6 Juli 2015

Kehidupan Setelah Kematian

1-IND-after-death

Abstraksi

Kasus-kasus penelitian tercatat yang tak terhitung jumlahnya mengenai pengalaman-pengalaman kehidupan masa lampau menunjukkan jelas tentang kehidupan setelah kematian. Dalam semua kasus yang tercatat tentang reinkarnasi, ditemukan bahwa ada jeda waktu tidak tetap antara kematian seseorang dan reinkarnasi berikutnya di Bumi. Jadi, kemana kita pergi setelah kematian sampai dengan reinkarnasi kita kembali di Bumi? Apakah tempat tersebut berupa alam eksistensi/ keberadaan tunggal atau terdiri dari berbagai alam eksistensi? Jika demikian, apa faktor-faktor yang menentukan kemana kita pergi setelah kematian? Pada artikel ini, kami menyajikan jawaban untuk hal tersebut dan pertanyaan-pertanyaan lainnya tentang topik ini. Jawaban-jawaban ini diperoleh melalui penelitian spiritual yang dilakukan oleh para pencari Tuhan dari Yayasan Penelitian Ilmu Spiritual (SSRF) dengan indra keenam yang mendalam (ESP).

Catatan: Untuk memahami artikel ini dengan lebih baik, dianjurkan agar anda membaca artikel tentang tiga komponen-komponen dasar halus sattva, raja dan tama.

Daftar isi [Tampilkan]
1. Apakah yang terjadi setelah kematian?

Penelitian spiritual telah menunjukkan bahwa manusia terdiri dari empat tubuh dasar sebagai berikut:

Fisik
Mental
kausal atau intelektual (kecerdasan)
Suprakausal atau ego halus (tak kasat mata)

Gambar di bawah adalah diagram representasi dari terdiri dari apakah manusia.

2-IND-comprised-of
3-IND-Subtle-body-after-death

Ketika seseorang meninggal, tubuh fisiknya berhenti untuk hidup. Namun, sisa eksistensi atau kesadarannya terus berlanjut. Eksistansi orang tersebut, minus tubuh fisiknya dikenal sebagai tubuh halus (lingga deha) dan terdiri dari tubuh-tubuh mental, kausal (intelek) dan supracausal (ego halus). Tubuh halus ini kemudian pergi ke salah satu dari 13 tempat (alam-alam) eksistensi halus selain alam Bumi.
2. Ke-14 alam-alam/ tempat eksistensi di alam semesta

Ada 14 tempat utama di dalam alam semesta ini. Tujuh (7) dari mereka adalah tempat positif dan tujuh lainnya adalah tempat negatif. Ke tujuh tempat negatif biasanya dinamakan sebagai Neraka (Pataal). Terdapat banyak divisi lainnya di setiap ke 14 tempat tersebut.

Definition of Dharma (Righteousness)Tujuh alam-alam eksistensi positif: Tempat ini ditempati oleh tubuh rohani yang melakukan perbuatan baik dan melakukan praktik spiritual sesuai dengan jalan positif dari ajaran spiritualitas. Dengan jalan positif, kita artikan sebagai orientasi praktik spiritual menuju kesadaran Tuhan atau bersatu dengan Tuhan seutuhnya (Pencerahan). Bersatu dengan Tuhan seutuhnya, adalah tujuan paling utama dalam pertumbuhan spiritual.

Alam Bumi adalah satu-satunya alam fisik eksistensi di alam semesta dan juga merupakan alam eksistensi pertama dalam hirarki alam-alam eksistensi positif di alam semesta.

Tujuh alam-alam eksistensi negatif: Tempat ini kebanyakan ditempati oleh tubuh rohani yang telah melakukan kejahatan serta melakukan praktik spiritual sesuai dengan jalan yang negatif dari ajaran spiritualitas. Dengan jalan negatif, kita artikan sebagai orientasi praktik spiritual dengan kekuatan-kekuatan spiritual, misalkan kekuatan supranatural atau ilmu kesaktian. Kekuatan spiritual ini digunakan untuk tujuan yang negatif. Dengan demikian semua tubuh rohani/ halus yang pergi ke salah satu alam-alam eksistensi neraka, menjadi hantu berdasarkan niat-niat jahat mereka.

Lihat di arikel, ‘Apakah hantu itu’?

Sub alam eksistensi dari Neraka (Narak): Setiap alam eksistensi neraka (Paataal) memiliki sub/ bagian alam yang dikenal sebagai Narak. Contohnya, alam eksistensi pertama dari Neraka akan memiliki di dalamnya sub alam yang dikenal sebagai Narak pertama. Narak dicadangkan untuk hantu terburuk (setan, iblis, energi negatif, dll) di dalam Neraka. Para hantu (setan, iblis, energi negatif, dll) yang mendiami Narak pertama ini menghadapi hukuman yang lebih parah dan untuk durasi yang lebih lama dibandingkan dengan mereka yang mendiami alam eksistensi pertama dari neraka.

Diagram di bawah ini menunjukkan ke-14 alam-alam eksistensi di Alam Semesta.

