17 Mei 2015

Parang

(Cerpen Otang K.Baddy/Pikiran Rakyat 11 November 2012)
Ternyata kamu pun jadi menyukai yang namanya parang. Bahkan kamu mengenalnya lebih jauh ketimbang aku seorang petani, perambah hutan. Misal jika gagang parang itu rusak, kamu segera menggantinya dengan kayu pilihan. Nyaris tak percaya ketika malam menjelang tidur, atau bangun sebelum fajar, suara khas bak tukang mebel kreatif terdengar jelas dari luar. Bunyi gergaji, suara ketukan palu. Gruk..gruuk..trak-trak-trak. Ternyata kamu tengah mendandani beberapa gagang parang itu. Pun jika mata benda itu berkarat, tumpul tanpa ampun, kamu segera mengasahnya dengan telaten.

Ah, perubahan drastis yang memilukan, begitu aku pikir. Seperti suatu lelucon dan janggal. Betapa tidak. Malam-malam menjelang tidur, saat bangun pagi buta, sebelumnya celah kosong itu kerap kamu isi kegiatan sepadan yang elegan. Kalau tak menyulam benang sutra, sebagai wanita telaten setidaknya memilah, mengistrika, melipat rapi kain jemuran sebelum masuk lemari. Bukan parang, serupa benda keras alat perang.

Namun, dibalik perubahanmu yang transparan itu telah membuatku manggut-manggut.
Kendati tak berani mengatakan puas. Mungkin semua itu berkat rinduku yang terkabulkan, yang senantiasa tak bosan ingin selalu dekat denganmu. Kepergianmu tanpa ampun lebih dari satu dasawarsa dan menetap bersama suamimu di kota hujan, sungguh membuatku tersiksa dan berandai-andai. Terbersit pikiran kotor, mau menyambangi dan berkencan seharian saat suamimu kerja. Sejuta jurus alasan cinta telah kupersiapakan. Pertemuan yang asyik, rindu yang berpagut, tak akan gerah jika ada bola mata melihat.

Bukan apa-apa. Dan tak berbuat apa-apa. Kedatanganku dari kampung semata-mata hanya urusan keluarga. Tak lebih dari itu. Titik! Begitulah jiga ada jiwa terasuk tanya.

“Begini Pak RT, karena ikan gurame sekolam itu masih kecil-kecil, sehingga kalau dipanen terlalu dini tentu harganya tak memadai. Sedangkan operasi tumor ganas bapak mertua sudah tak dapat ditunda lagi,” ujarku dengan ramah dan diplomatis. Pak RT setempat hanya manggut-manggut. Malah ia pun jadi ikut prihatin, serta turut mendoakan semoga semuanya berjalan lancar. Terutama pihak rumahsakit jangan sampai menekan biaya yang tinggi, katanya.

Waduh, itu hanya andai-andai dalam kembara cinta. Saat kerinduan tak terlampiaskan, merana merangkai kata dalam kasih yang mengawang. Kehadiran Pak RT, operasi tumor ganas mertua dan lainnya hanyalah fiktif belaka.

Sempat aku terhenyak saat kamu bilang tak terpikirkan untuk pulang. Buat apa tinggal di kampung, rasanya tak sudi mandi keringat di ladang atau berlumpur di tengah sawah. Keringat atau lumpur bagimu bak sesuatu yang menjijikan. Bau, katamu. Namun aku membayangkan, bau apa pun keringat atau dakimu dampak lumpur, tak akan menolaknya jika kamu suruh aku membersihkan atau menyekanya.

Dunia memang berputar. Perumpamaan hidup yang terus berubah. Gaji suamimu yang memadai sebagai pengawas merangkap teknisi di perusahaan pakan unggas, yang sempat kamu banggakan, seketika terputus saat gejolak moneter mewarnai negeri kita. Setelah kena PHK dan sedikit pesanggon –kala itu, rumahtanggamu clengak-clinguk. Hingga timbul keputusan untuk pulang kampung bersama suamimu yang orang Jatim. Untung Kang Mas itu tak merasa gengsi kendati harus hidup bertani. Mengurus sawah atau berladang di tanah pemberian orang tuamu.

Hari-hari Kang Mas tak terpisahkan dengan cangkul, golok dan kelewang. Berpeluh di ladang, berlumpur di sawah. Menebas pepohonan lantoro, membabat rumput ilalang untuk membuka lahan garapan. Membakar belukar kering di lereng bukit, luapan asap dan jilatan si jago merah meraja seharian di tengah garang matahari. Tebaran arang dan debu berhumus itu segera ditanami biji padi dan jagung, selebihnya sayuran sebangsa terong, leunca, dan kacang-kacangan.

Dan sampailah kamu memerankan parang-parang itu. Jika sawah sudah dicocok tanam, demi pertumbuhan benih itu haruslah bebas dari rerumputan. Di sela batang padi yang basah, jika tak punya garok harus dirambet dengan cakaran tangan. Sedang diempat sisi pematang, rumput yang jemros itu harus dibabat dengan parang. Begitu pun di ladang, tanah huma di lereng bukit yang kadang panas, parang-parangmu harus beraksi.

