rapi kain jemuran sebelum masuk lemari. Bukan parang, serupa benda keras alat perang.

Namun, dibalik perubahanmu yang transparan itu telah membuatku manggut-manggut.
Kendati tak berani mengatakan puas. Mungkin semua itu berkat rinduku yang terkabulkan, yang senantiasa tak bosan ingin selalu dekat denganmu. Kepergianmu tanpa ampun lebih dari satu dasawarsa dan menetap bersama suamimu di kota hujan, sungguh membuatku tersiksa dan berandai-andai. Terbersit pikiran kotor, mau menyambangi dan berkencan seharian saat suamimu kerja. Sejuta jurus alasan cinta telah kupersiapakan. Pertemuan yang asyik, rindu yang berpagut, tak akan gerah jika ada bola mata melihat.

Bukan apa-apa. Dan tak berbuat apa-apa. Kedatanganku dari kampung semata-mata hanya urusan keluarga. Tak lebih dari itu. Titik! Begitulah jiga ada jiwa terasuk tanya.

“Begini Pak RT, karena ikan gurame sekolam itu masih kecil-kecil, sehingga kalau dipanen terlalu dini tentu harganya tak memadai. Sedangkan operasi tumor ganas bapak mertua sudah tak dapat ditunda lagi,” ujarku dengan ramah dan diplomatis. Pak RT setempat hanya manggut-manggut. Malah ia pun jadi ikut prihatin, serta turut mendoakan semoga semuanya berjalan lancar. Terutama pihak rumahsakit jangan sampai menekan biaya yang tinggi, katanya.

Waduh, itu hanya andai-andai dalam kembara cinta. Saat kerinduan tak terlampiaskan, merana merangkai kata dalam kasih yang mengawang. Kehadiran Pak RT, operasi tumor ganas mertua dan lainnya hanyalah fiktif belaka.

Sempat aku terhenyak saat kamu bilang tak terpikirkan untuk pulang. Buat apa tinggal di kampung, rasanya tak sudi mandi keringat di ladang atau berlumpur di tengah sawah. Keringat atau lumpur bagimu bak sesuatu yang menjijikan. Bau, katamu. Namun aku membayangkan, bau apa pun keringat atau dakimu dampak lumpur, tak akan menolaknya jika kamu suruh aku membersihkan atau menyekanya.

Dunia memang berputar. Perumpamaan hidup yang terus berubah. Gaji suamimu yang memadai sebagai pengawas merangkap teknisi di perusahaan pakan unggas, yang sempat kamu banggakan, seketika terputus saat gejolak moneter mewarnai negeri kita. Setelah kena PHK dan sedikit pesanggon –kala itu, rumahtanggamu clengak-clinguk. Hingga timbul keputusan untuk pulang kampung bersama suamimu yang orang Jatim. Untung Kang Mas itu tak merasa gengsi kendati harus hidup bertani. Mengurus sawah atau berladang di tanah pemberian orang tuamu.

Hari-hari Kang Mas tak terpisahkan dengan cangkul, golok dan kelewang. Berpeluh di ladang, berlumpur di sawah. Menebas pepohonan lantoro, membabat rumput ilalang untuk membuka lahan garapan. Membakar belukar kering di lereng bukit, luapan asap dan jilatan si jago merah meraja seharian di tengah garang matahari. Tebaran arang dan debu berhumus itu segera ditanami biji padi dan jagung, selebihnya sayuran sebangsa terong, leunca, dan kacang-kacangan.

Dan sampailah kamu memerankan parang-parang itu. Jika sawah sudah dicocok tanam, demi pertumbuhan benih itu haruslah bebas dari rerumputan. Di sela batang padi yang basah, jika tak punya garok harus dirambet dengan cakaran tangan. Sedang diempat sisi pematang, rumput yang jemros itu harus dibabat dengan parang. Begitu pun di ladang, tanah huma di lereng bukit yang kadang panas, parang-parangmu harus beraksi.