4-IND-Regions

Mohon dicatat:

Untuk lebih sederhana, meskipun kami telah menunjukkan alam-alam eksistensi satu di atas yang lain dalam diagram ini, pada kenyataannya mereka ada di sekitar kita di segala penjuru. Hanya saja bumi karena merupakan alam fisik yang nyata bisa terlihat: sedangkan alam lainnya semakin lebih halus sehingga tak terlihat dengan kasat mata. Bahkan, berbeda orang meskipun hidup di alam eksistensi Bumi mengalami pemikiran-pemikiran dan emosi-emosi yang sesuai dengan alam-alam eksistensi yang berbeda sesuai tingkat spiritual atau pemikiran mereka. Contohnya untuk Saints (orang-orang Suci), yaitu orang yang telah berkembang secara spiritual melebihi tingkat spiritual 70%, menyebabkan eksistensi/ keberadaan yang sesuai dengan alam-alam eksistensi positif Surga dan seterusnya. Sebaliknya seseorang yang merencanakan pencurian mengalami pemikiran-pemikiran terkait dengan alam eksistensi ke-1 dari Neraka, seseorang yang merencanakan beberapa tindakan yang bertujuan merugikan orang lain terkait dengan alam ke-2 dari Neraka dan sebagainya dan orang yang merencanakan pembunuhan mengalami pemikiran-pemikiran terkait dengan alam eksistensi ke-7 dari Neraka. Namun 2 alam eksistensi tidak dapat dialami secara bersamaan, yaitu seseorang tidak bisa mengalami pemikiran-pemikiran terkait dengan 2 alam yang berbeda, misalnya Surga dan Mahālok.
Alam eksistensi Nether (Bhūvalok) tepatnya adalah daerah yang menjauh dari Tuhan, karenanya adalah alam negatif. Kami bagaimanapun telah menggambarkannya sebagai alam positif karena tubuh-tubuh halus dari alam ini masih memiliki kesempatan untuk dilahirkan di Bumi untuk maju secara spiritual. Sekali tubuh-tubuh halus mundur ke salah satu dari alam-alam Neraka, maka kemungkinannya kecil untuk mereka dilahirkan di Bumi dan maju ke arah Tuhan.

Penjelasan di balik skema warna yang digunakan

Bumi digambarkan berwarna kemerahan karena mewakilkan aksi/ tindakan (yaitu komponen dasar non-fisik/ halus raja), di mana Bumi adalah satu-satunya alam di mana kita memiliki tubuh fisik untuk melakukan sesuatu.
Surga telah digambarkan dalam warna merah muda, yang mewakili berlimpahnya kebahagiaan.
Kuning mewakili pengetahuan spiritual dan peningkatan dalam komponen dasar halus sattva. Warna kuning Ini akhirnya akan menjadi hampir putih pada tahap tertinggi, yang menggambarkan kedekatan dengan prinsip Tuhan tak berwujud.
Wilayah-wilayah Neraka diwakili oleh warna gelap sampai hitam, karena adanya peningkatan dalam komponen dasar non-fisik tama.

3. Surga dan alam-alam eksistensi positif lainnya di Alam Semesta (setelah kematian)
Kehidupan setelah kematian mati

Catatan (berdasarkan nomor-nomor merah pada tabel di atas) :

Setiap alam eksistensi positif dan negatif di luar batasan alam (fisik) eksistensi Bumi menjadi semakin halus (tak kasat mata) sesuai dengan hirarkinya. Maksud kami dengan ‘Halus/ non-fisik’ adalah yang melampaui pemahaman panca indera, pikiran dan intelek. Satyaloka adalah yang terhalus, yaitu yang paling sulit untuk dilihat atau dipahami kecuali indra keenam (ESP) tingkat tertinggi telah dicapai.
Akibat kurangnya praktik spiritual, kebanyakan orang di zaman sekarang pergi ke dunia Nether ataupun alam-alam eksistensi Neraka setelah kematian. Kita biasanya pergi ke dunia Nether setelah kematian ketika proporsi kejahatan (yang timbul akibat perbuatan-perbuatan salah di Bumi) sekitar 30%. Kejahatan, pada umumnya termasuk niat jahat terhadap orang lain dan banyaknya hasrat keinginan seseorang. Di dunia Nether, kemungkinan akan diserang oleh hantu-hantu dengan tingkat yang lebih tinggi dari alam eksistensi lebih rendah di Neraka hampir dipastikan.
Bumi adalah satu-satunya alam eksistensi di mana terdapat suatu penggabungan dari orang-orang dengan berbagai tingkat spiritual. Namun, setelah kematian kita pergi ke alam eksistensi yang sesuai dengan tingkat spiritual kita.
Tingkat spiritual minimum yang diperlukan untuk mencapai Surga setelah kematian adalah 60%. Silakan mengacu kepada artikel, yang menggambarkan apa itu tingkat spiritual dan rincian populasi dunia pada tahun 2006 sesuai dengan tingkat spiritual. Pada dasarnya, dari sudut pandang ilmu pengetahuan spiritual, perbuatan-perbuatan mulia untuk mencapai Surga atau alam eksistensi positif yang lebih tinggi adalah tindakan-tindakan yang dilakukan dengan tujuan untuk mencapai kesadaran Tuhan. Tiga kriteria berikut dapat diterapkan sebagai acuannya.
Tindakan-tindakan yang dilakukan tanpa doership, yaitu dengan pandangan bahwa Tuhan sendiri melakukan tindakan itu atas diri kita dan oleh sebab itu saya tidak dapat mengklaim pengakuan apapun.
Dilakukan tanpa mengharapkan pujian atau penghargaan.
Dilakukan tanpa mengharapkan hasil.Lebih dari tindakan semata, adalah sikap atau pandangan di balik tindakan tersebut yang lebih diperhitungkan.
Untuk mencapai alam eksistensi lebih tinggi yang melampaui Surga, seseorang harus berada pada tingkat spiritual di atas 80%. Ini hanya dapat dicapai dengan praktik spiritual yang konsisten sesuai dengan enam hukum-hukum dasar dari praktik spiritual, bersamaan dengan pengurangan besar dalam ego.
Dengan tubuh dominan, maksud kami adalah tubuh yang paling aktif, yaitu tubuh mental, intelek (kecerdasan) atau ego halus. Sebagai contoh, pada alam eksistensi Nether (Bhuvalok), tubuh halus masih memiliki banyak hasrat keinginan dan kemelekatan. Akibatnya, sering kali mereka menjadi hantu yang kerap berusaha untuk memenuhi beberapa hasrat keinginan mereka. Hal ini membuat mereka terbuka terhadap serangan hantu-hantu dengan tingkat lebih tinggi dari anak tangga lebih rendah di Neraka yang ingin mengambil keuntungan dari ketergantungan-ketergantungan mereka dengan tujuan untuk mempengaruhi orang-orang di Bumi.
Di dalam alam eksistensi Nether kita mengalami beberapa kebahagiaan. Namun, ketidakbahagiaan di alam tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan ketidakbahagiaan yang dialami di Bumi.
Dalam alam eksistensi Surga, tubuh-tubuh halus/ rohani mengalami kelimpahan berlebih dari kebahagiaan. Kebahagiaan ini jauh melebihi kebahagiaan yang dialami di Bumi baik dalam jumlah, kualitas maupun durasinya. Ketika kita bergerak menaiki alam eksistensi positif, terdapat peningkatan dalam kualitas kebahagiaan dan tidak ditemukannya ketidakbahagiaan.
Kebahagiaan Sattvik berarti kebahagiaan yang berasal dari membantu orang lain tanpa harapan atau pamrih. Ketika ego terlibat dalam bertindak, tindakan itu menjadi raajasik.
Serenity (ketenangan abadi) adalah pengalaman spiritual yang lebih tinggi daripada Bliss (Kebahagaian abadi).

