3 Juli 2015

Pisau

Cerpen Otang K.Baddy (Pikiran Rakyat 15 Desember 2013)
     Sebagai pengemban amarah, yang kerap tertawa dan bersorak jika dalam kemenangan. Menjerit bak tersengat bara api sebelum kemudian menguap jika dalam kekalahan, selayaknya kau tetap aku perangi. sebab kamu ini telah jadi musuh nyataku!
      Saya akan terus mengutukmu tanpa batas waktu. Betapa tidak, sebab bujuk rayumu yang selalu menyesatkan bukanlah suatu fitnah, melainkan nyata-nyata sebuah pendosa.
     “Pisau itu sudah tak aku pakai lagi, selain ujungnya sudah patah juga ia sudah berkarat. Jadi kini benda itu sudah tak berfungsi lagi. Sudah tercampak menjadi sampah,” katamu ketika meminjam bibir lelaki tua itu.
Ujungnya patah, berkarat? Tak berfungsi dan tercampak menjadi sampah?
      “Haha…!”
      Hust, jangan bangga. Tawaku ini bukan tawa sebangsamu yang intinya mematikan nurani. Tawa ini adalah sinisme atas kegoblokkan aktingmu yang jelas kentara di depan mataku. Bahkan, jikapun kamu jauh dariku, tetap saja tak akan mampu mengelabuiku dengan berjuta akting. Perlu dicatat dan diingat, mata dan telingaku tak tuli tak buta. Kenapa, ya.. karena yang saya bicarakan di sini adalah fakta. Sekali lagi, fakta!
Makanya saya akan terus mengutukmu. Jauh atau pun dekat bagi kau dan aku bukanlah suatu ukuran. Berperang atau berdebat di area terbuka, di alam nyata maupun maya, dalam artikel opini atau pun fiksi, bagi kau dan aku bukan persoalan. Makanya, setelah perseteruan-perseteruan di berbagai macam ruang dan waktu tanpa usai, dalam sebuah cerpen ini pun saya kamu undang. Dan saya tak khawatir –apalagi cemas, seandaianya cerpen ini tak dimuat PR pun bukankah kita berdua tetap selalu bersitegang?
      Oya, apa yang persoalan kita tadi?
      “Soal pisau yang patah, berkarat, tercampak dan menyampah.”
Iya itu! Kalau dengan orang-orang bloon –yang kebloonannya tentu karenamu, bisa saja omonganmu dipercaya. Tapi jika dengan saya, wualah nol besar. Omonganmu lebih dari ngabla, goblok. Sebaliknya sama saja dengan melegalkan kenyataan bahwa kamu itu seorang penipu yang terkutuk.
     Hei, dengarkan!
     Seandainya benar ujung pisau itu telah patah dan berkarat, tercampak menjadi sampah, itu hanya cangkangnya. Aslinya tidak. Aslinya kan kamu. Yang saat itu berpura-pura jadi dewa penolong ketika seorang lelaki sakit hati dan bertapa di mulut goa. Menjelmalah kau dalam sebuah pisau bersinar dan siap mengabdi.
     “Alhamdulillah, akhirnya dapat juga pusaka ini,” kata lelaki tua saat itu. Kamu pun tersenyum tatkala lelaki itu sembah sungkem. Lantas kerjasama pun dibuat, dalam arti kinerja saling membutuhkan.
     “Benar, kan?”
     Tuh, kamu tertawa karena apa yang kukatakan adalah benar alias fakta.
Maka jangan kira aku tak tahu tentang pisau itu. Bukan patah atau hilang menjadi sampah, melainkan pisau itu telah dimakan oleh lelaki itu. Memang maunya kamu punya wadah atau tubuh yang lebih elegan. Sebab jika terus di pisau itu tentu kurang leluasa alias agak kaku untuk memperdaya umat. Kamu bisa juga disebut siluman sih, siluman yang perlu cangkang. Ya, cangkangnya tubuh lelaki itu.
     Satu hal yang paling memuakkan, tubuh yang kau rasuki itu adalah tubuh mertua saya. Sekali lagi, mertua saya!
     “Duh Gusti, Ya Allah, dia itu mertua saya. Mertua Saya!”
      “Aauww…!”
Tahan goblog! Sesekali tahan dong, dengan hanya sekali menyebut nama Allah saja kamu sudah panik dan kesakitan. Padahal itu pun cuma bisik di hati. Tapi kenapa tatkala seorang koruptor bersumpah di pengadilan dengan mulutnya berteriak “Allahu Akbar” kamu malah tenang-tenang saja. Malah saya lihat kamu makin setia dengannya. Dasar penjilat kau, ah!
     Maka selanjutnya kau harus diam, tak perlu komentar apalagi mendebati saya. Sebab apa pun reka kata yang kau ucapkan, tak bakal membuatmu menjadi mahluk yang sempurna. Jika sudah terkutuk, ya tetap terkutuk!
***
      Memang sesama manusia harus saling menghormati. Terlebih pada orang tua, dalam hal ini termasuk mertua. Tapi untuk mertuaku, tidak! Tapi awas jangan salah tafsir, jika selama ini saya ingin membunuh mertua itu. Mertua yang lelaki itu, yang telah membuat istrinya manut. Dan kemanutannya itu otomatis jadi sesamanya. Menjadi kembarannya. Malah, karena telah menelan pisau itu maka menjadi wadah setanlah mereka. Itulah sebabnya saya ingin membunuh mereka, membunuh lakunya. Sebab kalau tak dibunuh kelakuannya, celakalah keduanya.
     Memang mertuaku bukan pemangku negeri berdasi. Hidupnya tak bermobil, tak bermotor, bahkan sepeda pun tak pernah punya. Rumahnya bukan gedung bertingkat, bukan pula gedung biasa yang normal pada umumnya. Rumah mertua hanya tembok usang berdinding tebal tanpa semen. Namun yang bertingkat dan menjulang adalah kerajaan angkaranya. Setidaknya itu menurut saya sebagai menantunya.