Aku tak tahu pasti, apakah kamu merasa ikhlas seperti suamimu untuk berparang atau berlumpur. Namun saat pertama, kedip mata dan engahan nafasmu tak mampu menyembunyikan keluh. Namun bukanlah suatu kepuasan atas kejatuhanmu seakan ke titik nadir jika dada ini bersorak. Bukan. Sekali lagi bukan soal itu. Namun kelainan itu adalah debar, atau lebay karena aku tak akan sulit jika mau bersua denganmu.

Hari-harimu, hari-hariku juga. Hari-hari kita yang sama. Berpeluh, berlumpur. Di tengah sawah, di tengah ladang, juga saat-saat menyabit rumput ilalang. Hidup bertani, pelihara sapi, kendati kadang rerumputan mengering saat kemarau menyerang. Kita sama-sama riang meski dalam suasana kantong kering.

Karena kebersamaan tanpa batas, saat senggang melenggang di luar batas kekeluargaan, orang-orang sering menganggamu sebagai istriku. Namun aku tak mendengar jika Kang Mas-mu adalah tulen suami istriku. Mungkin Kang Masmu terlalu suntuk bekerja di ladang, sehingga dadanya tak punya debar tatkala jumpa dengan istriku. Hatinya yang shaleh telah tertanam prinsif; bahwa semua wanita itu sama. Apalagi wanita ini masih saudara kembar, buat apa jika harus berlaku binatang?

Raut wajah, keringat dan dakinya, benar-benar sama. Kulit mukanya yang sedikit putih tersebabkan sebelumnya yang jarang kepanasan. Selebihnya seperti kentut. Seperti istriku. Sama-sama baunya. Kesemua itu mungkin karena aku telah sering menyeka peluh dan menyentuh dakinya. Saat hari-hari senggang, dan malam-malam yang lengang. Saat mimpi kasih itu tak cuma mengawang dengan rangkaian kata-kata.

***

Tanpa terasa kebersamaan setelah kepulanganmu dari kota hujan sudah mencapai 15 taun. Mungkin dari watak kembar yang konon tak ingin dibedakan, kita sama-sama telah mempunyai anak tiga. Bedanya anakmu yang sulung perempuan, duanya lagi laki-laki. Sedang aku sebaliknya, sulung laki-laki, dua selanjutnya perempuan.

Seiring waktu dan kemajuan zaman, anak-anak itu tumbuh berkembang. Si sulung yang mulai kuliah, setelah sebelumnya dibelikan laptop kemudian dengan beraninya minta diberi motor. Sedang kedua adiknya yang masing-masing di SMA dan SMP, cukup berpuas diri dengan dipenuhinya jatah pulsa yang rutin.

Karena masalahnya selalu sama, kami pun kerap berembuk. Terutama untuk memenuhi pengadaan sepeda motor itu. Bagi kami permintaan anak yang serentak itu bak suatu langkah di malam yang gelap. Segala solusi kerap berujung buntu di tebing yang terjal. Setelah beberapa kali rembukan yang alot, akhirnya kami memutuskan untuk melelang sapi peliharaan. Dan motor keluaran terakhir pun dibeli secara tunai.

Entahlah, kendati dada ini tak punya debar namun kebersamaanku dengannya masih tetap terpelihara. Cuma iramanya kini berbeda, tak ada lagi getar purba. Kebersamaan selanjutnya bersifat sebagai manusia yang beradab. Istriku, juga kang Mas –suaminya, kami menyatukan diri bersama membentuk kerukunan yang nyata sebagai kekeluargaan. Saling topang dan bersatu padu demi mencapai masa depan yang gemilang.

Seperti konsep sebelumnya, hati ini tak akan gentar jika ada yang usil alasan buah dari kembara cinta. Seperti ada bisik-bisik yang menyebut kedua anakmu mirip sekali dengan wajahku. Sama sekali tak riskan, apalagi harus gugup. Cukup saja kutanggapi dengan santai dan penuh kelakar.

“Wah, itu sesuatu yang alamiah dan wajar. Mirip wajahku kan masih wajah manusia, yang harus dicemaskan bagaimana jika wajah kedua anak itu mirip binatang,” ujarku dengan tertawa.