Aku tak tahu pasti, apakah kamu merasa ikhlas seperti suamimu untuk berparang atau berlumpur. Namun saat pertama, kedip mata dan engahan nafasmu tak mampu menyembunyikan keluh. Namun bukanlah suatu kepuasan atas kejatuhanmu seakan ke titik nadir jika dada ini bersorak. Bukan. Sekali lagi bukan soal itu. Namun kelainan itu adalah debar, atau lebay karena aku tak akan sulit jika mau bersua denganmu.

Hari-harimu, hari-hariku juga. Hari-hari kita yang sama. Berpeluh, berlumpur. Di tengah sawah, di tengah ladang, juga saat-saat menyabit rumput ilalang. Hidup bertani, pelihara sapi, kendati kadang rerumputan mengering saat kemarau menyerang. Kita sama-sama riang meski dalam suasana kantong kering.

Karena kebersamaan tanpa batas, saat senggang melenggang di luar batas kekeluargaan, orang-orang sering menganggamu sebagai istriku. Namun aku tak mendengar jika Kang Mas-mu adalah tulen suami istriku. Mungkin Kang Masmu terlalu suntuk bekerja di ladang, sehingga dadanya tak punya debar tatkala jumpa dengan istriku. Hatinya yang shaleh telah tertanam prinsif; bahwa semua wanita itu sama. Apalagi wanita ini masih saudara kembar, buat apa jika harus berlaku binatang?

Raut wajah, keringat dan dakinya, benar-benar sama. Kulit mukanya yang sedikit putih tersebabkan sebelumnya yang jarang kepanasan. Selebihnya seperti kentut. Seperti istriku. Sama-sama baunya. Kesemua itu mungkin karena aku telah sering menyeka peluh dan menyentuh dakinya. Saat hari-hari senggang, dan malam-malam yang lengang. Saat mimpi kasih itu tak cuma mengawang dengan rangkaian kata-kata.

***

Tanpa terasa kebersamaan setelah kepulanganmu dari kota hujan sudah mencapai 15 taun. Mungkin dari watak kembar yang konon tak ingin dibedakan, kita sama-sama telah mempunyai anak tiga. Bedanya anakmu yang sulung perempuan, duanya lagi laki-laki. Sedang aku sebaliknya, sulung laki-laki, dua selanjutnya perempuan.

Seiring waktu dan kemajuan zaman, anak-anak itu tumbuh berkembang. Si sulung yang mulai kuliah, setelah sebelumnya dibelikan laptop kemudian dengan beraninya minta diberi motor. Sedang kedua adiknya yang masing-masing di SMA dan SMP, cukup berpuas diri dengan dipenuhinya jatah pulsa yang rutin.

Karena masalahnya selalu sama, kami pun kerap berembuk. Terutama untuk memenuhi pengadaan sepeda motor itu. Bagi kami permintaan anak yang serentak itu bak suatu langkah di malam yang gelap. Segala solusi kerap berujung buntu di tebing yang terjal. Setelah beberapa kali rembukan yang alot, akhirnya kami memutuskan untuk melelang sapi peliharaan. Dan motor keluaran terakhir pun dibeli secara tunai.

Entahlah, kendati dada ini tak punya debar namun kebersamaanku dengannya masih tetap terpelihara. Cuma iramanya kini berbeda, tak ada lagi getar purba. Kebersamaan selanjutnya bersifat sebagai manusia yang beradab. Istriku, juga kang Mas –suaminya, kami menyatukan diri bersama membentuk kerukunan yang nyata sebagai kekeluargaan. Saling topang dan bersatu padu demi mencapai masa depan yang gemilang.

Seperti konsep sebelumnya, hati ini tak akan gentar jika ada yang usil alasan buah dari kembara cinta. Seperti ada bisik-bisik yang menyebut kedua anakmu mirip sekali dengan wajahku. Sama sekali tak riskan, apalagi harus gugup. Cukup saja kutanggapi dengan santai dan penuh kelakar.