Jujur saja, secara umum memang tak mencolok apa-apa yang saya tudingkan. Saat Jum’at kliwon atau Rebo Wage, tak tercium bakar kemenyan. Pun di dalam ruangan atau sudut kamar sempit, tak tampak bubur hitam-putih dan kembang setaji.
      “Itu bukan zamannya,” begitu secara tak sengaja suatu saat mereka berujar. Memang saya angguki, tapi bukan berarti percaya tanpa kelainan dalam hidupnya. Toh pelit dan kejam pada anak-cucu, bukankah itu pun suatu kelainan?
.     Mohon dicatat, yang bicara di sini adalah aku. Seorang menantu dari mertuaku. Yang entah stress atau apa di otakku, tiba-tiba tanpa sengaja mampu merekam keganjilan-keganjilan itu. Anehnya keganjilan-keganjilan itu telah membuat sepasang suami-istri gaek itu awet jaya. Kukatakan jaya, selain gampang beli tanah-kebun, herannya tak pernah mengalami sakit. Yang ada paling cuma pura-pura sakit.
Kendati tak memuja Buta Ijo, setan ipri atau Nyai Blorong, saya berani menuduh bahwa kehidupan mertuaku memakan tumbal. Gelagat itu terbaca setelah fakta demi fakta terus bicara, termasuk dengan setan/iblis yang saat ini dekat kita dan kusuruh diam dulu.
     Sebenarnya aku tak mengalami ketika Kang Karsum –kakak iparku, saat meninggal dulu. Sebab saat itu aku masih kecil dan belum jadi menantunya mereka. Yang saya alami saat-saat menjelang kematian Ceu Warsoh, kakak iparku yang kedua. Dia sakit keras setelah sebelumnya dicaci-maki oleh ibu-bapaknya alasan minta pinjam beras. Padahal lebih dari wajar jika Ceu Warsoh –yang lama menjadi janda, minta pinjam atau diberi barang dua liter beras atau lebih pun, sebab setiap panen tak kurang bepuluh ton gabah kering didapat mertua.
     “Ita..pulanglah kamu, karena nenek dan kakek lagi tak punya uang, relakan gajimu untuk membayar biaya perawatan rumah sakit,” kata mertua istri via telepon yang diangguki mertua lelaki kala itu. Heran,padahal tabungan mereka di BRI hasil penjualan gabah puluhan juta.
Dan meninggalah Ceu Warsoh, anak kedua dari mertuaku.
      Bagaimana Ceu Imas, kakak iparku yang ketiga? Apakah akan menjadi korbannya? Memang nyawanya tidak, tapi rumahtangganya yang sudah berjalan hampir 20 tahun dengan kang Hadi dan telah dikarunia satu anak perawan, tiba-tiba berantakkan. Ceu Imas berbuat serong hingga berujung perceraian.
***
      Ita, anaknya Ceu Warsoh berhenti jadi pembantu rumahtangga karena dilarang nenek-kakeknya. “Percuma jadi babu gajinya tak mampu untuk membeli sawah-kebun,” katanya. Seperti dalam dongeng, ada-ada saja alasan untuk membuat cucunya itu tersiksa. Tak sekedar disebut pemalas, hal sepele model boros sabun mandi pun kerap jadi masalah. Ita sering disiksa, digebuk kayu bakar. Yang fatal dan gila, tega-teganya seorang kakek meludahi kemaluan cucunya setelah sebelumnya menjambret handuk gadis itu usai mandi. Mending kalau di kamar mandi, ini di halaman rumah dan dilihat para tetangga. Bah!
      Setelah kabur ke Jakarta, Ita pun menikah dengan orang Cilegon. Bibi-Mamang, adiknya bapak kerap mewanti agar hasil tanah warisan yang 20 juta itu segera diberikan pada Ita. “Ini sekedar mengingatkan janji Akang, uang itu akan diberikan jika Ita menikah,” begitu kata Bi Jumsih, adiknya bapak. Bukan tanpa alasan, sebab Ita sudah bulat ingin menetap dan bikin rumah di Citangkil, Cilegon daerah suaminya. Namun lelaki itu tak juga menunaikan janjinya, sekalipun Ita kerap bolak-balik memintanya tak secara langsung.
     Saat Ceu Imas hajatan menikahkan gadis semata wayangnya, tiba-tiba terjadi kisruh. Biangkeroknya siapa lagi kalau bukan lelaki gaek itu. Ita yang datang jauh-jauh dari Cilegon bersama suami dan satu anaknya yang masih bayi disambut caci-maki di depan para tamu undangan. Karuan saja irama pongdut yang sengaja menghibur di panggung pun sempat berhenti beberapa saat.
      Saya terus merekam keganjilan demi keganjilan itu. Watak mertuaku yang pelit dan galak pada Ita, anehnya tak berkutik tatkala diketahui Ceu Imas nyeleweng dengan menantunya. “Biarlah, soal itu semua tiada yang anti,” katanya tanpa malu. Padahal jinah, apalagi antara mertua dan menantu seperti yang dialami Ceu Imas, bukankah itu seperti binatang?
      “Sudahlah, itu lupakan saja!” tegas kedua mertuaku, “Yang kita pikir mengenai Si Ita. Tak cuma 20 juta, sebagai rasa bersalah saya selama ini akan tambahkan 10 juta, jadi dengan 30 juta semoga bisa buat nambah modal hidup di Citangkil sana.”
       Tangis bahagia begitu kentara di wajah Ita. Begitu pun di wajah kedua mertuaku. Bahkan lelaki itu sampai tertawa terbahak ketika sore hari didengar bus Patas jurusan Pangandaran-Merak terguling di tanjakan Nagreg.
      Dan aku yakin, lelaki yang tertawa itu bukan mertuaku yang sejujurnya. Melainkan kamu, ruh jahat yang mendiami pisau itu!(*)
       (Pangandaran, 17 September 2013)

