2 Maret 2015

Daun dan Kematian



Cerpen: M Arrijalul Mukhlisun  (Radar Surabaya 1 Maret 2015)
  

      Aku hanyalah selembar daun
yang mulai menua termakan
usia. Terlahir dari
sebuah pohon yang tertancap
kuat di pinggir jalanan
kota. Mungkin agaknya
aneh ada pepohonan yang turut
menghiasi keramaian kendaraan kota,
namun memang demikianlah adanya.
      Melihat berbagai macam dedaunan
yang menempel di ranting masing-masing,
dengan ukuran yang kecil berwarna
hijau muda nan cerah saling
berdampingan. Sedikit lebar dengan
warna hijau tua, gelap. Patah tubuh
dan tinggal separuh. Sampai yang coklat
kering hampir mati. Aku jadi teringat
saat pertama kali melihat keindahan
bumi ini. Ya! aku pernah menjadi
mereka semua.
       Ranting yang menjulang tinggi, kala
itu, membuatku berada di atas daundaun
yang lain. Warna hijau muda
yang melapisiku tampak menambah
keelokan tersendiri bagiku. Saat mentari
pagi mulai menyunggingkan senyum
sinarnya ke segala penjuru bumi,
ada perasaan bangga yang merasukiku.
Kerena menurutku, akulah yang
pertama kali menyambut senyum itu.
Aku yang pertama menyentuh rintik
hujan ketika langit mulai menyirami
bumi. Saat burung-burung terbang melebarkan
kedua sayapnya, aku dapat
melihatnya dengan jelas. Langit biru,
awan putih yang menghambur mewarnai
biru langit. Sampai rembulan dan
para bintang yang menghias malam di
atas sana, tampak utuh olehku.
      Tidak seperti dedaunan yang berada
di bawahku, untuk memandang semua
itu mereka masih terhalang oleh gerombolan
daun lain yang ada di atasnya.
Meski demikian, tak pernah aku
mendapati mereka protes pada yang
lain tentang keadaan ini. Mereka yang
berhijau gelap saling mempersilahkan
yang berhijau cerah untuk menikmati
masa-masa itu. Semua mereka saling
mengerti. Saat sepoi angin menyapa,
mereka semua menari bersama mengikuti
alunan angin itu. Saat debu jalanan
saling beterbangan, bercampur
asap knalpot semburan kendaraan,
mereka seperti menepuk-nepuk bagian
tubuh yang lain, membersihkan segala
yang menempel dan mengotori hijau
warna tubuhnya dengan bantuan
angin itu. “Kehidupan yang penuh
kedamaian,” ucapku lirih.
      Fajar mulai merekah, menjulang dari
ufuk timur. Embun pagi turun menyerbu
bumi menambah kesegaran pagi, membangunkan
daun-daun yang beristirahat dalam
layu semalam suntuk, dan siap menyambut
hangatnya sinar mentari pagi.
      Semalam jalanan dibawah sana
tampak sepi, tidak dipadati oleh kendaraan
yang berlalu lalang dan kadang
terjebak macet panjang. Lampu kota
yang setia bersinar seakan menyulap
jalan-jalan menjadi semakin sunyi.
Daun-daun pepohonan di sepanjang
jalan tampak memantulkan sinarnya.
Mereka semakin anggun dengan itu.
      Satu, dua mobil mulai bermunculan di
pagi hari yang masih buta dan entah dari
mana dan mau kemana. Bus-bus malam
yang melesat cepat ditemani pengap asap
seakan merobek kegelapan, berperang
semelawan segarnya embun pagi. Sesekali
kendaraan-kendaraan itu menghempas
serta menyeret dedaunan yang ada di
bawah sana. Mereka mulai berguguran
diterpa angin yang menyembul dari
jalanan yang dilewati. Perlahan mereka
mulai terinjak berbagai macam roda yang
melintas buas di jalanan. Mereka merintih,
menangis, sebelum akhirnya hancur
lebur, dan mati. Belum sempat mereka
menikmati sinar mentari untuk yang
kesekian kalinya, mereka harus hengkang
meninggalkan semuanya. Seluruh daun
tampak sedih melihat semua itu. Begitu
juga denganku yang hanya terpaku
melihat tanpa bisa membantu berbuat.
     “Maksudmu?” Tanyaku penuh ketidak
pastian, namun sedikitpun ia tak
bergeming memberikan jawaban.
      Riuh risih dedaunan masih bisa kudengar
meraung berteriak. Mengumpat.
Menyalahkan kendaraan-kendaraan
itu. Suaranya saling bersahutan,
hampir tak bisa kubedakan. Mereka
melakukan itu sepanjang hari, setiap
ada dedaunan yang menjadi korban
ganas kendaraan. Bagi kami seluruh
daun yang ada adalah keluarga. Jauh
dekat tak peduli kegembiraan, kesedihan,
kami sama-sama merasakannya.