Namun pada kesempatan lain tiba-tiba dadaku menjadi sempit, ketika mendengar orang-orang yang berisik. Kedua anak perempuanku, katanya mirip sekali dengan wajah Kang Mas. Wajah suami kasihku yang menyukai parang (*)

Kematian Surantang

(Cerpen Otang K.Baddy/Lombok Post 20 Januari 2013)
   Segala kata, atau ucap, kendati itu cuma bualan, ternyata punya nyawa. Punya hak untuk menyergap pada majikan pencetus lidah. Tak perlu merinci basa-basi untuk menutupi kemunafikan, akulah sebenarnya majikanmu itu. Yang sebelumnya mengobralmu, menebar keburukan di setiap persimpangan. Dan kau tak pilon, dalam beberapa kejap pedangmu telah menebas tubuhku hingga ambruk, mencincang daging dan tulang hingga jantung keabadian.
      Ternyata bukan kalian yang mati, yang resah merintih tertimbun haliyah duniawi. Sekali lagi akulah yang tak tahu diri. Berkoar menebar aibmu di sembarang pertemuan, mengabarkannya pada angin, mengibarkannya di cakrawala. Dengan lidah dan bibir bergincu, memvonismu semanis madu. Namun pada akhirnya bukan kalian para pendosa, pengemban ria penyembah berhala. Siapa lagi kalau bukan aku, seorang penebar aib yang nirca.
      “Ini bukan penyakit di raga, tapi penyakit di nyawa,” ujarmu hasil rekaanku yang saat itu sok tahu hati orang.
      “Goblog! Pakai mata yang tajam, dong. Gunakan indera keenam, jangan cuma lihat luarnya yang lembut melulu, pandangi dan raba hatinya. Bukankah dia tengah bergolak menimbang amal perbuatannya?” lagi-lagi setan sok pintar itu menguasai diriku. Menyampaikan kisah itu pada setiap pertemuan, baik di warung-warung kopi, di teras rumah, di perempatan, bahkan sampai berani-beraninya menulis di sebuah koran. Di matanya, ia melihat orang-orang dan dunia terdecak mengagumi daya nalar yang handal. Hidung melendung, nama melambung terangkat fuja-fuji, terbang ke langit yang tak bertepi.
      Kemudian kamu beranjak, bertolak dari dunia kasat mata menembus alam sunyi. Menyibak beribu topeng dan manuver konyol pengusung kebenaran. Beribu-ribu bahkan berjuta-juta kuburan ia singkapi dengan kasarnya. Ouw, tenyata banyak sekali borok-borok di sana, nadamu pongah. Dengan rinci satu persatu borok-borok kau eja dan catat. Dari mulai jelata, aparat, hingga sekalipun pembawa agama. Dan mengabarkannya padaku, untuk kemudian kusampaikan ke dunia luar.
       “Segala kata dan ucap, kendati itu cuma bualan, nyata-nyatanya punya ruh yang minta pertanggungjawaban,” ujarku pada sebuah pertemuan yang sembarang. Pada saat warga terfokus pada seorang lelaki bergelar tokoh tengah sakit aneh. Siang maupun malam seakan tersiksa, merintih, mengerang, teriak-teriak, dan kadang menangis meraung, melolong laksana anjing pemandu siluman. “Aduh..ieung…aduh Gusti…aduh ibu.,gimana ini?”, katanya seraya bergulang-guling di lantai basah. Sengaja ia diturunkan dari ranjangnya, karena kerap menyebut ‘panas, aduh panas’ itulah ia dicampak di lantai setelah sebelumnya disimbah air. Namun lelaki itu tetap teriak-teriak merasa keberadaannya tak enak, dunia terasa menghimpit, api membara terasa membakarnya. Karenanya, ia tersiksa, lebih dari sekedar sakit, lebih dari sekedar panas, maka tangisnya meraung bak harimau lapar, melolong panjang seperti anjing malam.
      “Nah itu bukan cuma igauan, bukan pula mimpi buruk yang sekejap lenyap saat terbangun. Tapi itu nyata-nyata sebuah siksa. Siksa yang abadi, penghangusan nafsu dan amarah!” kembali si aku menebar pendapat dengan mantapnya. Sebagian orang tampak mengangguk, sebagian terdiam. Di mataku para pendengar itu terkagum-kagum akan fakta yang telah kuceritakan. Kuhimpun bahan-bahan gunjing yang akurat, agar mereka tak ngantuk saat kujerat.
      Bukankah semua juga tahu, ia bukan sakit di fisik dan bukan pula tersiksa di raga. Melainkan lelaki itu tersiksa di nyawa, kataku kemudian. Bukan mengada-ada atas siksanya yang abadi, pertimbangan amalnya sendiri. Buktinya, para dokter dan akhli nujum tak mampu menyembuhkannya. Para sepuh kampung, para kyai, tak mampu mencari solusi. Berbagai wejangan, beribu saran tak mempan. Dua telinganya, pintu hatinya seakan sudah terkunci rapat. Istri dan anak-anaknya, sanak saudara tercinta, semuanya tak ada yang mampu mengobati derita lelaki itu. Bukankah itu gambaran siksa dalam kubur? Siksa dalam kuburan raga yang tak tampak oleh mata kita?, ujarku saat itu menyimpulkan.