2 Juli 2015

Kampung Toke

Cerpen Otang K.Baddy ( Pikiran Rakyat 9 Juni 2013 )

      Entah kenapa tiba-tiba kampung itu dijuluki kampung toke. Aku tak tahu pasti selain hanya menggangguk atau mengiyakan jika seseorang bertanya di mana tepatnya aku tinggal. “Oh, dari Kampung Tokek itu ya?” demikianlah orang di luar desa atau bahkan sampai di luar kabupten menyebut nama lain kampungku. Dan memang meski tak tertera di KTP atau data wilayah, Kampung Tokek lebih populer di banding nama aslinya Kampung Rawung.
      “Jika kelak mau berumah tangga, awas, jangan beristri dari Kampung Toke,” kata nenekku ketika saat itu aku masih kelas V SD. Tak sedikit pun aku mengomentari atau bertanya kenapa atau ada apa dengan Kampung Toke. Toh omongan soal beristri –apalagi perkara berumah tangga—itu pun sudah termasuk berlebihan dilontarkan padaku yang masih polos kala itu. Tapi melihat aku bergeming malah nenekku tampak cemas dan berkata, “Itu pun jika tak mau bernasib seperti ayahmu yang sering tergigit toke, bahkan sampai kepergiannya.”
      Tetap saja aku tak tertarik dan tak mengerti tentang apa yang dipesankan nenekku, bahkan sampai kepergian ibunya ayah itu. Memang benar ayah beristrikan ibu itu berasal dari Kampung Rawung alias Kampung Toke. Kampung tetangga, masih satu desa. Namun, seingatku kepergian ayah yang lebih dulu dari nenek itu bersumber dari penyakit asmanya yang akut dan tak kunjung sembuh. Jadi bukan tergigit mahluk bernama toke.
**
      Maka menikahlah aku dengan seorang istri dari Kampung Toke. Tak berpikir dari orang mana aku harus berjodoh. Sesuai harapan dan keyakinan, yang namanya jodoh –kendati dibebaskan memilih, hakikatnya tetap Tuhan yang ngatur. Jadi apa yang telah datang dan menimpa, termasuk beristrikan dari Kampung Toke itu, kuterima sebagai rahmat dan anugerah yang perlu disyukuri.
      Sebagai kesepakatan kedua pihak aku pun netap di Kampung Toke, tempat semula istriku tinggal dan dilahirkan. Sebagaimana umumnya masyarakat tani kami pun ikut bertani. Membuka ladang, menggarap sawah dan menanam palawija. Hidup terasa rukun, suasana adem-ayem, bahkan sampai beranak dua. Mungkin semua terjadi karena pernikahan kami di samping jodoh yang kuat, juga berkat do’a mertua yang tampak begitu cocok atas kehadiranku sebagai menantunya. Terlebih setiap sebulan sekali, kami tak menolak jika beliau minta dibuatkan bubur dua warna, yang katanya sebagai bakti anak pada orang tua. Dan Sejujurnya aku tak pernah digigit mahluk yang bernama toke. Begitu pun yang lain di kampung itu, entahlah, belum satu pun aku melihat orang yang tengah digigit toke, terlebih sampai meninggal.
**
       Dan isyu tentang toke itu mendadak santer jadi perbincangan dari mulut ke mulut. Harga satu ekor bisa mencapai puluhan juta lebih, bahkan ada yang berani menukarnya dengan sepeda motor yang masih gresh. Dan tentu saja Kampung Toke jadi fokus utama sebelum lainnya bagi para penggila toke. Tak sedikit mereka yang datang dari luar kampung, luar desa, bahkan ada yang luar kabupaten. Lalu terbetik di benakku, mungkin inilah jawaban atas julukan tentang Kampung Toke. Julukan sebelum datangnya suatu fakta. Seperti ada yang menafsirkan Tasik yang berarti ‘keusik’, semuanya gelap sebelum terjawab dengan letusan Galunggung dan huru-hara pasir besi. Demikian juga dengan julukan kampungku, Kampung Toke, yang ternyata (entahlah) tiba-tiba menjadi ramai suara toke.
       Di hampir setiap rumah, tunggul kayu dan tebing batu toke-toke itu tiba-tiba banyak berada. Setiap malam, pagi dan sore, selalu ramai berbunyi, saling bersahutan satu sama lainnya. Tokkee…tokee..tokkee..!
Tapi para pemburu toke itu tampak kecewa atas buruannya. Toke-toke yang ditemukan di tempat ini tak sesuai dengan apa yang diharapkan. Ukurannya kecil-kecil alias umum. Sedang yang dibutuhkan mereka toke yang berukuran besar, antara satu sampai dua kilogram.
     “Ini bukan main-main, yang dua kilogram bisa mencapai ratus-jutaan, bahkan bisa ditukar dengan mobil sekelas avanza,” kata seseorang dalam suatu kerumunan. Namun sampai beberapa hari, minggu, bulan, jenis toke yang dicari itu tak juga ditemukan. Dan orang-orang jadinya –terlebih aku—tak merasa tergiur. Sebab itu suatu yang mustahil. Jangankan yang satu kilogram, untuk ukuran enam-tujuh ons pun tak ada. Berat toke umumnya tak jauh dari 3-4 ons. Dan seumpama ada tentu itu bukan toke biasa, melainkan namanya toke ajaib yang berada di negeri dongeng.
      Dan isyu toke berharga jutaan pun lenyap. Yang ada cuma pemburu toke biasa dari luar kampung yang konon dijual seribu perak per ekor. Masyarakat pribumi tak sedikit pun tertarik, dan membiarkan toke-toke itu perlahan hilang dan suaranya jarang terdengar lagi. Kampung Toke jadi sepi.
**
      Mas Parman –selanjutnya Wa Kaman (mengakrabkan panggilan buat anakku pada Uwaknya, beliau orang Jatim yang menikahi Oyoh-- kakak iparku) tiba-tiba sakit. Perutnya mengembung bak busung lapar. Aneh, padahal ia tak pernah lapar. Wa Kaman termasuk rajin bekerja. Terlebih sejak ter-PHK di pabrik pakan unggas di Cileungsi Bogor, ia membulatkan tekadnya untuk hidup bertani di Kampung Toke, menggarap sawah-ladang pemberian mertuanya –yang juga mertuaku. Dengan hasil panen yang luamayan jadi ia jauh dari yang namanya kelaparan.
     Berkat hasil jual tanah warisan dari Jatim dan sedikit uang pesanggon kala itu, ia mampu membeli sebidang tanah untuk kemudian dibangun rumah tembok alakadarnya, oramg kampung menyebutnya’balong saat’.
      Dalam sakitnya Wa Kaman mengeluh bahwa perutnya terasa bak ditusuk-tusuk benda tajam. Beberapa kali ke dokter, juga dengan cara obat kampung, tak ada yang mempan. Hingga lahir kesimpulan, jalan terakhir untuk mengatasi semuanya harus dengan cara ‘melek’. Satu solusi yang dipesankan Romo Kandang -- julukan almarhum Mustofa, ayahnya Wa Kaman, atas kecerdikannya saat perang kemerdekaan melawan Belanda. yakni dengan laku tak tidur. Sebagai kerabat, aku merasa berdosa jika tak menunaikan tugas untuk menemaninya.
     Dengan berbekal air putih, kami pun melek.
     Pada malam pertama tak ada isyarat apa-apa. Hanya sakit di perut yang dikata bak ditusuk-tusuk itu katanya agak berkurang.
     Malam kedua, yang diduga akan lebih aman, malah sebaliknya. Sekira pukul 10 malam, Perut Wak Kaman sakitnya menjadi-jadi, bahkan saking tak tahannya sampai ia berjungkir-balik di lantai. Karena panik yang membucah, atas permintaan Ceu Oyoh –istrinya Wa Kaman, saya meng-sms salah satu keluarganya di Magetan, Kuceritakan semuanya, termasuk soal lelaku ‘melek’ itu. Sesuatu yang tak terduga sekaligus mencengangkan, “Coba periksa, apakah di bawah jam dinding itu ada seekor toke?” kata Mas Samin di sms itu. Dan.. jiah!, mahluk predator berkulit kasar seperti hiu itu, bak tergertak seketika nelusup ke balik jam dinding.
      “Gebuk dengan sapu lidi, tapi jangan sampai mati” sms dari Mas Samin kemudian.
Karena takut jam dinding terjatuh, meski tak telak aku berhasil memukul dua kali dengan sapu lidi, sebelum kemudian toke itu menyelamatkan diri masuk lobang langit-langit. Aneh, Wa Kaman sakitnya langsung sembuh. Paginya seorang lelaki, tetangga terdekat, tiba-tiba menjenguk Wa Kaman seraya mengucap syukur atas kesembuhan sakit perut itu.
      “Penyakait zaman kini memang aneh-aneh. Termasuk saya, tiba-tiba tulang-tulang ini semalam terasa remuk,” ujar lelaki itu seraya meringis menahan sakit. Lantas menyalami Wa Kaman dan berharap sakit tulangnya segera sembuh.
     Apa kaitannya dengan toke itu, kami segera menebak-nebak. Kabar dari mertua, lelaki itu sebelumnya mewanti agar tanah itu dijual pada dirinya. Kepalang SPPT-nya nempel, katanya. Permintaan itu sering dilontarkan pada Tisno –anak si empunya tanah, yang meninggal setelah sebelumnya sakit perut dan didampingi toke. Tapi sang mertua segera menggalangnya, sebelum kemudian dibayar Wa Kaman.
      Terpikir itu aku jadi teringat omongan nenek tentang nasib ayah. Secara medis memang menderita asma yang akut. Namun di balik itu ada cerita lain, mungkin ayah selalu menolak untuk menerima paham yang dianut mertuanya. Yakni setiap Selasa kliwon harus mengadakan ritual di kamar khusus, dengan sesaji bubur merah-bubur putih. Tapi apakah nyambung jika dikaitkan dengan toke-toke itu? Entahlah.**@
(Pesisir Kidul, akhir Mei 2013)