      ***
      Matahari mulai meninggi. Sinarnya
semakin ganas membakar bumi. Angin
yang menyembul dari balik kendaraan,
asap kotor yang dilahirkannya, suara
bising yang keluar, semuanya kami
sambut dengan penuh bunga. Bagi
manusia, mungkin semua itu adalah
virus dengan berjuta-juta penyakit.
Namun tidak bagiku, bagi kami bangsa
daun semua itu merupakan sebuah
ramuan penyegar, dan dari semua itu
pula kami menemukan kehidupan.
      Hari terus berlalu. Selama itu kami
hidup penuh kedamaian. Kendaraan
yang selalu menampar dedaunan, kini
tamparan itu tak mampu lagi menjangkau.
Daun-daun yang dulunya melambaikan
dirinya ke jalan-jalan, kini telah
tersapu bersih. Dahan dan rantingnya
pun ikut musnah. Hanya tinggal dahan
tinggi, menjulang menandingi gedunggedung
pencakar langit di kota ini.
      Dan saat itu, aku bukan lagi daun yang
pertama kali menyambut senyum sinar
mentari pagi. Bukan yang pertama
menyentuh rintik hujan yang turun
membasahi bumi. Aku tak lagi dapat
melihat jalas burung-burung yang
mengibaskan sayap di atas sana. Tidak
mampu melihat telanjang biru langit
beserta gumpalan awan yang setia menghias.
Aku hanya bisa mengintip semua
itu melalui celah yang ada di sela-sela
dedaunan yang mulai tumbuh lebat di
atasku. Warnaku juga tidak lagi cerah,
secerah mereka-mereka yang baru terlahir
kedunia melalui rahim sang pohon.
      Aku yang menginjak dewasa, tak muda
juga tak tua, kala itu, sempat digegerkan
oleh segerombolan orang yang
menenteng gergaji mesin. Tidak perlu
ditebak apa yang hendak mereka lakukan.
Pohon-pohon yang berjajar rapi
di tepi jalan, ingin mereka sapu bersih
dengan si Gigi besi itu.
      “Daun-daun yang berjatuhan telah
mengotori jalan, mengurangi keindahan
kota, lebih baik kita manebangnya,”
Kata salah seorang dari mereka.
      “Lagi pula adanya pohon ini hanya
akan menambah gelapnya kota, meskipun
ada cahaya matahari.”
       Mengetahui hal itu semua pohon
beserta daun-daunnya menjerit histeris,
melawan raungan gergaji yang mulai
mengiris. Dan siap memberantas habis.
      Aku mendengar jelas jeritan para daun.
Tidak dengan penebang-penabang brutal
itu, mereka sama sekali tidak mendengarnya.
Dengan buas mereka menghabisi
pepohonan yang ada di sepanjang
jalan. Andai bisa melawan, mungkin
pohon-pohon itu akan memamerkan akarakar
kuat yang telah lama terpendam.
Menghempaskan tubuh-tubuh kecil
mereka. Tapi itu tidak mungkin. Pohonpohon
itu hanya diam pasrah.
       Lima, Enam, Sepuluh, pohon mulai
roboh memotong jalanan yang sepi kala
itu. Dan jeritan masih kudengar jelas.
Tidak puas, daun-daun yang mulai
terhempas ke bibir jalan mengumpat,
mengutuk mereka yang membunuh
sumber kehidupannya.
      Aku semakin cemas. Tidak lama lagi,
aku dan daun-daun yang ada di pohon
ini akan segera musnah. Tinggal menunggu
giliran. Ya! Tinggal tujuh pohon
lagi di depan yang belum mereka
selesaikan dan sepuluh pohon di
belakang siap di tebang. Melihat daundaun
yang bergelimagangan memadati
jalan, aku ingin menangis, menjerit
seperti mereka. Namun, sekali lagi,