      Kendati kehidupan perlu berbagi, namun segala perbuatan mesti ditanggung sendiri. Seperti kelahiran dan kepergiannya. Datang sendiri, pulang sendiri. Menjemput ajalnya sendiri, menghitung amalnya sendiri serta menghukum dosannya sendiri. Seperti apa yang terjadi pada lelaki itu. Tersentak ketika mendengar kabar kematian yang datangnya tiba-tiba. Begitu tipis batas hidup dan mati. Begitu tipis batas fana dan baqa. Raga dan nyawa tak ubanya sebuah lubang dan kunci, sebuah kurung dan burung, sarung dan belati. Isinya pergi kandangnya mati, burung pun terbang mencari jati diri. Dan jati diri lelaki itu tampaknya tak ditemui, mata pisaunya patah berkarat saat ia sekarat.
      Sebagai penenyebar aib, aku ikuti dia dengan khayal-khayalku. Orang-orang yang sudah kujerat sebagai kaki-tanganku, terus menggunjingnya. Mengajak semuanya untuk merindingkan bulu kuduk, mengabadikan horor yang kuat dan erat dengan kematian itu. Lelaki pengemban ria, pemabuk sanjung fuja, yang kerap berkoar pembela rakyat –tapi nyatanya penjilat itu matinya tak sempurna. Ia pendosa, kepergiannya tak sempurna. Bayangannya kerap muncul di depan rumah, di setiap perempatan jalan, di dalam mobil mewahnya, di dekat wanita-wanita gelapnya, hingga tak terkecuali bayangan itu menjelma di depan masjid. Mungkin hatinya mau insaf dan shalat, namun kematian telah menvonis dirinya tak membuka insaf dan tak menerima shalat. “Ah, sungguh malang nian nasibmu, kawan,” begitulah aku dan orang-orang bergumam.
      Segala kata dan ucap, kendati itu cuma igauan atau gumaman, nyata-nyatanya punya ruh yang mesti minta pertanggung-jawaban. Tak ada tirai untuk menutupi, akulah kini yang diminta pertanggungjawaban itu, kawan. Akulah yang mesti dihanguskan di padang merah, karena kalau tidak bau busuk itu akan terus menyengat. Bau busuk itu disebabkan atas aib sesama yang telah kutebar-tebar. Borok-borok bernanah adalah efek dari kerakusan insan yang telah memakan bangkai sesamanya.  Suatu kanibalisme yang parah dan menjijikkan!
      Memang hidup itu terserah kita. Mau hitam mau putih, tinggal pilih mana suka. Namun semua itu akan diperhitungkan di hari kemudian. Ketidakbedayaan akan datang menjegal, yakni ajal yang tak bisa ditolak. Ya, hidup memang bukan suatu tujuan, melainkan suatu perjalanan menuju kematian. Bukan menunggu kematian, hidup adalah menunda kematian, begitulah kata penyair besar bangsa ini.
      Dan, ketibaan itu kini datang menjegal langkahku. Memenggal leherku tanpa ampun, mengobok-obok tubuh, mencincang daging dan tulang-tulang hingga jantung keabadian.
      “Surantang telah mati…! Surantang telah mati…!” begitulah suara teriakkan kudengar di luar. Sungguh menyentak, terasa pedih menyayat hati, mengiris jiwa. Duh, Gusti kenapa kematian itu cepat menjemputku. Rasanya berita itu janggal kudengar, kenapa tak pakai ‘Innaa lillahi wa innaa illaihi raaji’uun’. Kenapa? Bukankah aku ini seorang tokoh, penelusur kehidupan yang didamba hamba-hambaMu?
       Kabar kematian itu menggelegar bak petir menyambar. Menghancurkan tubuhku, meluluh lantakan jiwaku, menggoyah pendirianku hingga oleng kemoleng. Mata hari yang padam, langit yang hilang, membuatku ambruk tersungkur dan ditelan bumi. Namun suara tentang kematian itu masih tetap kudengar, bahkan lebih jelas dan nyaring.
      “Surantang telah mati..Surantang telang mati!” begitulah, tak henti-hentinya. Di setiap tempat pertemuan, di warung-warung kopi, di perempatan jalan, di pasar-pasar, di emperan toko, di sembarang tempat. Mengabarkan fakta, pada suatu tiba. Seseorang yang tersiksa, bukan sakit di raga, melainkan sakit di nyawa. Sehingga tak ada yang mampu menolongnya. Para dokter tak berfungsi, rajuk anak-istri tak mampu mengobati.
      “Ini pengadilan jiwa, Bung, terima dan rasakanlah!”
      Aduh Gusti, gimana ini? Jangan lanjutkan, persoalannya begitu rumit. Ini benar-benar membingungkan. Banyak yang harus dibenahi,makanya tunggu dulu. Jangan lanjutkan, jangan putuskan!
      Ya, semuanya benar. Segala kata dan ucap, kendati itu cuma igauan atau gumaman, ternyata punya ruh yang minta pertanggung-jawaban. Jadi ini bukan igauan, bukan pula gumaman.Tapi nyata-tanya pengadilan tentang pertanggung-jawaban, akan ulah sebelumnya. Seorang penebar aib, pemakan bangkai sesama, yang tengah mabuk dan tersungkur di perjalanan, tatkala meraba kematian.
      Suara tangis itu akhirnya menggapai langit. Dan bau hangus yang busuk bangkai itu terasa menyeruak, bersama asap yang membumbung ke cakrawala.***@
                                                                                                (Pangandaran, Januari 2013).