*Otang K.Baddy –nama feba dari Otang Komaludin. Menulis cerpen dan puisi, tinggal di Pangandaran.

No rek BRI: 4016-01-001033-50-2 A/n: Otang Komaludin
Hp: 082130928552
e-mail: otangk234@gmail.com





23 Mei 2015

Manusia Berbulu

(Cerpen Otang K.Baddy/Pikiran Rakyat 20 Januari 2013)

Sebagai manusia berbulu, tak sepatutnya kamu menaruh dendam padaku. Kendati demi keimanan boleh lapar atau demi kehormatan boleh miskin, namun istilah itu tak kena jika kamu terapkan. Malah teramat janggal. Sebab iman dan hormat pun kamu sudah tak punya.

Makanya jangan macam-macam.

Kamu harus diam. Seperti diamnya wanita gila atau mereka yang terpedaya dalam dekapmu. Terkesima, mungkin saja. Atau bisa saja mereka itu terlena dibalik kata-kata berbunga, yang mengalir indah bak sungai di taman nirwana. Indah dalam angan yang mengawang karena kebutaan cinta, sebaliknya bagiku itu sesuatu yang menyebalkan.

Namun sebelumnya sangat berdosa jika aku tega membiarkanmu dalam rana. Sementara kubuang tentang fakta karmamu yang berhembus dari bibir dan lidah sekitar kita. Pandangan mereka yang jujur, sorak dan tepuk tangan dibalik cibiran itu, telah kamu rasakan sebagai sayatan sembilu.