percuma para penabang pohon itu takkan
mungkin mendengar.
      Dengan sekejap, jalanan tersulap
menjadi lautan daun dengan ranting
yang bertebaran di sana-sini. Di
seberang jalan sana adalah orang-orang
yang hanya terpaku asyik menonton
adegan pembunuhan kami.
      Di tengah terik matahari yang se
makin menyengat, mereka dengan giat
menggoreskan gergaji mesin itu ke
tubuh pohon-pohon. Di saat yang bersamaan,
aku tertegun heran mendengar
jeritan dedaunan yang mulanya
menggelegar, kini tak lagi kudengar.
Semuanya diam serentak. Dan beberapa
saat suasana di antara kami menjadi
sunyi.
       Mereka semakin gencar membantai.
Dedaunan kembali riuh ramai. Tapi
tidak dengan jeritan histeris nan
mengiris. Tidak dengan itu. Doa, ya!
Seluruh daun yang tersisa mengumandangkan
doa, doa untuk keselamatan
bersama. Suaranya yang saling bersahutan
seakan mengobrak-abrik panas
matahari kala itu. Mengundang angin
berdebu untuk mengusir orang-orang di
bawah sana, memanggil awan mendung
yang lama tak menampakkan dirinya.
Dua pohon lagi berhasil mereka gulingkan.
Deru mesin gergaji seakan menyayat
siapa saja yang mendengarnya.
Mereka bersorak ria. Bangga dengan
apa yang mereka lakukan. Satu pohon
lagi roboh ke jalan disambut tepuk
tangan ramai orang-orang menonton di
tepi jalan. Aku tak sanggup lagi melihat
kejadian yang memilukan ini.
      Perlahan, cahaya matahari tak lagi
ganas. Sedikit demi sedikit awan mendung
mulai menyelimuti langit. Matahari
mengalah. Ia menarik seluruh
sinar yang di tebarnya ke bumi.
Dengan cepat langit yang cerah kini
berubah menjadi hitam pekat. Dari segala
penjuru angin berhembus buas.
Dengan bantuannya, seluruh pohon
yang tersisa seperti mengamuk.
Menghempaskan dahan beserta ranting
mereka melawan kebrutalan para
penebang. Tak lama, mendung mulai
menumpahkan gerimis. Suaranya
serasa mengiris. Tak mau kalah angin
mendesau dengan kuat, membuat tirai
hujan semakin tebal dan kelabu. Petir
mulai memamerkan kilat silaunya.
Guruh yang menggelegar menambah
suasana semakin gencar. Di bawah
sana mereka mulai mematikan mesin
gergaji. Semua orang menghambur,
berlarian mencari tempat berlindung.
     Tanpa henti, suara dedaunan yang
ada terus menggema. Memenuhi
seluruh isi dunia.
***
      Keesokan harinya para penebang itu
tak lagi menampakkan batang hidung
mereka. Hanya sekelompok petugas
kebersihan yang mulai menyapu daundaun
yang berserakan, dan pohon-pohon
yang terkapar tak berdaya di jalanjalan.
Sejak saat itu, kehidupan kami
kembali dengan kedamaian seperti
semula. Mentari pagi dengan sinarnya.
Embun pagi dengan kesegarannya. Semilir
angin dengan gelitiknya. Langit
malam dengan bulan bintangnya. Dan
segala pernak pernik kehidupan dengan
berbagai macam warnanya.
      Dan detik ini aku hanyalah selembar
daun yang mulai menua termakan
usia. Hampir tiba waktunya: warna
yang menguning, berubah coklat kering,
sampai akhirnya terhempas oleh
sambaran angin, dan tepisah dari ranting.
Jatuh. Sampai di aspal jalanan.
Disambut roda kendaraan. Remuk.
Hancur dan tamat sudah. (*)