“Wah, itu sesuatu yang alamiah dan wajar. Mirip wajahku kan masih wajah manusia, yang harus dicemaskan bagaimana jika wajah kedua anak itu mirip binatang,” ujarku dengan tertawa.

Namun pada kesempatan lain tiba-tiba dadaku menjadi sempit, ketika mendengar orang-orang yang berisik. Kedua anak perempuanku, katanya mirip sekali dengan wajah Kang Mas. Wajah suami kasihku yang menyukai parang (*)

Kematian Wak Haji Edi

(Cerpen Otang K.Baddy/Pikiran Rakyat 18 Maret 2012)

Entah kenapa kematian Wak Edi tiba-tiba jadi buah bibir. Di warung-warung , di setiap depan rumah, di persimpangan jalan, di perempatan atau pun pertigaan, di sembarang tempat, siang maupun malam seolah tak henti-hetinya dan tak bosan membicarakannya.

Yang paling heboh, katanya Wak Edi yang telah berhaji itu, matinya tidak sempurna. Arwah dan jasadnya tak diterima oleh langit dan bumi. Istilah mulih ke jati pulang ke asal itu tak mengena bagi Wak Edi. Sebab arwah dia mesih penasaran. Masih keluyuran, kerapkali muncul dengan jelmaan-jelmaan. Orang-orang tahu bahwa itu adalah namanya fitnah kubur. Perlakuan setan yang mau meggoyah iman manusia. Tahu itu, namun kalau keadaannya meresahkan apa hendak dikata. Dibilang tak boleh percaya atau jangan terpengaruh bagaimana bisa, sebab fakta di lapangan telah bicara. Banyak sudah orang meninggal di kampung itu, tapi kan tak seperti Wak Edi. Dari hari pertama meninggal sampai empatpuluh hari pun umumnya tak ada apa-apa. Tapi yang satu ini kenapa tiba-tiba jadi gunjingan warga?

Wak Haji Edi meninggal pada malam Rabu, setelah sebulan penuh katanya sakit. Orang bilang bukan penyakit fisik, melainkan penyakit hati. Katanya setiap malam tak bisa tidur, selalu resah dan gelisah. Diduga karena kelelahan, sejak duhur lelaki berusia nyaris 60 tahun itu ketiduran. Sementara istrinya merasa senang karena dalam sebulan penuh merasa khawatir akan penderitaan suaminya itu. Namun kesenangan itu berubah menjadi cemas dan menimbulkan tanda tanya pada istrinya. Kenapa sampai pukul sepuluh malam suaminya itu tak pernah bangun –semisal minta diambilkan air minum atau mengerang melampiaskan kebimbangannya? Oh, tenyata lelaki itu tidur seterusnya. Ia telah menemui ajalnya.

Seperti biasa ada yang meninggal, warga kampung segera ke pemakaman untuk menggali kubur. Namun sebagian orang mendadak kaget tatkala penggalian awal ditemuninya banyak akar menghambat galian.

“Aneh, tak seperti biasanya,” gerutu seseorang, kemudian dihamini oleh yang lain. Lalu timbul decakan-decakan keheranan di mimik mereka. Anehnya, kemunculan beragam akar di tengah ketiadaan pohon. Itulah yang menjadi tanda tanya di benak mereka. Mengingat lokasi di sana telah dipesan keluarga mendiang, penggalian tetap dilanjutkan walau banyak tersendat.

Namun berkat kegigihan dan kerja keras akhirnya liang lahat pun selesai digali. Mayat pun segera dikuburkan. Sebelum para pengantar pulang, tak lupa dipanjatkan doa; penyerahan jasad kepada bumi dan semoga almarhum diterima iman islamnya dan diterima di sisiNya. Amin…

Sebagaimana biasa, selama tujuh hari tahlil pun dijalankan di rumah korban. Dan kabar-kabar buruk pun muncul di hari berikutnya.