3.1 Alam-alam eksistensi positif dan reinkarnasi di Bumi

Setelah kematian, orang-orang yang berada di alam-alam eksistensi di bawah Mahālok perlu be reinkarnasi di alam Bumi untuk melunasi takdir dan menyelesaikan akun-akun memberi-dan-mengambil (give-and-take account) yang mereka miliki.

Jika seseorang mencapai Mahālok dan Janalok setelah kematian, itu berarti tingkat spiritual mereka di atas 80%. Jiwa-jiwa ini tidak perlu bereinkarnasi lagi karena semua takdir yang tersisa (akumulasi akun) dapat diselesaikan dari alam-alam eksistensi itu sendiri. Namun tubuh-tubuh halus yang telah berevolusi ini boleh memilih untuk dilahirkan atas kehendak mereka sendiri. Mereka melakukannya terutama untuk bertindak sebagai pemandu-pemandu spiritual bagi umat manusia.

Dalam beberapa kondisi tertentu, orang-orang yang meninggal di tingkat spiritual 60% dapat mencapai Mahālok. Di sini potensi seseorang untuk pertumbuhan spiritual lebih lanjut dapat dipertimbangkan. Melalui penelitian spiritual, kami telah menemukan adanya 5 faktor yang mempengaruhi potensi untuk pertumbuhan spiritual lebih lanjut dari orang tersebut.

Memiliki jumlah emosi spiritual (bhāv) yang tinggi,
Memiliki ego yang rendah,
Memiliki keinginan yang kuat untuk pertumbuhan spiritual,
Melakukan praktik spiritual teratur dengan tingkatan yang semakin tinggi,
Terpengaruh atau tidak terpengaruh oleh energi-energi negatif.

Dipengaruhi oleh energi-energi negatif sangatlah menghambat kemampuan seseorang untuk dapat tumbuh secara spiritual. Maka, jika seseorang berada di tingkat spiritual 65% tetapi sangat terpengaruh oleh energi-energi negatif, kemampuannya untuk mencapai alam-alam spiritual yang lebih tinggi seperti Mahālok, menjadi terbatas.

Jika seseorang mencapai Tapalok atau Satyalok setelah kematian, maka orang tersebut tidak mengambil kelahiran lagi di alam eksistensi Bumi tetapi terus melakukan praktik spiritual di alam eksistensi itu sampai ia bersatu sepenuhnya dengan Tuhan.
3.2 Pentingnya alam eksistensi Bumi

Alam eksistensi Bumi amatlah penting. Ini adalah satu-satunya alam eksistensi di mana kita bisa membuat pertumbuhan spiritual yang cepat dan melunasi perhitungan/ akun memberi-dan-mengambil kita dalam periode waktu yang paling singkat. Alasan utama untuk hal ini adalah dengan bantuan tubuh fisik, kita bisa melakukan banyak hal untuk meningkatkan pertumbuhan dan tingkat spiritual kita serta mengurangi komponen dasar non-fisik tama.