23 Februari 2015

Surat Izin

Cerpen A.Warits Rovi (Radar Surabaya 22 Februari 2015)

Tebas pandangannya
hanya tertuju ke deretan
usuk rumahnya melalui
bagian plafon yang
bolong. Ia terlentang
berbantal lengan kanan
antara hendak tersenyum dan menangis.
Kadang ia bangkit seketika,
membuka jendela, menghirup udara
dari sesap oksigen yang dihasilkan
rimbun daun mangga di pekarangan
rumahnya, memicingkan mata
kemudian membalikkan tubuh,
menendang kursi, memukul lemari,
merobek buku lalu menghempaskan
diri di atas kasur. Tengkurap sambil
lalu kepalan tangannya memukulmukul
bantal dengan keras.
Kepalanya pening terlebih saat ia
teringat ajakan Suwi tadi pagi
untuk nonton karapan sapi.
Tak dapat izin.
Dua belas tahun sudah ia
arungi kehidupan rumah
tangga tanpa ada istilah
broken home dan KDRT. Para
tetangganya kagum karena
nyaris tak pernah terdengar
riuh cekcok pada hari-harinya.
Daun pintu rumahnya
senantiasa terkuak keluar
dengan suasana yang sangat
tenang, kecuali kadang hanya
suara anak tunggalnya yang
masih balita merengek minta
jajan sehabis subuh.
Aktivitasnya tak begitu
sibuk banting tulang di luar
rumah, Ia terlihat hanya
duduk manis di beranda
rumahnya, baik dengan
tamu atau sendirian.
Kalau tak nampak di
beranda rumahnya para
tetangga sudah mengerti
semua kalau ia pergi ke
kebun kelapa atau mungkin
membantu istri jualan soto di
warung sebelah rumahnya ketika
Hamid si pembantu istrinya sedang
berhalangan. Bila dilihat dengan
mata, seakan inilah potret keluarga
Indonesia teladan yang oleh agama
disebut sakinah, mawaddah wa
rahmah. Banyak para tetangga
hidupnya ingin sama dengan kehidupan
Matbi ini, tak ada cekcok, adu
mulut, tak ada pertengkaran atau
secara gamblang tidak broken home.
Para tetangga tidak tahu hal yang
sebenarnya terjadi, di pagi yang buta
ia terlihat gelisah di balik pintu sirap
mimba yang bercat cokelat tua.
Bersandar ke gedung dan matanya
melayang-layang ke plafon rumahnya.
Ia mendongak sambil menganga,
sedang tangan kanannya meremasremas
selembar kertas sampai lusuh.
Sesekali tatapannya alih memandangi
kertas yang ia genggam. Carik-carik
huruf melentang-lentang seperti duri
neraka yang dibuat oleh istrinya,
dengan huruf duri itu Matbi dilarang
menonton karapan sapi. Berarti
kertas yang dipegang itu bukan surat
izin melainkan surat larangan. Setiap
kali mendapat surat itu ia getir,
hanya bisa menyiksa dirinya atau
menopang dagu di jendela walau di
balik itu ia juga tak jarang mengukir
senyum ketika surat yang diterima
berupa surat izin.
***
Sahrun berdiri di raut pagi antara
ujung rumputan yang mengecup
kakinya, ia memanggul tas dan
tangannya memegang joran pancing
bilah bambu. Sejenak tersenyum
ketika melihat Matbi yang ditungguinya
mulai nampak di kejauhan
dari balik rimbun pohon rukam yang
ada di belakang rumahnnya. Sahrun
hanya tersenyum mengingat Matbi
saat makan bersama di sebuah depot
seminggu yang lalu, ketika tiba-tiba
panik karena surat izin dari istrinya
ia rasakan raib dalam tasnya. Matbi
pontang-panting mencari kertas ajaib
itu keluar ruangan, mengamati
tubuh jalanan meski saat itu baru
separuht nasi yang ia makan. Dari
dalam ruangan, Sahrun hanya
geleng-geleng kepala ketika ia
melihat Matbi mengecup-ngecup
kertas surat izin itu setelah ditemukan.
“Surat keharmonisan,” tegasnya
dengan suara lantang membuat
orang-orang menoleh kepada Matbi.
Ingatan Sahrun menyelam nikmat
hingga tak terasa Matbi sudah ada di
depannya. “Oeleeeh...lagi memikirkan
apa? Ayo kita berangkat.” Ucap
Matbi santai.
“Eh, tapi apa kamu sudah dapat
surat izin dari istrimu untuk memancing
hari ini?”
“Tenang! Istriku lagi keluar rumah,
dia tidak bakalan tahu, datangnya