Kematian Wak Haji Edi

(Cerpen Otang K.Baddy/Pikiran Rakyat 18 Maret 2012)

Entah kenapa kematian Wak Edi tiba-tiba jadi buah bibir. Di warung-warung , di setiap depan rumah, di persimpangan jalan, di perempatan atau pun pertigaan, di sembarang tempat, siang maupun malam seolah tak henti-hetinya dan tak bosan membicarakannya.

Yang paling heboh, katanya Wak Edi yang telah berhaji itu, matinya tidak sempurna. Arwah dan jasadnya tak diterima oleh langit dan bumi. Istilah mulih ke jati pulang ke asal itu tak mengena bagi Wak Edi. Sebab arwah dia mesih penasaran. Masih keluyuran, kerapkali muncul dengan jelmaan-jelmaan. Orang-orang tahu bahwa itu adalah namanya fitnah kubur. Perlakuan setan yang mau meggoyah iman manusia. Tahu itu, namun kalau keadaannya meresahkan apa hendak dikata. Dibilang tak boleh percaya atau jangan terpengaruh bagaimana bisa, sebab fakta di lapangan telah bicara. Banyak sudah orang meninggal di kampung itu, tapi kan tak seperti Wak Edi. Dari hari pertama meninggal sampai empatpuluh hari pun umumnya tak ada apa-apa. Tapi yang satu ini kenapa tiba-tiba jadi gunjingan warga?

Wak Haji Edi meninggal pada malam Rabu, setelah sebulan penuh katanya sakit. Orang bilang bukan penyakit fisik, melainkan penyakit hati. Katanya setiap malam tak bisa tidur, selalu resah dan gelisah. Diduga karena kelelahan, sejak duhur lelaki berusia nyaris 60 tahun itu ketiduran. Sementara istrinya merasa senang karena dalam sebulan penuh merasa khawatir akan penderitaan suaminya itu. Namun kesenangan itu berubah menjadi cemas dan menimbulkan tanda tanya pada istrinya. Kenapa sampai pukul sepuluh malam suaminya itu tak pernah bangun –semisal minta diambilkan air minum atau mengerang melampiaskan kebimbangannya? Oh, tenyata lelaki itu tidur seterusnya. Ia telah menemui ajalnya.

Seperti biasa ada yang meninggal, warga kampung segera ke pemakaman untuk menggali kubur. Namun sebagian orang mendadak kaget tatkala penggalian awal ditemuninya banyak akar menghambat galian.

“Aneh, tak seperti biasanya,” gerutu seseorang, kemudian dihamini oleh yang lain. Lalu timbul decakan-decakan keheranan di mimik mereka. Anehnya, kemunculan beragam akar di tengah ketiadaan pohon. Itulah yang menjadi tanda tanya di benak mereka. Mengingat lokasi di sana telah dipesan keluarga mendiang, penggalian tetap dilanjutkan walau banyak tersendat.

Namun berkat kegigihan dan kerja keras akhirnya liang lahat pun selesai digali. Mayat pun segera dikuburkan. Sebelum para pengantar pulang, tak lupa dipanjatkan doa; penyerahan jasad kepada bumi dan semoga almarhum diterima iman islamnya dan diterima di sisiNya. Amin…

Sebagaimana biasa, selama tujuh hari tahlil pun dijalankan di rumah korban. Dan kabar-kabar buruk pun muncul di hari berikutnya.

“Stt, Ki Edi matinya tak sempurna,” ujar seorang perempuan tetangganya almarhum pada orang yang ditemuinya, sebelum ditanya ia melanjutkan, “Tadi malam aku melihat dia masuk rumahnya pakai celana pendek.” Mungkin hanya penglihatan saja, ujar seseorang masgul. “Tidak, rupanya pun sangat jelas!”

Sebagian ada yang percaya, sebagian dianggapnya suatu yang mustahil. Bahkan berita itu dianggap angin berlalu, menguap begitu saja. Namun di lain tetangga muncul lagi kabar semacamnya. Malam jum’at, malam ketiga setelah kematiannya, sekitar pukul dua dini hari, seorang lalaki bercelana pendek, berkopiah putih dan nyelendang sarung lewat di jalan depan rumahku ke arah barat, ujar lelaki bernama Muhlis. Ke arah barat –suatu arah menuju rumahnya dari tempat di mana ia dikuburkan. Wajahnya sih kurang jelas karena lampu depan rumah Muhlis agak temaram. Entah pengaruh bangun tidur –karena ingin membuang air kecil—malam itu dirasanya sangat sepi. Siapa ya lelaki agak tua itu?, pikirnya seraya menyibakkan kain gorden di balik kaca ruang depan rumahnya. Belum terjawab pertanyaan di benaknya, tiba-tiba lelaki pejalan kaki tadi itu muncul kembali dari arah barat. Kepalanya yang berkopiah putih lusuh itu dikerudung sarung, begitulah Muhlis tetangga yang masih satu RT bercerita pada orang-orang yang ditemuinya. Mungkinkah lelaki yang berkopiah putih lusuh itu adalah..?