“Benar-benar pediih!” pekikmu seraya mengelus dada yang berbulu. Seharusnya kamu sadar, apa-apa yang telah kamu rasakan pilu itu, merupakan sebab-akibat dari keliaran nafsumu sebagai mahluk berbulu.

Mungkin karena kepiawaianmu, bulu-bulu di sekujur tubuh yang kasar bak duri-duri itu bisa tersulap halus dan lembut. Kamu memang kadang pandai menjaga penampilan.

Tapi jangan kira aku buta dan melihat seekor kucing berbulu halus saat aku kerap menolongmu dari pilu. Juga tak melihat berbulu domba ketika kadang mengamankanmu dari ancaman luar yang mamatikan. Kerap menolongmu, bukan atas panggilan jiwa semata, melainkan hanya sebatas teman, rekan kerja, disamping juga sebagai tetangga. Bukankah selain keluarga dan yang jauh lainnya harus menolong tetangga dulu?

Pun aku melihatmu sebagai manusia. Bukan sebagai kera di cagar wisata, yang kerap berkedip binal dimana melihat pengunjung wanita.

Memang kamu lelaki dengan kulit berbulu. Saat bulu-bulumu kasar, tak sedikit yang menyebutmu mirip celeng. Kendatipun suka makan cacing hidup-hidup --usai mencarinya di tanah basah, bukan berarti menunjukan diri sebagi hewan musuh petani. Bukan pula hewan sebaya yang dagingnya sempat diisyukan sebagai campuran baso itu. Ulah itu sekedar mengobati penyakit typhus-mu, yang dipercayai orang kampung saat tak mampu pergi ke dokter.

Tubuhmu yang kekar, serta otot-otot yang kencang menyembul, tak berlebihan jika ada yang menganggapmu jawara pilih tanding. Kendati olah-ragamu bukan arahan koni, namun sebagai pemanggul semen dan pengaduk pasir dalam kuli bangunan, telah mampu membentuk karakter tubuhmu yang tangguh.

Namun keperkasaan tubuh itu tak mampu menjadikanmu seorang pemimpin. Bukan pemimpin macam presiden-gubernur-bupati atau ketua partai. Jauh tanah ke langit, tahyul sekilas pun dunia macam itu –sekalipun ketua RT, bagimu tak tersirat. Hal sekecil apa pun positif kepifiguranmu seakan tak ada.

Rumahtanggamu yang kacau, pertanda perkasamu tak sebanding dengan jiwamu yang lembek. Bohong besar, jika dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Pun pada suatu negara yang megah dengan mercusuar, ternyata di dalamnya sangat brobrok dan korup. Apa lagi kamu. Jangankan memangku keluarga, memimpin diri sendiri pun kadang masih labil.

Tapi kamu mengelus dada manakala ada yang menyebut dukamu adalah karmamu. Siapa mau menebar angin di situlah badai tertuai. Pisau atau seribu sembilu yang dirasa menyayat ulu hati, tiada lain dan tiada bukan adalah ulah-ulahmu yang bak berpisau-sembilu, menghunus-menyayat lain orang sebelumnya.

Istrimu kedua kalinya kini jadi tkw. Keempat anakmu tak terurus, menangis dan lapar tetap jadi beban mertuamu yang hampir lansia. Tapi aneh, kamu bilang istri dan mertuamu sama gilanya; “Dia tak menyayangi saya sebagai suami. Pun mertua yang wanita itu, terakhir ini kerap ngadat dan marah-marah pada saya. Ini benar-benar konyol!” sesalmu setengah mengambang.

“Hihihi..huhuhu…huhuy..!”

Hai tunggu dulu, tawa itu bukanlah melucu. Jika tak mau dikatakan sinis, boleh jadi sebagai bentuk protes atas pikiranmu yang pilon. Betapa tidak, kepergian istrimu menjadi tkw, baik saat pertama maupun yang kedua, adalah tersebab keliaran nafsumu yang telah melahirkan duri, jarum, pisau maupun sembilu di hatinya. Juga di hati atau jiwa sang mertua yang wanita itu , sama saja telah kamu sakitkan.

Seakan meratapi nasib, kamu terdiam. Ada isak di sana. Tangismu yang tersedu, tak ubah bocah dikekang jajan, adalah sandiwara klasikmu yang menjemukan. Seketika laga duplikasi Macho dan jawaramu lenyap. Jam terbang gentayang, aura kasihmu redup sampai kuyup. Lagu pilu yang terasingkan, bak pestamu telah kabur ke angkasa luar. Perumpamaan itu timbul manakala kantongmu kering tanpa ampun. Lantas seperti biasa minta belas kasihku. Wew!

Kamu tak mampu menghitung, seberapa jauh nafsu liarmu yang terasakan. Dibalik kekonyolan itu kamu bilang: “Saat aqil baliq itulah kenormalanku terlahir, lantas berkembang dengan suka cita,” akumu. Di saat para sebaya masih malu-malu, sementara kamu itu telah punya keberanian.

Bahkan, dalam dahaga-lapar, kamu sampai tega menerkam seorang nenek yang tengah buang hajat di pematang. Bukan abnormal, dan lebih dari sekedar manusia normal, ketimbang si Dodo yang berani-beraninya mencumbui seekor ayam betina, katamu membusungkan dada.

Walau lakumu pada akhirnya menjijikan, namun dongeng-dongengmu kadang membuatku terpana . Kisah kasmaran di kebutaan cinta dalam petualangmu, telah meluluh lantakan kesahajaanku sebagai penghamba yang alim. Puber keduaku yang layu terimbas moneter, seketika menggeliat hijau bak tanaman tersiram hujan.

Namun jangan tuduh aku segilamu. Sebab, apa yang telah kulakukan bukan suatu kecerobohan seperti saat lapar dan hausmu. Tidak. Melainkan ulah itu lebih disebabkan pada timbal balik atas kebaikanku yang kerap membantumu dalam rana.