Selain dari Bumi, pertumbuhan spiritual kemungkinan besar hanya terjadi di wilayah-wilayah di atas Surga seperti Mahaaloka dll. Hal ini disebabkan oleh karena, tubuh halus di Surga menjalani resiko akan terperangkap dalam kesenangan tanpa akhir yang ditawarkan di Surga. Dalam alam-alam eksistensi Bawah (Nether) dan Neraka (setelah kematian), hukuman yang begitu berat dan juga tekanan dari hantu-hantu dengan tingkat yang lebih tinggi adalah sedemikian rupa, sehingga menjadi sangat sulit bagi seseorang untuk bangkit dari penderitaan yang dialaminya di alam-alam tersebut untuk melakukan suatu praktik spiritual yang bernilai.
4. Apakah itu Neraka, siapa yang pergi ke Neraka dan seperti apakah Neraka itu?

Perjalanan kita setelah kematian meninggal kehidupan

Sewaktu seseorang pergi ke alam eksistensi lebih rendah dari Neraka, akibat semakin berkurangnya komponen dasar halus sattva secara bertahap, lingkungan menjadi semakin kurang kondusif untuk mengalami kebahagiaan.
Dalam alam eksistensi Neraka, ada beberapa hantu/ iblis yang melakukan beberapa jenis praktik spiritual tertentu untuk mendapatkan kekuatan spiritual. Dalam hirarki para hantu, yang tertinggi adalah penyihir dari alam eksistensi ketujuh Neraka. Mereka memiliki kekuatan spiritual sangat besar yang hampir setara dengan Saint (orang-orang suci) pada tingkat spiritual 90%. Mereka mengendalikan semua jenis hantu lainnya yang kekuatan spiritualnya lebih rendah.
Ketika seseorang pergi lebih dalam ke berbagai alam-alam eksistensi Neraka, yaitu dari tingkat ke-1 sampai ke-7, tingkat kebahagiaan yang dialami oleh tubuh/ roh halus di dalam alam eksistensi tersebut terus menurun dan tingkat ke tidakbahagiaannya terus berlipat ganda. Minimnya pengalaman akan kebahagiaan di akibatkan juga karena tenggelam dalam kenangan peristiwa-peristiwa positif di masa lalu, kenangan yang menyenangkan akan harta kekayaan dalam kehidupan masa lalu, dst. Pengalaman ke tidakbahagiaan disebabkan karena kenangan akan rasa sakit fisik dan peristiwa-peristiwa penghinaan, kenangan dari hasrat keinginan yang tidak terpenuhi, misalnya tentang pendidikan, rumah, karir, harapan akan kebahagiaan anak-anak dalam kehidupan masa lalu orang tersebut.
Besarnya hukuman/ rasa sakit yang harus dijalani di berbagai alam eksistensi Neraka (Paataal) dan Narak yang terkait, terus meningkat sesuai dengan alam eksistensi Neraka berikutnya. Masa hukuman yang akan dialami di setiap Narak juga lebih besar dibandingkan dengan alam eksistensi Neraka yang terkait dengan Narak tersebut. Jika kita mempertimbangkan hukuman di alam eksistensi pertama Neraka sebagai 100%, maka hukuman di wilayah Narak pertama yang terkait adalah 50% lebih besar, yaitu 150%.

Tabel berikut merupakan gambaran dari contoh-contoh kebahagiaan dan ketidakbahagiaan beserta intensitas rata-ratanya yang kita alami di dalam berbagai alam eksistensi Neraka

Perjalanan manusia kehdiupan setelah meninggal kematian
5. Pergerakan di antara alam-alam eksistensi halus di Alam Semesta

Alam eksistensi ditentukan untuk seseorang sesuai dengan sifat dasar orang tersebut dalam hal sattva, raja dan tama. Penentuan alam eksistensi tersebut juga merupakan satu fungsi dari tingkat spiritual seseorang. Oleh karena itu, tubuh halus dari alam eksistensi positif yang lebih rendah tidak bisa pergi ke alam eksistensi positif yang lebih tinggi dan mereka yang berasal dari alam eksistensi negatif pertama dan kedua tidak bisa pergi ke alam eksistensi Neraka yang lebih dalam (ketiga dst). Hal ini serupa dengan bagai mana orang yang tinggal di bidang datar merasa sulit bernapas pada ketinggian yang lebih tinggi, tapi orang-orang yang tinggal diketinggian lebih tinggi dapat menangani kondisi itu dengan baik.
6. Apa yang menentukan kemana kita pergi setelah kematian?

Pada saat kematian, sewaktu tubuh fisik menjadi tidak aktif, energi vital yang digunakan untuk fungsi tubuh fisik di bebaskan ke Alam Semesta. Energi vital ini mendorong tubuh halus menjauh dari wilayah Bumi pada saat kematian. Sama seperti berat proyektil menentukan seberapa jauh roket dapat mendorong nya, demikian pula berat dari tubuh halus menentukan ke alam eksistensi mana tubuh halus tersebut pergi dalam alam-alam eksistensi halus di kehidupan setelah kematian.

‘Berat’ dari tubuh halus itu terutama merupakan fungsi dari jumlah komponen dasar halus tama dalam diri kita.

IND-Sattva-Raja-Tama-Chart

Ke-3 komponen dasar halus: Kita masing-masing terdiri dari tiga komponen dasar halus/ non-fisik (tak kasat mata) atau gunas.Komponen ini bersifat spiritual dan tidak dapat dilihat, tetapi mereka menentukan kepribadian-kepribadian kita. Ketiga komponen itu adalah:

Sattva: Kemurnian dan pengetahuan
Raja: Aksi dan gairah
Tama: Ketidaktahuan dan inersia. Di dalam rata-rata orang di era saat ini, komponen halus dasar tama mereka mencapai 50%.