masih nanti malam.” Jawab Matbi
dengan tenang seraya bergegas ke
arah danau. Bunyi sepatu botnya
mengerudup menginjak kerikilkerikil
hitam. Sahrun hanya tersenyum
sambil beranjak mengikuti dari
belakang, menapaki jalan berkerikil.
Angin pagi menyuling desir, sekidung
matahari yang cerah menyembul dari
puncak Bukit Rongkorong. Hanya
beberapa meter mereka berjalan
sudah terdengar suara lantang
memanggil Matbi dari arah belakang.
“Mas Matbi! Tunggu! Urungkan
niatmu, kau belum mendapat surat
izin dariku, diam-diam kau kabur
lewat belakang,” suara istri Matbi
memanggil geram. Matbi berhenti
tiba-tiba, ia menoleh, wajahnya pucat
dan terlihat gemetar seperti seorang
bocah sedang mendengar cerita
kuntilanak, matanya redup.
“Ayo, cepat kembali, bila tidak,
awas kau!!!” ancam istrinya seperti
petir menyentak.
Matbi sigap, dengan cepat ia
melewati tubuh Syahrun yang hanya
melongo. Sahrun kembali menggelengkan
kepalanya melihat gelagat
Matbi yang lugu, tingkahnya seperti
seorang prajurit yang tengah dipanggil
sang komandan atau seperti anakanak
yang hidup dengan ibu tiri yang bengis.
“Keluarga Matbi sering panen
pujian dari banyak orang karena
tidak pernah cekcok, tidak ada KDRT
dan tidak broken home, itu hanya
bila dilihat dari luar pintu, di balik
pintu kenyataannya seperti ini,
Matbi bersuami istrinya, istrinya
beristri Matbi,” gumam Sahrun
seraya mengelus-elus joran pancingnya,
sepasang matanya meringis
melihat Matbi masuk pintu rumah
diiringi omelan seperti seorang bocah
yang dipanggil paksa ibunya menjelang
maghrib. Sahrun lantas berpikir
dalam “istilah KDRT sering memposisikan
laki-laki sebagai pelaku
tindak kekerasan dan perempuan
dianggap obyek atau korbannya,
padahal kenyataannya KDRT itu bisa
juga terjadi dengan modus istri
menyakiti suami, meski tidak menyakiti
secara fisik, bentuk kekangan
dan omelan yang asal bunyi
merupakan KDRT
juga, tapi mengapa
selama ini KDRT
cenderung mencemarkan
nama baik lakilaki?
ah,” gumam
Sahrun seraya
membelokkan badan
untuk pulang.
***
Geriap angin sore
menyingkap kabut
hitam pada bibir
langit. Cuaca sudah
tampak cerah. Matbi
juga cerah, duduk
senyum-senyum di
teras rumahnya dengan
pakaian yang sangat rapi
lengkap dengan tas
gendong warna hitam.
Jemarinya mengelus-elus
selembar kertas putih, sesekali
ia kecup kertas itu dengan
riang. Hari ini ia mendapat
surat izin dari istrinya, entah ia
mau berangkat ke mana,
kelihatannya tengah menunggu
seseorang dari ujung jalan. Berkalikali
matanya membentuk lirikan
episode antara ujung jalan dan surat
izin yang ia genggam.
Setelah dilihatnya sesosok manusia
mengendari motor matic warna hijau
tengah datang dari ujung jalan seketika
ia bangkit dan melompat-lompat sambil
mengacungkan tangan memperlihatkan
surat izin itu kepada temannya. Motor
matic hijau berhenti di depan Matbi
seiring bunyi mesinnya berganti suara
kecius angin dari pohon mangga.
Teman Matbi membuka helm, ternyata
Sahrun yang datang. Keduanya samasama
tersenyum bahagia, mata Sahrun
berbinar melihat jempol dan telunjuk
Matbi yang sedang menjepit selipat
kertas putih dengan tulisan tangan.
“Eh Mat! Benar itu surat izin dari
istrimu?”
“Iya, coba baca!” Matbi memperlihatkan
surat itu kepada Sahrun.
“Sekarang istrimu ada di rumah?”
“Tidak, dia pergi juga, boncengan
dengan Suni, pembantunya di warung soto.”
“Anakmu ikut?”
“Anakku dititip ke mertua.”
“Kamu tahu istrimu akan pergi ke mana?”
“Nah, itu dia aku tidak diberi surat
izin untuk bertanya tentang itu, bahkan
aku tidak diberi surat izin untuk
bertanya perihal kehamilannya kini,
padahal aku sudah lama tidak diberi
surat izin untuk menggaulinya,”jawab
Matbi polos. Syahrun tersedak mendengar
penjelasan Matbi. (*)