Kesepian, dibalik kata itulah kamu kerap berlindung. Padahal siapa yang mau percaya, saat keberadaan atau ketiadaan istrimu, ulahmu tetap sama. Seperti binatang. Bahkan bulu-bulu yang kian halus itu seolah menunjukan identitasmu sebagai binatang liar. Betapa tidak, buktinya kamu senang menyesap darah serta melahap daging-daging mentah itu.

Kehausanmu memang tak pandang bulu. Selain tega memangsa kaum lansia yang uzur, kakak ipar dan mertuamu pun tak luput dari bayang-bayang taringmu.

Namun aku tak berani istigfar saat menyimak lakumu melebihi kewajaran binatang liar. Baik yang mamalia atau pun melata, semua tetap sama dengan lakumu yang gila. Bayangkan, saat senja meremang kamu keluar melenggang seperti macan. Matamu yang tajam dan jelalatan bagai ular, telah lihai mencuri kesempatan. Entah sudah berapa puluh --atau malah ratus--pintu kedai daging yang telah kamu sambangi. Bangga atas biadabmu yang tak mampu menghitungnya, membuatku muak.

Di remang senja menua. Saat para pemilik daging tengah menunaikan magrib dan berwirid di masjid, di situlah kamu beraksi.

Tak sekedar lebay, gigimu ompongmu terkesan seperti balita yang gemar menyusu. Di sela lidah menyesap asi, gusi nakalmu kadang menggigit. Tak heran, jika tak menggelinjang kadang si ibu itu tak kuasa menjerit menahan sakit. Gaya balitamu yang trauma, menangis nyaring, seakan semerindukan ibu yang lain.

Binatang terliar sekalipun tak mampu menandingimu. Aksimu lebih jahat, meresahkan dan menjijikan bagai tai cecurut. Meloncat dari jendela ke jendela, mencuri yang ras maupun abu-abu. Tak ada puasnya dari mulai tetangga terdekat sampai merambah ke desa luar.

**

Maka huru-hara itu pun terjadi.

Si jago merah melalap gubukmu. Ratusan massa yang tergabung dari para pedaging yang dirugikan itu kalap. Dan mereka bersorak, manakala di bara api itu tampak sesosok tubuh menggelepar-gelepar terbakar.

“Mampuslah kamu musang…!”

“Musnahlah kamu buayaa…..!”

“Rasakan itu kembang nerakamu, setaann…!”

“Merdeka..! Merdekaaa…!”

Begitulah. Seakan merayakan kemenangan, mereka menari mengitari api membara malam itu. Dan perlahan mereka pun bubar, seiring dengan bau hangus tak sedap yang menguar.

Huru-hara yang konyol, begitulah aku pikir. Sebab peristiwa tragis itu tak mampu melumatkanmu. Saat tampangmu berubah cecurut yang penuh luka bakar, kesigapanku telah mampu melemparkanmu ke kolong ranjang. Itu kulakukan demi keselamatanmu dari maut. Sementara tubuh yang terbakar habis itu adalah seorang wanita gila, mangsamu yang diseret dari dekat pos ronda.

Perjuangan untukmu tak sampai di situ. Deritamu yang tak kunjung usai , telah membuatku banyak berkorban. Tak cuma tenaga, harta dan pikiran, istriku pun tanpa sengaja telah kupersembahkan padamu.

Maka tak perlu macam-macan, jika diketahui bahwa selain dengan mertuamu aku pun sering mengencani istrimu(*)

20 Mei 2015

Tumbal Bukit Kiarapayung


(Cerpen: Otang K.Baddy/Mimbar Umum 15 Desember 2012)

Malam-malam tanpa bulan, tanpa bintang. Dusun sunyi-senyap, zaman yang kelam di masa lalu. Dimana anak-anak perawan dan bujang belum mengenal lipstick dan gincu. Kendatipun begitu mereka tetap berlagu, kidung kasmaran parahyangan yang merdu. Di rumah bilik yang diterangi pelita atau lentera. Jelita dan rupawan di masanya, suka-cita dan ceria warga di zamannya.

Namun suasana yang kerap membuai di bulu rindu itu tiba-tiba lenyap tatkala langit padam rembulan dan hilang bintang. Begitu pun lentera dan lampu kelapa, tak lagi dinyalakan warga. Karena malam telah berubah mencekam, aroma mistis atau horor kian berkembang dan kental di benak-benak mereka.

Tiba-tiba warga di Dusun Ogo menggeragap terbangun dari tidur lelapnya tatkala mendengar suara gemuruh dari bukit itu. Bukit Kiarapayung. Sebuah bukit tertinggi di dekat dusun itu, dimana di ponclotnya bercokol pohon kiara yang tinggi kekar. Disebutlah kiara payung karena dahan dan rantingnya yang rindang memang memayungi pohon-pohon lain di bawah dan sekitarnya. Koloni rotan alas dan rumpunan macam bambu, menunjukkan belantara yang masih alot. Gemuruh itu suara batu terguling-guling. Mungkin sebesar kerbau atau lebih. Membetur sesama batu yang terlindas dan melabrak rerumpunan bambu. Guluduug…guludug…bletok..karabyaak…! Begitulah. Bukan satu batu, tapi banyak batu. Setelah batu itu sampai di lembah dan hampir menghantam rumah warga, kejadian serupa kembali menyusul. Bahkan saat berikutnya petaka itu datang lagi.