Silahkan baca artikel tentang 3 komponen dasar halus

Semakin kita dipenuhi dengan komponen-komponen raja dan tama, semakin kita menampilkan karakteristik-karakteristik berikut yang menambah ke dalam ‘berat’ kita dan berdampak pada alam eksistensi mana kita pergi dalam kehidupan setelah kematian:

Lebih melekat pada hal-hal duniawi dan keegoisan
Lebih banyak hasrat keinginan yang tak terpenuhi
Perasaan-perasaan balas dendam
Lebih tingginya jumlah kekurangan atau perbuatan-perbuatan salah
Lebih tingginya jumlah gangguan kepribadian seperti marah, takut, keserakahan, dll.
Jumlah ego yang lebih tinggi: Dengan ego maksud kami adalah berapa banyak seseorang mengidentifikasikan dirinya dengan tubuh, pikiran dan intelek (kecerdasan) dan bukan dengan jiwa (roh/ atma) di dalam
Menghasilkan tingkat spiritual yang lebih rendah

Penurunan permanen dalam proporsi komponen dasar halus tama dan karakteristik-karakteristik terkaitnya seperti yang disebutkan di atas, dapat terjadi hanya dengan melakukan praktik spiritual terus-menerus yang sesuai dengan enam hukum dasar dari praktik spiritual. Perbaikan psikologis melalui buku-buku perbaikan diri atau mencoba bersikap baik hanyalah bersifat dangkal dan sementara.
6.1 Pentingnya keadaan mental sesaat sebelum meninggal

Keadaan mental sesaat sebelum kematian, selain dari apa yang telah disebutkan di atas, sangatlah penting. Keadaan mental kita pada umumnya berhubungan dengan proporsi komponen-komponen dasar non-fisik di dalam diri kita.

Jika seseorang benar-benar melakukan praktik spiritualnya seperti mengucap dan merepetisikan (mengulang) Nama Tuhan pada saat kematian, maka pengaruh dari hasrat keinginan, kemelekatan, hantu, dst menjadi seminimal mungkin bagi orang itu dibandingkan dengan keadaan di mana dia tidak mengucap dan merepetisikan. Hal ini membuat tubuh halusnya menjadi lebih ringan. Oleh karena itu, jika ia meninggal dunia seraya mengucap dan merepetisikan, ia akan mencapai alam eksistensi yang lebih baik di antara alam-alam eksistensi, dari apa yang seharusnya ia capai jika ia meninggal tanpa mengucap dan merepetisi.

Sesaat sebelum kematian, jika seseorang mengucap dan merepetisikan Nama Tuhan YME dan juga dalam keadaan berserah pada kehendak Tuhan, maka ia mencapai alam eksistensi yang bahkan lebih baik dalam kehidupan setelah kematiannya (akhirat). Perhentian sementaranya pun ditempuh dengan kecepatan cahaya. Hal ini disebabkan oleh karena orang yang berada dalam keadaan berserah di alam eksistensi Bumi itu sendiri, memiliki kemungkinan yang sangat kecil untuk meningkatkan egonya dalam kehidupan setelah kematiannya. Seluruh tanggung jawab atas kesejahteraannya dalam kehidupan setelah kematian orang tersebut juga telah di ambil alih oleh pembimbing spiritualnya yang telah berevolusi (Guru).
6.2 Siapakah yang pergi ke Neraka setelah kematian?

Berikut ini adalah jenis-jenis perbuatan dalam kehidupan kita di Bumi yang biasanya menempatkan kita dalam salah satu alam eksistensi Neraka.

Kehidupan setelah kematian meninggal

Jangkauan, durasi dan tujuan di balik perbuatan-perbuatan salah/ pelanggaran merupakan faktor penting yang menentukan alam eksistensi Neraka mana yang di capai setelah kematian dibandingkan dengan hanya tindakan itu semata.
7. Bunuh diri dan kehidupan di akhirat (setelah kematian)

Ada dua jenis kematian yang berkaitan dengan waktunya.

Kematian akhir yang ditakdirkan: Ini adalah saat kematian tidak bisa dihindari oleh seseorang.

Kematian yang ‘mungkin’ terjadi: Ini adalah keadaan di mana seseorang ‘kemungkinan’ dapat meninggal. Setiap orang dapat mengalami ‘kemungkinan’ meninggal ketika orang itu hampir meninggal, tetapi dapat diselamatkan akibat dari jasa-jasa/ kebaikan-kebaikannya.

Untuk informasi lebih lanjut tentang jenis-jenis kematian silakan lihat artikel kami – Saat Kematian

Dalam kasus-kasus di mana seseorang sedang mengalami krisis yang tidak dapat diatasi dalam hidupnya atau memiliki gangguan-gangguan kepribadian yang parah, ia mungkin berpikir untuk mengambil hidupnya sendiri dalam keadaan tertekan tersebut. Hantu-hantu (setan, iblis, energi-energi negatif, dll) juga menyulut keadaan depresi dari orang yang ingin bunuh diri tersebut dan kadang-kadang memberikan pengaruh dalam mendorong orang tersebut melewati batas untuk bunuh diri. Namun, bunuh diri tetap merupakan tindakan disengaja yang terjadi ketika seseorang sedang mengalami fase kematian yang ‘mungkin’ terjadi sesuai dengan takdir mereka.