21 Februari 2015

Mars Rover Mendekati Prestasi Marathon



Peluang Rover Mars mendekati Marathon Feat
Pada bulan Februari 2015, Mars Exploration Rover Opportunity NASA mendekati jarak mengemudi kumulatif di Mars sama dengan panjang dari perlombaan lari marathon. Peta ini menunjukkan rover posisi relatif ke tempat itu bisa melampaui jarak itu. Kredit: NASA / JPL-Caltech / Univ. Arizona

- Peluang rover pendekatan maraton tonggak dari 42,195 kilometer
- Tujuan ilmu Rover adalah "Marathon Lembah" Mars Exploration Rover Opportunity NASA mendekati lokasi di Mars di mana jarak mengemudi yang akan melampaui panjang dari lomba maraton.
Sebuah drive pada 8 Februari 2015, menempatkan rover dalam waktu 220 meter (200 meter) prestasi maraton ini. Sebuah maraton Olimpiade 26,219 mil (42,195 kilometer).
Peluang ini ditujukan untuk sebagian dari tepi barat kawah Endeavour di mana pengamatan oleh NASA Mars Reconnaissance Orbiter telah mendeteksi beberapa jenis mineral lempung. Mineral ini adalah indikasi dari lingkungan basah kuno di mana air lebih netral ketimbang kasar asam. Lebih dari enam bulan yang lalu, tim rover informal bernama yang tujuan "Marathon Valley," setelah diperkirakan apa odometry yang akan total pada saat Peluang sampai di sana.
Sebuah peta lokasi rover dalam kaitannya dengan mana ia akan mencapai jarak maraton dan Marathon Valley online di:
http://mars.nasa.gov/multimedia/images/?ImageID=6950
"Ketika Peluang dalam misi utamanya 11 tahun yang lalu, tidak ada yang membayangkan kendaraan ini bertahan musim dingin Mars, apalagi menyelesaikan maraton di Mars," kata Mars Exploration Rover Project Manager John Callas Laboratorium NASA Jet Propulsion, Pasadena, California. "Sekarang, prestasi yang dicapai sebagai Peluang mendekati tujuan ilmu strategis. Yang paling penting tentang umur panjang dan jarak mengemudi misi terus memperluas tidak ambang numerik, tetapi kekayaan informasi ilmiah kembali tentang Mars, yang dimungkinkan oleh prestasi tersebut. "
Sebelum mengemudi Peluang ke Marathon Valley, tim berencana untuk menggunakan rover untuk pengamatan kawah dampak yang disebut "Spirit of Saint Louis Crater," di pintu masuk ke lembah.
Tim ini beroperasi Peluang dalam mode yang menghindari penggunaan bajak flash memory. Dalam mode ini, data yang dikumpulkan selama setiap hari Mars disimpan dalam memori volatile dan dikirim ke sebuah pengorbit sebelum semalam rover, energi melestarikan "tidur." NASA pengorbit Mars Odyssey dan Mars Reconnaissance Orbiter menyampaikan data bajak ke Bumi.
Insinyur kesempatan berencana dalam minggu-minggu mendatang untuk meng-upload revisi perangkat lunak yang mereka telah dikembangkan untuk memungkinkan penggunaan melanjutkan memori flash non-volatile. Hal ini dirancang untuk memulihkan kemampuan Peluang untuk menyimpan data dalam semalam atau lebih, untuk transmisi nanti.