Ada pula yang bergidik mendengar kabar itu, terutama jika kabar itu diumbar malam hari. Namun tak sedikit yang menganggapnya itu suatu isyu atau sekedar bualan. Namun bagi yang percaya, kabar-kabar itu tetap disiarkan dari mulut ke mulut, hingga tanpa sadar menggelinding sampai ke keluarga almarhum. Kendati keluarganya menepis dengan menyebut fitnah dan mengada-ada, tampaknya di pikir mereka pun tak menutup kemungkinan apa yang terjadi. Pasepuh di kampung itu yang anaknya jadi Kadus, segera dihubungi agar mengamankan situasi. Sebelum pergi menyambangi kuburnya, di rumah keluarga almarhum itu segera diadakan ruwat dengan doa-doa. Semua jendela kamar di rumah itu dibukanya lebar-lebar. Perlakuan yang terang-terangan itu karuan saja menarik perhatian warga, terutama para tetangga terdekat. Mereka menyaksikannya dengan setengah mengendap-endap, sembunyi-sembunyi seraya mengumbar bisik. Kabar yang kemudian menyentak dan menambah kepercayaan mereka, menurut informasi secara tidak langsung dari pasepuh dan Kadus, kuburan Wak Haji Edi copong melongpong.Tak ada jasad busuk atau kerangka ditemukan di sana. Tinggal kain kapan semata. Masya Allah, begitu banyak tingkah kematianmu Wak Edi? Begitulah omong-omong warga.

Anehnya, tak ada yang bertanya secara langsung pada pasepuh dan Kadus itu. Misanya, benarkah kakek akan keberadaan kuburan itu? Yakinkah Pak Kadus melihatnya dengan mata kepala sendiri? Tak ada sama sekali. Berita horor agaknya tak ada pembuktian yang jelas alias samar-samar. Pasepuh, pengurus orang yang meninggal, termasuk Pak Kadus, masing-masing diberi sebungkus rokok. Rokok itu dibeli istri almarhum dari warung kopi-nya Zakiah. Masih menurut kabar burung, bungkusan rokok itu sebenarnya bukan mutlak sebagai imbalan bagi pengurus itu, melainkan merupakan suatu syarat meredam si arwah penasaran dimana almarhum semasa hidupnya perokok berat. Entah benak-benak mereka tersugesti atau terinspirasi buat menjamurnya beberapa ilusi menyusul diadakannya sebuah ruwat. Tiba-tiba Zakiah pemilik warung kopi dan gorengan itu, pagi-pagi menyiarkan kabar yang dialaminya menjelang fajar.

Ceritanya, saat tengah menggoreng tempe (gorengan) di celah ventilasi anyaman bambu di depan mata, ia melihat nyala sebatang rokok yang tengah diisap. Namun wudud dari pengisapnya itu tak tampak, sehingga rokok itu bagai di awang-awang. Tak tahan dengan ‘manuver’ itu segera ia membangunkan Manan, suminya. Tatkala Manan keluar, ia meliat sosok lelaki tua sekira sepuluh meter berjalan di keremangan gang. Ia kejar lelaki itu, namun di dekat pohon salak tiba-tiba menghilang. Manan mencurigai sosok itu adalah orang nggak benar, misalnya pencuri malam. Tapi hatinya agak sungkan juga untuk mengejar mencari pembuktian lebih jauh, di samping ada rasa merinding di bulu kuduk. Peristiwa itu sekitar pukul empat kurang, menjelang subuh. Dibenarkan pula oleh tetangga lain yang bernama Juhadi –siempunya rumah setelah pohon salak , di mana ditemui Manan sosok tubuh itu menghilang. Juhadi terbangun tatkala dua anjingnya keras menggonggong tatkala lewat sosok lelaki tua berkopiah haji lusuh dikerudung sarung. Lelaki itu di mata Juhadi berhenti sejenak, lalu melanjutkan langkahnya ke arah timur.

“Kalau begitu sosoknya sama seperti apa yang pernah dilihat Muhlis,ya,” kata seseorang di warung Zakiah.

“Tak disangka Wak Haji, mungkin ia tak tahu arah pulang.”

“Bisa saja, atau mungkin kematiannya tak disadari karena tanpa ada yang menuntun kalimah toyibah. Matinya saat tidur. Sedang saat tidut nyawa itu keluar, atau pergi jauh, sedang tatkala nyawa hendak masuk tak bisa karena raganya telah dikubur,” sambung yang lain.