Kehidupan di alam eksistensi Bumi sangatlah berharga dan diberikan kepada kita terutama untuk pertumbuhan spiritual. Ketika kita membunuh orang lain, kita membuat akun kārmic memberi-dan-mengambil (give-and-take account) dengan mereka. Namun dengan melakukan bunuh diri, kita menyia-nyiakan kesempatan untuk pertumbuhan spiritual dan karenanya menanggung dosa yang terberat. Konsekuensinya dari seseorang yang melakukan bunuh diri adalah pergi ke bagian Narak dari alam ke-7 eksistensi Neraka untuk jangka waktu 60.000 tahun Bumi, dalam kehidupan setelah kematiannya (akhirat). Ini adalah tempat yang tanpa cahaya; sesuatu yang menyerupai kurungan isolasi dalam penjara. Karena tiada seorang pun dalam wilayah Narak yang dapat memberikan nasihat tentang praktik spiritual, tubuh halus/ rohani dari orang yang melakukan bunuh diri tersebut tetap berada dalam kegelapan dari ketidaktahuan/ kebodohan spiritual.
8. Mengapa ada jeda waktu di antara dua reinkarnasi?

Dalam proses penelitian dengan menggunakan trans hipnosis untuk melacak kehidupan masa lalu seseorang, telah ditemukan bahwa jeda waktu antara dua reinkarnasi di Bumi rata-rata berkisar antara 50 hingga 400 tahun. Alasan-alasan untuk jeda waktu ini adalah sebagai berikut:

Tubuh halus tetap berada di Surga atau alam eksistensi Nether dalam jangka waktu yang tidak tentu untuk menjalankan hasil dari kebaikan-kebaikan dan dosa-dosanya.
Keadaan di alam eksistensi Bumi harus menguntungkan untuk menyelesaikan akun memberi-dan-menerima (give-and-take account) dari kelahiran-kelahiran sebelumnya dengan berbagai orang-orang terkait. Hal ini sesuai dengan hukum Karma. Reinkarnasi dari tubuh halus ditunda sampai tiba saatnya berbagai orang lainnya, dengan siapa mereka memiliki akun memberi-dan-menerima tersebut, juga siap untuk bereinkarnasi.
Dalam regresi kehidupan masa lalu, kadang-kadang seseorang tidak melaporkan reinkarnasi dalam keadaan trans. Alasan untuk hal ini adalah reinkarnasi tertentu telah terjadi dengan sangat lancar dan singkat sehingga orang tersebut mungkin tidak mengingat perincian apapun dari reinkarnasi itu.

Dalam kasus di mana tubuh halus/ rohani telah diturunkan ke alam eksistensi Neraka yang lebih dalam, jeda waktu antara ke dua reinkarnasi mungkin bisa ribuan tahun. Mereka tinggal di masing – masing alam eksistensi Neraka sampai tiba saatnya mereka telah menyelesaikan hukumannya. Dalam kebanyakan kasus, ini berarti mereka akan mendekam di alam eksistensi Neraka dalam kehidupan setelah kematian (akhirat) hingga pembubaran/ disolusi Alam Semesta.
9. Kehidupan setelah kematian – dalam rangkuman

Fakta-fakta di atas tentang berbagai alam eksistensi memberikan kita suatu gambaran mengenai konsekuensi-konsekuensi yang mungkin kita hadapi dalam kehidupan setelah kematian, yang disebabkan oleh bagaimana cara kita menjalani kehidupan di Bumi. Hanya dengan praktik spiritual atau dengan kebaikan-kebaikan yang ekstrim/ luar biasa, seseorang dapat pergi ke alam eksistensi yang lebih tinggi dan oleh sebab itu ia dapat menghindari ketidakbahagiaan dan hukuman serta menikmati tingkatan-tingkatan kebahagiaan yang lebih tinggi. Terdapat juga kesempatan yang lebih baik untuk bereinkarnasi di alam eksistensi Bumi dalam keadaan-keadaan yang kondusif untuk melakukan praktik spiritual. Maksud dari hal ini adalah supaya seseorang dapat bergerak lebih jauh ke atas alam-alam eksistensi halus di Alam Semesta. Sehubungan dengan berjalannya kita lebih jauh ke dalam Era Perselisihan (Kaliyuga) sekarang ini, kemungkinan seseorang untuk dapat pergi ke alam-alam eksistensi yang lebih tinggi menjadi lebih sedikit.

Sekali kita pergi ke alam-alam eksistensi yang lebih rendah seperti alam eksistensi Nether atau alam-alam eksistensi Neraka lainnya, kita tinggal di sana dan mengalami ketidakbahagiaan parah selama berabad-abad sampai kita benar-benar membayar kekurangan-kekurangan kita (dosa-dosa) dengan penderitaan berupa hukuman berat yang dijatuhkan di sana dan kembali mendapatkan kesempatan untuk bereinkarnasi di Bumi.

Untuk melakukan praktik spiritual secara konsisten di alam eksistensi Bumi sesuai dengan 6 hukum dasar praktik spiritual adalah seperti berenang melawan arus di era saat ini. Namun, itu juga merupakan jalan yang terjamin untuk maju ke alam-alam eksistensi yang lebih tinggi dalam kehidupan kita setelah kematian.