“Ah,dia lagi,” ujar seorang warga yang tak pernah tidur lelap, seolah mengeluh. Begitupun orang lainnya, berpikiran nyaris sama yang ujungnya menyudutkan seseorang. Siapa lagi kalau bukan Bah Ado. Lelaki bertubuh tambun itu selalu iseng mengganggu orang. Jika malam ada pejalan kaki yang lewat jalan berbatu di lembah sana, kalau tak melempar pasti menggulingkan batu-batu itu. Ulah itu sering dilakukannya, terutama saat-saat mondok di saung huma dekat kiara payung itu. Barangkali keisengannya menakuti orang, agar dia dianggap demit bukit itu. Demit yang sebelumnya kerap menangis. Tangis lelaki terbunuh korban konflik di masa lalu, arwah penasaran itu berujud amarah dengan mengguling-gulingkan batu dari sebuah bukit. Mungkin terinspirasi dari itu Bah Ado senang bertingkah, dan baginya seakan menjadi hiburan tersendiri.

Beriseng boleh saja, begitu menurut warga. Tapi dengan batu besar terguling-guling tengah malam dan menimbulkan gemuruh keras itu bukan lagi di horor, melainkan sebuah teror bencana yang dahsyat.

“Ini sangat terlalu!” desis warga lain di sekitar lembah itu. Dan bukan satu dua orang yang mengutuk ulah Bah Ado saat itu. Namun mereka tak ada yang berani mengambil tindakkan, karena kejadiannya selalu tengah malam. Rasa malas mereka semakin menjadi, tatkala kantuk menyerang. Juga karena sebagian berpendapat itu bukan wujud nyata suatu bencana. Kendati diacuhkan pun tak akan menjadi masalah. Bahkan bagi sebagian orang mengatasi petaka itu cukup dengan do’a atau keyakinan yang mantap. Sebab, manuver itu hanyalah ilusi belaka. Suatu ulah yang tercipta untuk menggoyah hati yang mendengarnya. Buktinya, di waktu siang jejak-jejak itu tak ada. Tak sedikit pun ada bongkahan batu, tak juga tampak bekas benturan atau rerumpunan bambu yang rebah. Tak ada sama sekali. Tak ada.

Yang ada cuma kisah masa lalu. Di jalan desa penghubung dusun Ogo dan dusun lainnya. Para anak bujang tiap menjelang larut malam selalu lewat baladan, sekitar lima atau kadang sepuluh orang. Bernyanyi riang penuh guyonan, baik hendak atau pulang dari dusun tetangga tatkala menoongi bilik-bilik di pondok perawan. Mereka bukan sekali dua kali mendapat perlakuan iseng Bah Ado, yang tengah tunggu kebun di bagian atas bukit itu. Sering ada lemparan,yang lemparan itu tak dikenakan tentunya. Namanya juga iseng. Benda yang dilempar itu tak cuma batu, kadang ubi, jagung bakar, kedodong atau degan. Memang saat pertama rasa takut, tapi kejadian berikutnya kalau tak digubris kadang pula senang jika lemparan itu berupa makanan.

“Hahah…! Hahaha…hahahah..!” BahAdo kerap tertawa manakala usai melakukan isengnya. Suaranya begitu besar dan agak menggeram. Mungkin dibuat sengaja agar disangka demit Kiarapayung, yang menurut dongeng sepuh terkesan angker, terutama setelah dulu terjadi baku tembak antara penguasa dan pemberontak. Banyak nyawa melayang yang tak diurus sebagaimana mestinya. Namun ternyata itu cuma resep meredam anak agar tak cengeng. Juga upaya melestarikan alam agar sumber mata air tak kering, dan tak dijamah oleh tangan-tangan jahil yang kerap berdalih untuk kepentingan umum. Namun tak menutup kemungkinan, yang namanya makluk halus itu ada. Begitulah, barangkali Bah Ado merasa terinspirasi sebagai demit bukit Kiarapayung.

Bah Ado suka iseng, telah dilihat sendiri oleh Ajid. Seorang cucu Bah Ado yang pernah ikut mondok di kebun Bah Ado pada musim panen jagung. Benar, ladang jagung itu tak jauh dari rimba kiara itu. Di tempat itu banyak lutung, monyet, dan juga babi hutan. Pada musim itu pasti Bah Ado kewalahan. Selain bantu menjaga serangan binatang itu, juga hitung-hitung menikmati bakar jagung dadakan Ajid diajaknya. Malam itu cahya bulan benderang, anak-anak bujang terdengar riang di jalan desa di lembah sana.

“Nanti saat pulangnya..” Bah Ado terkekeh menahan kegelian niatnya. Ia menunjuk sebuah batu besar, diperlihatkan pada cucunya yang berusia tujuh tahun itu. Anak itu pun ikut-ikutan menahan geli, dan tak sabar ingin menyaksikan bagaimana kisah seru yang dilakukan kakeknya. Dan tak begitu lama, saat yang dinanti itu datang lebih awal dari biasanya. Heran juga di benaknya,

Anak-anak bujang kok sudah pulang. Tapi mungkin saja ada gangguan, misalnya para perawan itu tak berangkat ke pondok karena sorenya terjadi hujan.

“Mari..De, bantu,” lelaki itu menyeret cucunya. Mengambil linggis, mendongkelnya. Begitu berat, namun berusaha sekuat tenaga hingga otot-otot tampak mengencang. Dan batu besar itu mulai terguling…gorobass…gorobass…dak..duk..brak..brek…prak…! Menggelinding ke lembah, ke jalan itu,, ke para bujang itu.

Namun aneh, ada keganjilan di sana. Biasanya jika aksi itu rampung bakal terdengar suara langkah atau sorak-serai para bujang. Entah suara takut atau suara pura-pura takut, yang biasanya saling mempercepat langkahnya. Sebab, mereka sudah tahu yang menggulingkan batu itu bukan dedemit bukit Kiarapayung, tapi Bah Ado. Tapi saat ini si pelaku merasa aneh, ia tak mendengar suara lompatan atau sorak-serai di jalanan. Kenapa ya? Apakah yang baladan tadi itu bukan aslinya para bujang? Lantas siapa ya?, begitulah keduanya sempat heran.