“Tapi kan alasan kematian itu karena rusaknya sebuah kurungan, sehingga burungnya keluar?”

“Iya sih, memang begitu. Tapi kan semua juga tahu bahwa Haji Edi bukan sakit di raga, dia mengakuinya secara langsung. Penyakit di hati. Ia sakit hati dan penuh rasa malu tatkala beberapa tanah hasil akal-akalannya kembali diambil turunan pemiliknya semula.”

“Wualah, yang benar lur?”

“Iya dong, katanya harta yang dimiliki lelaki yang senang dipanggil haji itu kebanyakan masih riba.”

Begitulah suara-suara miring yang berkembang. Namun gunjingan-gunjingan itu lambat-laun semakin menghilang. Dan tak terasa kematian Wak Haji telah sampai 40 hari. Maka acara tahlil, pembacaan Yasin dan do’a bersama ke 40 hari pun digelar di rumah keluarga almarhum. Sebagaimana umumnya keluarga yang mampu dan kreatif, para warga yang hadir selain diberikan makan dan snack juga dibagikan sovenir berupa Surath Yasin berukuran saku yang di samfulnya terpampang poto almarhum. Lumayan buat mengenang 40 hari wafatnya Wak Haji Edi, katanya.

Namun tiba-tiba warga mendadak geger ketika mendengar jerit histeris seorang perempuan di tengah malam. Perempuan yang masih tetangga almarhum itu tak tahan tatkala melihat foto di samful Yasin itu seakan hidup dengan mata yang mendelik-delik. Masya Allah!(*)

Terjebak di Jalan Berlumpur

Cerpen Otang K.Baddy (Lampung Post 27 Oktober 2013)
Sejak sebelum tiga dekade ini tak sedikitpun terbersit jika kehidupan kami semua bisa terperangkap di jalanan berlumpur. Yang tak cuma sekedar kotor, basah dan lembab,tapi kadang gelap dan dingin. Menggigil dan bulu-bulu pun merinding.

Mungkin sebelum tiga dasawarsa itu kami belum dewasa, sehingga segala langkah perjalanan hidup senantiasa diasuh oleh ibu. Tidur dan bangun selalu dikawal ibu. Tidur ditidurkan, bangun dibangunkan. Mandi dimandikan, makan disuapkan. Bermain dan bepergian senantiasa dikawal. Jadi segalanya terjamin selamat.

Seiring dengan bertambahnya usia, baik itu usia hidup dan kehidupan, ibu kami meninggal dengan satu pesan: “Awas, hati-hatilah dalam melangkah, jangan sampai terperosok dalam lumpur,” ujarnya beberapa menit sebelum meninggalkan kami selamanya.

“Jangan khawatir, Bu. Percayalah pada kami, sebab kami kini sudah mulai dewasa!” begitulah kami menandaskan dengan nada sepele demi menyenangkan kepergiannya yang semula tampak cemas.

Kami pun mengaku dewasa.

Kami pun merasa tak perlu dan tak butuh diberondong nasehat lagi, terlebih dalam masalah melangkah atau pun berjalan. Toh kami semua sudah punya prinsip dan jalur masing-masing. Bahwa untuk menyambung hidup perlu adaptasi dengan lingkungan dan pandai menyesuaikan jaman.

Namun setelah semuanya jatuh pada keluh atau igauan, pesan-pesan yang sering terucap dari ibu selalu mengusik hati kami yang labil.

“Di jalanan berbatu putih ini rukun-rukunlah kalian semua. Jika merasa gamang dan takut jatuh, peganglah tongkat biar teguh,” katanya dulu ketika kami belajar berjalan menapaki hidup. Kami pun saat itu tak lepas dari yang namanya tongkat. Baik menanjak atau pun menurun, perjalanan terus tapaki dengan tabah. Kami tak pernah oleng apalagi terjatuh, kendati sepanjang perjalanan tak hentinya ditempa angin yang hendak menjatuhkan.

Ah, betapa senangnya saat itu.

Tapi sejak kepergian ibu. segala nasihat atau isyarat, tak satu pun yang kami gubris. Terlebih setelah dusun kami dan sudut-sudut petani terancam pelebaran kota. Berhektar tanaman berbunga dan kehijauan daun, terancam punah. Wangi kembang yang mekar, harum tanah gembur sisa hujan semalam, kini tak kami temukan lagi. Area tanaman berbunga serta tanah-tanah gembur kini lumat tertimpa sampah plastik dan tembok beton.