Sumber:  http://www.spiritualresearchfoundation.org/indonesian/alam-setelah-kematian/kehidupan-setelah-kematian/ atau lebih detil dan komplit klik di SINI

Pesta Harus Berakhir

Cerpen: Otang K.Baddy (Suara Daerah no.495 edisi Juni 2013)


Sesaat ruangan itu sepi. Tak ada suara tanya dan jawab, keduanya bergeming. Benak mereka hanyut dalam pemburuansolusi akan sebuah misi.

Sang Mayor menundukkan kepala, keraguan dan kecemasan terasa menyungkup dikepala. Betapa tidak, ia harus memilih satu diantara tiga pilihan. Menyerah,mengelak, atau malah menembak? Menyerahkan diri dan berterus terang bahwadirinya pernah membelot dari perjuangan? Mengelak dengan cetus seribu lidah,atau senjata harus menyalak? Siapa yang bakal tahu kalau orang itu ditembaknya,lagi pula bukankah mereka berada di lantai atas?

Dahiberkerenyit, bibir pun digigit.

Tidak!Jangan! Jangan lagi terjadi pembuhunan itu. Persoalan yang sudah berat ini jangan samapai bertambah berat!

Sang Mayor mengangkat wajahnya, menatap orang yang sejak tadi menghujanipertanyaan.

“Bagaimana, jelas Mayor?” tanya Komisarisyang tetap bersabar. Yang ditanya memalingkan muka. Keraguan dan pikiran yanglabil terasa menyergap. Menyerah atau legawa, adalah sikap mulia dan bakalmeringkan hukum. Tapi bagaimana soal keluarga, anak maupun isteri menghapihujat dan cemooh masyarakat banyak. Namun agama telah mengajarkan, dan segeralahbertobat sebelum dosa itu berlipat. Tapi..ah, betapa beratnya untuk mengambilsatu keputusan.

Semulapersoalannya tak sejauh itu. Komisaris cuma bertanya bagaimana ceritanya ketikaia masuk jadi pejuang hingga kini berpangkat Mayor. Lalu menanyakan berapabesar gaji Mayor sebulan dan juga tentang kekayaan orangtuanya. Berlanjutmenanyakan kekayaan hasil merampas dari Kolonel Vanderland di masa lampau.Dijawab tak tahu, Komisaris tetap menekan, sebab mana mungkin itu tak tahu.

Sebelum kedatangan Komisaris pun gejala penelusuran ini sudah terdengar.Diawali dengan sikap pemerintah yang tiba-tiba ingin mengadakan penelitiantentang Kolonel Vanderland. Diduga tak akan pernah diusut, sang Mayor tenang-tenangsaja hidup di bergelimang harta dan canda manja para wanita. Pikirnya takmungkin kebrobrokan ini terungkap, apalagi kejadiannya jauh di masa lalu. Kalausaja tahu akan terjadi begini, kenapa tidak dari jauh hari ia kabur ke luarnegeri. Pasti aman, pikirnya.

Lelaki itu menarik napas. Berat sekali. Menyalakan rokok, sekedarmengusir cemas.

Seraya membenahi kancing bajunya yang terlucut, jidatnya berkerut seakanberpikir sesuatu. Dan sekejap kemudian bola matanya berbinar seakan menemukanpencerahan dan rumus jitu. Demi keselamatan tentu harus ada pengorbanan.Tapibagaimana kalau dia menolak? Ah, jaman kini siapa orangnya yang akan menolakjika diberi uang. Bukankah uang itu telah segalanya dalam hidup ini?

“Komisaris….,” katanya tiba-tiba dengan suara tertahan.

“Ya, Mayor..,” jawab lelaki itu dengan sopan, menghargai kemayorannya.

“Menurut hemat saya, kejadian itu sudah tak ada artinya jika kinidiungkit lagi. Sebab kalau seumpama makanan sudah kadaluwarsa. Sudah basi.Dengan begitu untuk menyelesaikan masalah ini sebaiknya Komisaris bekerjasamadengan saya. Apa yang kau inginkan,terus terang utarakanlah sekarang. Dalam hal ini saya tak akan menghitunguntung dan rugi. Satu yang kupinta, asal kita sama-sama selamat. Itu pun jikaselama ini saya ditekan bersalah.”

“Pokonya, apa yang kau inginkan dariku sekarang, tak akan kutolak. Sebutlah..ayo.!” lanjutnya merajuk.

Untuk beberapa saat Komisaris terdiam. Rasamarah, juga kesan lucu dengan perkataan Mayor. Masa pangkat seorang Mayorbegitu merajuk dan cengeng, dan itu sama saja pada intinya menunjukkankebrobrokan yang nyata.

“Mayor, apa pun yang telah kau katakan telah kumengerti semuanya. Bahkanaku sangat berterimakasih atas tujuan dan kebaikan Mayor yang begitu mulia.Namun ingat, selaku petugas negara -- dalam hal ini di kekomisarisan, sungguhsuatu penghianat besar jika seorang bapak mewariskan tindakan tak terpujikepada anak buahnya. Bagaimana dampaknya nanti? Tentu ulah kotor itu akanberanak-pinak dan berkembang biak. Sebab mereka itu ibarat ekor yang senantiasamengikuti kepala. Jika kepala masuk ke tempat gelap ekor pun pasti mengikutinya,begitu pun sebaliknya. Kepala masuk ke tempat rawan dan berbahaya, tentu sangekor akan ikut celaka. Maka, di sinilah harus kita jauhi segala bentuk yangakan mencelakakan mereka. Maka dengan itu, bukan aku menampik pengasih, bukan pulaaku menyepelekan kebaikan bapak.”