Bah Ado, demit kiarapayung, atau ilusi yang tak bertanggung-jawab, entah siapa sebenarnya yang menggulingkan batu malam-malam saat orang lelap. Malam-malam berikutnya menjadi tak jelas, simpang-siur. Mungkin karena kesiur angin, atau karena warga Ogo terlalu segan dengan pohon kiara payung yang kerap menunjukkan keperkasaan di benaknya. Bahkan, mungkin penguasa saat itu pun terinspirasi untuk menjadikan kiarapayung sebagai lambang partainya. Dengan koloni rotan alas dan bambu, bermacam kedaka, binatang buas seperti ular cobra dan macan belang atau tutul. Keluarga monyet atau lutung , para bajing, juga bermacam burung seperti elang, gagak, kangkareng, ciung, ketilang, jalak, dsb, termasuk pipit pun lengkap di situ. Kiara payung laksana sebuah kerajaan rimba yang perkasa. Sosoknya yang menjulang menggapai langit itu kerap dijadikan barometer para nelayan pencari ikan, apakah pelayarannya tak terlalu jauh menyasar atau tidak. Jika pohon itu masih terlihat, berarti perambahan laut masih dalam status wajar. Barangkali dari kepercayaan yang diakui warga itulah, kiarapayung tetap menebar manuvernya. Yang jadi korban, tentu dusun terdekatlah, yakni Dusun Ogo. Dengan menuduh Bah Ado sebagai kambing hitamnya?

Bagaimana tidak. Batu-batu terguling, kadang disusul tawa terbahak. Kadang terdengar alunan seruling kidung kasmaran. Juga suara-suara wanita cekikikan, yang sebelumnya lolongan anjing sebagai penghantar suasana seram mencekam. Namun berita itu kadang tak jelas, kadang simpang siur. Sebab, saat terjadi batu terguling --atau lemparan-lemparan iseng -- seperti batu-kerikil, ubi jalar, singkong, pisang, papaya, jagung, kedongdong atau daugan, kadangkala di ladang itu Bah Ado tak mondok.

**

Selama hamir 40 hari setelah kematian tragis itu, warga dusun Ogo tak ada yang berani keluar rumah. Terutama jika hari berganti malam, begitu magrib datang, tua-muda semua masuk ke biliknya. Karena rasa takut yang menyungkup di benak-benak mereka, untuk sekedar buang hajat atau kencing pun tak merasa sungkan walau cuma ditadah di ember. Biarlah, besok saja air dan hajat itu dibuang, begitu pikir mereka. Begitu pun langgar-langgar mendadak sepi, tak ada shalat berjamaah, tak ada bacaan shalawat nabi dan pepujian anak-anak mengaji. Aktivitas itu seakan berhenti tiba-tiba. Anehnya tak ada wejangan atau penyuluhan dari tokoh agama atau umaroh, semua seolah ikut terhipnotis dengan keadaan. Lampu lentera atau cempor tak ada satu pun yang dinyalakan. Dusun Ogo sepi mencekam. Malam mati bagai kuburan.

Bayangan horor itu memang terus menyergap pikiran mereka. Terutama setelah melihat kematian Bah Ado yang mengenaskan. Lelaki itu memang telah mati terbunuh. Namun entah siapa pembunuh itu, sungguh sangat misterius. Sepertinya pembunuh itu bukan manusia, sebab luka di bagian belakang kepala itu bukan bekas senjata tajam seperti golok atau sejenisnya. Luka itu bekas tancapan kuku tajam yang meruncing. Orang menduga, karena lukanya bekas kuku harimau, yang membunuhnya itu pasti harimau atau siluman harimau. Namun entahlah.

Yang jelas di pagi buta geger. Istri mendiang tak tahan dengan keadaan, tangisnya meledak meraung-raung seraya mendekap suaminya yang tak berdaya. Darah segar tercecer di dekat pintu masuk dan sampai ke tengah rumah. Bahkan tak sedikit yang muncrat ke dinding. Entah kenapa polisi pun saat itu tak serius, percaya begitu saja atas keterangan keluarga yang mengatakan luka lelaki itu bukan pembunuhan mutlak, tetapi karena terkena paku di pintu masuk. Alasan itu sengaja dibuat untuk sekedar meredam isyu yang tak jelas. Polisi pun segera berlalu begitu saja, seolah tak berdaya untuk mengusut lebih lanjut.

Tersiar kabar yang membunuh lelaki itu adalah seorang wanita. Tanda-tanda yang mengarah ke situ memang ada. Beberapa saat sebelum kejadian satu-dua orang warga yang terlintasi jalan setapak di depan rumahnya mendengar suara wanita seperti tengah cekcok dengan Bah Ado. Bahkan seseorang bercerita, ketika malamnya lelaki itu nganjang ke rumahnya. Entah kenapa sang korban seperti gelisah. Apalagi setelah di luar ada suara seorang wanita seakan memanggil-manggil dirinya.

“Tunggu sebentar,” kata Bah Ado. Walau tampak sungkan lelaki itu segera permisi ke pribumi hendak memenuhi panggilan itu, yang diduga tuan rumah adalah istrinya Bah Ado.

Sejenak di luar terdengar percakapan oleh tuan rumah. Selanjutnya tak tahu karena keduanya semakin menjauh. Ya, mungkin itu tadi, para tetangga yang jalannya terlewati. Bah Ado seperti cekcok dengan seorang wanita. Namun percekcokkan itu berubah menjadi teriak kesakitan seorang lelaki yang disusul suara tawa meringkik seorang perempuan. Warga menduga Bah Ado jadi tumbal keisengannya dari bukit itu.***@


**Catatan: Cerita ini diambil dari kisah nyata, yang terjadi tahun 1975 di Ciamis Selatan, Jawa Barat. Tepatnya di kampung saya, dsn nagrog, batukaras,cijulang, ciamis.