“Stt, Ki Edi matinya tak sempurna,” ujar seorang perempuan tetangganya almarhum pada orang yang ditemuinya, sebelum ditanya ia melanjutkan, “Tadi malam aku melihat dia masuk rumahnya pakai celana pendek.” Mungkin hanya penglihatan saja, ujar seseorang masgul. “Tidak, rupanya pun sangat jelas!”

Sebagian ada yang percaya, sebagian dianggapnya suatu yang mustahil. Bahkan berita itu dianggap angin berlalu, menguap begitu saja. Namun di lain tetangga muncul lagi kabar semacamnya. Malam jum’at, malam ketiga setelah kematiannya, sekitar pukul dua dini hari, seorang lalaki bercelana pendek, berkopiah putih dan nyelendang sarung lewat di jalan depan rumahku ke arah barat, ujar lelaki bernama Muhlis. Ke arah barat –suatu arah menuju rumahnya dari tempat di mana ia dikuburkan. Wajahnya sih kurang jelas karena lampu depan rumah Muhlis agak temaram. Entah pengaruh bangun tidur –karena ingin membuang air kecil—malam itu dirasanya sangat sepi. Siapa ya lelaki agak tua itu?, pikirnya seraya menyibakkan kain gorden di balik kaca ruang depan rumahnya. Belum terjawab pertanyaan di benaknya, tiba-tiba lelaki pejalan kaki tadi itu muncul kembali dari arah barat. Kepalanya yang berkopiah putih lusuh itu dikerudung sarung, begitulah Muhlis tetangga yang masih satu RT bercerita pada orang-orang yang ditemuinya. Mungkinkah lelaki yang berkopiah putih lusuh itu adalah..?

Ada pula yang bergidik mendengar kabar itu, terutama jika kabar itu diumbar malam hari. Namun tak sedikit yang menganggapnya itu suatu isyu atau sekedar bualan. Namun bagi yang percaya, kabar-kabar itu tetap disiarkan dari mulut ke mulut, hingga tanpa sadar menggelinding sampai ke keluarga almarhum. Kendati keluarganya menepis dengan menyebut fitnah dan mengada-ada, tampaknya di pikir mereka pun tak menutup kemungkinan apa yang terjadi. Pasepuh di kampung itu yang anaknya jadi Kadus, segera dihubungi agar mengamankan situasi. Sebelum pergi menyambangi kuburnya, di rumah keluarga almarhum itu segera diadakan ruwat dengan doa-doa. Semua jendela kamar di rumah itu dibukanya lebar-lebar. Perlakuan yang terang-terangan itu karuan saja menarik perhatian warga, terutama para tetangga terdekat. Mereka menyaksikannya dengan setengah mengendap-endap, sembunyi-sembunyi seraya mengumbar bisik. Kabar yang kemudian menyentak dan menambah kepercayaan mereka, menurut informasi secara tidak langsung dari pasepuh dan Kadus, kuburan Wak Haji Edi copong melongpong.Tak ada jasad busuk atau kerangka ditemukan di sana. Tinggal kain kapan semata. Masya Allah, begitu banyak tingkah kematianmu Wak Edi? Begitulah omong-omong warga.

Anehnya, tak ada yang bertanya secara langsung pada pasepuh dan Kadus itu. Misanya, benarkah kakek akan keberadaan kuburan itu? Yakinkah Pak Kadus melihatnya dengan mata kepala sendiri? Tak ada sama sekali. Berita horor agaknya tak ada pembuktian yang jelas alias samar-samar. Pasepuh, pengurus orang yang meninggal, termasuk Pak Kadus, masing-masing diberi sebungkus rokok. Rokok itu dibeli istri almarhum dari warung kopi-nya Zakiah. Masih menurut kabar burung, bungkusan rokok itu sebenarnya bukan mutlak sebagai imbalan bagi pengurus itu, melainkan merupakan suatu syarat meredam si arwah penasaran dimana almarhum semasa hidupnya perokok berat. Entah benak-benak mereka tersugesti atau terinspirasi buat menjamurnya beberapa ilusi menyusul diadakannya sebuah ruwat. Tiba-tiba Zakiah pemilik warung kopi dan gorengan itu, pagi-pagi menyiarkan kabar yang dialaminya menjelang fajar.