Selama tiga bulan misi utama aslinya, dimulai setelah mendarat pada 25 Januari 2004, UST (24 Januari 2004, PST) Peluang melaju 0,48 mil (771,5 meter). Kembarannya, NASA Mars Exploration Rover Spirit, mendarat tiga minggu sebelumnya dan ditutup 0,39 mil (635 meter) dalam tiga bulan misi utamanya. Kedua Spirit dan Opportunity telah kembali bukti kuat tentang lingkungan basah di Mars kuno. Misi Roh berakhir pada tahun 2010. Sejak 2011, Peluang telah menyelidiki tepi barat Endeavour, kawah yang 14 mil (22 kilometer) dengan diameter.
       Bajak naik ke ketinggian tertinggi di tepi Endeavour pada 6 Januari 2015, mencapai titik sekitar 440 kaki (135 meter) di atas dataran lokal. Ini telah mendorong sekitar 440 meter (400 meter) sejak saat itu, terutama ke selatan menuju pintu masuk ke Marathon Loire.
      JPL, sebuah divisi dari California Institute of Technology di Pasadena, mengelola Mars Exploration Rover Proyek NASA Direktorat Misi Sains di Washington. Untuk informasi lebih lanjut tentang Spirit dan Opportunity, kunjungi:
http://www.nasa.gov/rovers dan http://mars.nasa.gov/mer/
Anda dapat mengikuti proyek di Twitter dan Facebook di:
http://twitter.com/MarsRovers dan http://www.facebook.com/mars.rovers
2015-055
Guy Webster
Jet Propulsion Laboratory, Pasadena, California.
818-354-6278
guy.webster@jpl.nasa.gov

20 Februari 2015

NASA MAVEN Spacecraft Selesaikan Kampanye Pertama


Konsep Artis NASA Mars Suasana dan Volatile Evolution (MAVEN)
Gambar ini menunjukkan konsep artis NASA Mars Suasana dan Volatile Evolution (MAVEN) misi. Kredit: NASA / GSFC

NASA'S Mars Suasana dan Volatile Evolution telah menyelesaikan pertama dari lima manuver dalam-dip dirancang untuk mengumpulkan pengukuran lebih dekat ke ujung bawah dari atmosfer atas Mars.

"Selama pemetaan ilmu normal, kami melakukan pengukuran antara ketinggian sekitar 150 km dan 6.200 km (93 mil dan 3.853 mil) di atas permukaan," kata Bruce Jakosky, MAVEN peneliti utama di University of Laboratory Colorado Atmosfer dan Antariksa Fisika di Boulder. "Selama kampanye dalam-dip, kita menurunkan ketinggian terendah di orbit, yang dikenal sebagai periapsis, untuk km sekitar 125 (78 mil) yang memungkinkan kita untuk melakukan pengukuran di seluruh atmosfer atas."

25 km (16 mil) Perbedaan ketinggian mungkin tidak tampak banyak, tetapi memungkinkan para ilmuwan untuk membuat pengukuran ke bagian atas atmosfer yang lebih rendah. Pada ketinggian yang lebih rendah ini, kepadatan atmosfer lebih dari sepuluh kali apa yang mereka berada di 150 km (93 mil).

"Kami tertarik pada koneksi yang berjalan dari atmosfer yang lebih rendah ke atmosfer atas dan kemudian melarikan diri ke luar angkasa," kata Jakosky. "Kami mengukur semua daerah yang relevan dan hubungan di antara mereka."