Begitu pun dalam hal jalan, kini sudah jauh bergeser. Sejujurnya kami tak mampu menolak tatkala pertama jalan berbatu putih itu tiba-tiba akan digantikan dengan aspal yang hitam. Juga saat itu tak gubris ketika ada lelucon yang menafsirkan kata ‘aspal’ itu adalah keaslian palsu, dan ‘hitam’ berarti gelap. Rasanya tak perlu lelucon itu kami dengar. Namanya juga lelucon, jika pun umpama mengena, semua itu bukan semata-mata perkataan bijak. Tapi lebih kepada ‘kirata’ alias dikira-kira tapi nyata. Maka kami abaikan sepenuh jiwa.

Setelah jalanan hitam itu dibangun ke segala arah dan sudut kampung, kami semua membuang tongkat. Kami semua membuang tradisi. Kalau sebelumnya berjalan itu beriringan dan bergandengan tangan, kini semuanya berlari bak suatu balapan. Tak jarang kami pun saling menyalip dan saling jegal satu sama lainnya. Sampai pada waktu tertentu kadang saling membunuh. Membunuh nyawa maupun karakter.

**

Jalanan itu memang terus ramai dan memikat. Betapa tidak, bagi kami dan orang-orang yang tergesa cukup menempuh jalan pintas ini. Jalanan yang lengang berbatu dan berlumut, untuk sementara kami tinggalkan. Sebab yang kami cari selama ini berupa perhiasan barang-barang antik demi menyemarakan kota kami yang kian berkembang. Karenanya harus serba cepat dan tergesa, sebab kalau tidak segalanya akan tertinggal. Begitulah naluri kami.

“Marilah akang-akang yang ganteng dan kalem, pilihlah jalur kami!” kata para perempuan-perempuan cantik di jalanan itu. Kendati bibir dan alis mereka bergincu, tak mengurangi daya tarik untuk merengkuhnya. Sebaliknya kami makin gila, seluruh indera telah kami gadaikan untuknya.

Perempuan-perempuan di gerbang di jalanan itu bukan para ibu bagi anaknya, pun bukan para istri dari suaminya. Mereka jauh terbalik dengan sosok ibu kami. Sebab yang kami lihat mereka tak satu pun yang membawa anak, juga tak seorang pun yang bersama suami. Mereka itu perempuan liar bak ular. Tentu saja sebagai mahluk yang gila kami pun sangat cocok untuk memilikinya.

“Kami tercipta hanya untukmu akang,” katanya lembut. Sejuta pesona pun ia tawarkan pada kelelakian kami. Dan akhirnya kami pun berebutan untuk merangkulnya, untuk mengoleksinya. Hingga jatuh kesepakatan bersama bahwa inilah sebenarnya yang kita sebut barang antik. Inilah sebenarnya yang harus kita buru!

“Dunia ini tak akan sempurna jika tanpa adanya perempuan!” begitulah kami berkata pijak. Dengannya kami pun jadi merasa terhormat karena mampu mengantongi barang-barang berharga itu. Hingga melengganglah kami ke puncak kekuasaan.

Sebagai pemangku negeri kami pun peduli akar rumput. Demi wujud nyata kami segera turun ke bawah, terutama ke daerah-daerah pariwisata yang kubangun atas kebijakan kami. Namun alangkah terkejutnya ketika jalanan yang kami lewati itu berlumpur. Celakanya lelumpur itu begitu tebal, melebihi sawah bajakan.

“Selamat datang di negeri lumpur!” Satu spanduk besar menyambut kedatangan rombongan kami sebagai penguasa. Terpangpang di atas di gerbang wisata itu dengan tampilan wajah figur kami yang ramah. Di tepi kiri-kanan, para kolega atau pun para jelata tampak hormat dan menahan nafas. Tanpa pembangkang, semunya menyembah kami.

Selepas gerbang kami menemukan beraneka ragam pengemis. Ada perseorangan, kelompok atau komunitas. Mereka, kalau tak menadahkan tangan cukup memasang kantong jaring sebagai penampung sedekah kami. Seraya melambai, kami taburkan receh untuknya. Namun mereka tampak antipati dengan tindakkan kami. Wajah-wajah mereka tampak cemberut, mungkin apa yang kami berikan tak sepadan.

Sebenarnya bukan tak mau memberi yang lebih, tapi ini demi mengimbangi jumlah pengemis yang tak ada hentinya di jalanan berlumpur itu. Bahkan kami lewati nyaris tanpa ujung. Sementara kendaraan yang kami tumpangi semakin ringkih, pekat merayap. Hingga tanpa kami duga terperosok ke dalam kubangan yang dalam.

Dalam keterpurukan itu terbersit pikiran yang nyaris brilian; “Pihak yang bertanggung jawab atas rakyatnya adalah pemerintah, maka apapun yang terjadi di negara itu akibat perilaku para pemimpin yang sah di negera itu. Sebab pemerintahlah yang bisa mereka situasi. Mau aman atau kacau, tergantung kemauan.”

Menyadari semuanya, dengan suara meringik dan merunguk kami pun manangis. Sementara para pengemis itu tertawa, sebelum kemudian beringas memburu kami yang berloncatan bertampang cecurut dan monyet.(*).