Ceritanya, saat tengah menggoreng tempe (gorengan) di celah ventilasi anyaman bambu di depan mata, ia melihat nyala sebatang rokok yang tengah diisap. Namun wudud dari pengisapnya itu tak tampak, sehingga rokok itu bagai di awang-awang. Tak tahan dengan ‘manuver’ itu segera ia membangunkan Manan, suminya. Tatkala Manan keluar, ia meliat sosok lelaki tua sekira sepuluh meter berjalan di keremangan gang. Ia kejar lelaki itu, namun di dekat pohon salak tiba-tiba menghilang. Manan mencurigai sosok itu adalah orang nggak benar, misalnya pencuri malam. Tapi hatinya agak sungkan juga untuk mengejar mencari pembuktian lebih jauh, di samping ada rasa merinding di bulu kuduk. Peristiwa itu sekitar pukul empat kurang, menjelang subuh. Dibenarkan pula oleh tetangga lain yang bernama Juhadi –siempunya rumah setelah pohon salak , di mana ditemui Manan sosok tubuh itu menghilang. Juhadi terbangun tatkala dua anjingnya keras menggonggong tatkala lewat sosok lelaki tua berkopiah haji lusuh dikerudung sarung. Lelaki itu di mata Juhadi berhenti sejenak, lalu melanjutkan langkahnya ke arah timur.

“Kalau begitu sosoknya sama seperti apa yang pernah dilihat Muhlis,ya,” kata seseorang di warung Zakiah.

“Tak disangka Wak Haji, mungkin ia tak tahu arah pulang.”

“Bisa saja, atau mungkin kematiannya tak disadari karena tanpa ada yang menuntun kalimah toyibah. Matinya saat tidur. Sedang saat tidut nyawa itu keluar, atau pergi jauh, sedang tatkala nyawa hendak masuk tak bisa karena raganya telah dikubur,” sambung yang lain.

“Tapi kan alasan kematian itu karena rusaknya sebuah kurungan, sehingga burungnya keluar?”

“Iya sih, memang begitu. Tapi kan semua juga tahu bahwa Haji Edi bukan sakit di raga, dia mengakuinya secara langsung. Penyakit di hati. Ia sakit hati dan penuh rasa malu tatkala beberapa tanah hasil akal-akalannya kembali diambil turunan pemiliknya semula.”

“Wualah, yang benar lur?”

“Iya dong, katanya harta yang dimiliki lelaki yang senang dipanggil haji itu kebanyakan masih riba.”

Begitulah suara-suara miring yang berkembang. Namun gunjingan-gunjingan itu lambat-laun semakin menghilang. Dan tak terasa kematian Wak Haji telah sampai 40 hari. Maka acara tahlil, pembacaan Yasin dan do’a bersama ke 40 hari pun digelar di rumah keluarga almarhum. Sebagaimana umumnya keluarga yang mampu dan kreatif, para warga yang hadir selain diberikan makan dan snack juga dibagikan sovenir berupa Surath Yasin berukuran saku yang di samfulnya terpampang poto almarhum. Lumayan buat mengenang 40 hari wafatnya Wak Haji Edi, katanya.

Namun tiba-tiba warga mendadak geger ketika mendengar jerit histeris seorang perempuan di tengah malam. Perempuan yang masih tetangga almarhum itu tak tahan tatkala melihat foto di samful Yasin itu seakan hidup dengan mata yang mendelik-delik. Masya Allah!(*)