Pertama kampanye dip dalam berlari dari 10-18 Februari. Tiga hari pertama kampanye ini digunakan untuk menurunkan periapsis tersebut. Masing-masing dari lima kampanye berlangsung selama lima hari memungkinkan pesawat ruang angkasa untuk mengamati untuk sekitar 20 orbit. Karena planet berputar di bawah pesawat ruang angkasa, 20 orbit memungkinkan sampling bujur yang berbeda spasi seluruh planet ini, memberikan dekat dengan cakupan global.

Manuver dip dalam bulan ini dimulai ketika insinyur tim menembakkan roket motor dalam tiga luka bakar terpisah untuk menurunkan periapsis tersebut. Para insinyur tidak ingin melakukan satu membakar besar, untuk memastikan bahwa mereka tidak berakhir terlalu dalam di atmosfer. Jadi, mereka "berjalan" pesawat ruang angkasa ke bawah dengan lembut dalam beberapa langkah kecil.

"Meskipun kami mengubah ketinggian pesawat ruang angkasa, kita benar-benar ditujukan untuk kepadatan atmosfer tertentu," kata Jakosky. "Kami ingin pergi sedalam yang kita bisa tanpa menempatkan pesawat ruang angkasa atau instrumen berisiko."

Meskipun suasana di ketinggian ini sangat lemah, itu cukup tebal untuk menyebabkan hambatan nyata pada pesawat ruang angkasa. Pergi ke terlalu tinggi kepadatan atmosfer dapat menyebabkan terlalu banyak hambatan dan pemanasan akibat gesekan yang dapat merusak pesawat ruang angkasa dan instrumen.

Pada akhir kampanye, dua manuver dilakukan untuk mengembalikan MAVEN ke ketinggian operasi ilmu pengetahuan normal. Data Ilmu kembali dari dip dalam akan dianalisis selama beberapa minggu mendatang. Tim sains akan menggabungkan hasil dengan apa yang pesawat ruang angkasa telah melihat selama pemetaan reguler untuk mendapatkan gambaran yang lebih baik dari seluruh suasana dan proses yang mempengaruhi itu.

Salah satu tujuan utama dari misi MAVEN adalah untuk memahami bagaimana gas dari atmosfer lolos ke angkasa, dan bagaimana hal ini telah mempengaruhi sejarah iklim planet melalui waktu. Dalam hilang ke angkasa, gas akan dihapus dari bagian atas atmosfer atas. Tapi itu adalah tebal atmosfer yang lebih rendah yang mengontrol iklim. Maven sedang mempelajari seluruh wilayah dari atas atmosfer atas semua jalan ke atmosfer yang lebih rendah sehingga hubungan antara wilayah ini dapat dipahami.

MAVEN adalah misi pertama yang didedikasikan untuk mempelajari atmosfer atas Mars. Pesawat ruang angkasa yang diluncurkan 18 November 2013, dari Cape Angkatan Station di Florida Canaveral Air. Maven berhasil memasuki orbit Mars 'pada 21 September 2014.

Peneliti utama MAVEN didasarkan di University of Colorado Laboratorium untuk Atmosfer dan Antariksa Fisika. Universitas menyediakan dua instrumen ilmu pengetahuan dan memimpin operasi ilmu pengetahuan, serta pendidikan dan pendekatan publik, untuk misi. NASA Goddard Space Flight Center di Greenbelt, Maryland, mengelola proyek MAVEN dan memberikan dua instrumen sains untuk misi. Lockheed Martin membangun pesawat ruang angkasa dan bertanggung jawab untuk operasi misi. The University of California di Berkeley Laboratory Space Sciences juga disediakan empat instrumen sains untuk misi. NASA Jet Propulsion Laboratory di Pasadena, California, menyediakan navigasi dan dukungan Deep Space Network, serta hardware Electra estafet telekomunikasi dan operasi..

Sumber: NASA/Mars Exploration

Untuk informasi lebih lanjut tentang MAVEN, kunjungi: http://www.nasa.gov/maven