Suasanahening kembali. Keduanya membisu. Musik klasik terdengar mengalun di kejauhan.Irama sedih bak menyanyikan kematian.

“Dengan tekad kebaikan bapak yang memelas, kini telah kudapatkan bukti kuat bahwa Mayortelah benar-benar nyeleweng!”

“Tak bisa begitu Komisaris. Perkataan serta niatku tadi itu hanyalahseumpama benar saya ditekan bersalah.”

“Seumpama? Tapi umpama itu, umpama yang mana, sebab pengertiannya banyak?”

“Ya, seumpama aku melakukan tindakan itu..” Sang Mayor mukanya memerah.

“Seumpama aku tak melakukan tindakan itu?” tegas Mayor, seolah mintakepastian.

“Jawab saja sendiri oleh Mayor!

“Sebab tidak mungkin Mayor punya kekayaan yangbegitu melimpah ruah!” tegas Komisaris.

Lalumereka saling pandang. keduanya tengah berperang rasa di dada.

“Kalau begitu agaknya kau merasa iri, Komisaris.”

“Tidak Mayor, tak ada sedikit pun rasa iri di hati. Kalau pun suatuucapan terlontar, itu semata-mata karena permintaan Mayor atas jawabanku.”

Hening lagi.

Mungkinperdebatan berkecamuk di hati keduanya.

**

Sang Mayor akhirnya kini merasa tiga kali sesal. Satu, sesal kenapa duluia tak mau menuruti keinginan dua sobatnya, Warlan dan Misran. Kedua, sesalketika mendengar pemerintah tengah mengadakan penelitian harta KolonelVanderland ia tak cepat kabur ke luar negeri. Dan yang ketiga, ia menyesal akanperkataannya tadi yang jelas-jelas pasti telah menjadi kekuatan bagi Komisaris.

Ya, dengan sistem prepentif tak kelar kenapatidak dengan refrensip? Mestikah senjata harus menyalak? Tembak! Tembak! Takakan ada orang tahu! Oya, soal mayatnya? Ya..itu gampang, masukkan saja ke dalamsumur, aman! Ya, ya, hatinya manggut-manggut dan kemudian ia bicara.

“Jadi apa maksudnya sekarang ini, Komisaris?”

“Pilih satu diantara dua!” tegasnya, “Menyerah, atau aku harus bertindakyang nantinya akan mencemarkan nama Mayor?”

Mayor itu tersenyum mendengar pernyataan Komisaris.

“Hmh..baguslah kalau begitu. Namun inilah jawabanku yang terakhir!” Sang Mayor berdiri seraya mengeluarkan pistoldari balik bajunya, lantas ditaruh di meja.

Agak tersentak juga lelaki yang berada dihadapannya. Betapa tidak, kaliini ia merasa tengah berhadapan dengan maut. Apalagi dirinya saat inibenar-benar bertangan kosong, tanpa sebilah pisau atau pun pistol. Wajar kalaugugup, karena kejadian mencekam ini tanpa diduga sebelumnya. Namun ia mencobamenguasai diri. Bukan seorang komisaris jika harus takut kehilangan nyawa deminegara, pikirnya. Lalu berdiri danmelangkah mendekati gorden kaca.

“Keberanian Mayor memang bukan cuma cerita atau isapan jempol belaka,”ujarnya kemudian seraya berdiri mematung. “Tapi semua itu percuma dan sia-siabelaka jika melakukannya hanya untuk ketidakbenaran. Kini mayor memberi jawabandengan senjata, tapi selaku petugas negara saya tidak takut kehilangan nyawa.Segeralah tembak aku ini, Mayor. Pilih tulang rapuhku, dan incar dagingrawanku. Namun sebelumnya aku beri tahu, walau pun Mayor sanggup membunuhkutapi tetap akan terborgol, sebab kedatanganku tidak sendiri. Tapi..” segera iamenyibakkan gorden kaca. Dan tampak di bawah sana beberapa anak buah komisaristengah berjaga-jaga di setiap pintu dan mengepung bangunan itu. Dan tiga mobilkhusus operasional melengakapi kesiagaan mereka.

“Sudahkahkau lihat semuanya itu, Mayor?” tanya lelaki itu dengan tatapan tajam. Yangditanya tak mampu untuk menjawab selain melongo dan kaget.

Sungguh itu diluar dugaannya. Karenanya ia langsung menundukkan kepala.Api membara yang tadi berkobar perwujud amarah, kini padam sudah. Bahkanmenciut bak kapas diguyur hujan. Yang timbul di hatinya kini hanyalah kesadaran.Penyesalan. Hatinya mengakui telah hianat akan jalannya perjuangan. Membiarkan rakyatdan membunuh dua sobatnya, yakni Warlan dan Misran.

Seraya menarik napas yang ke sekian kalinya, kisah 35 tahun lalu kembalimuncul di benaknya. Terasa mengiris hati dan menggugah rasa.

***

Pembunuhan berdarah itu pun terjadi. Badri berlari lebih dulumeninggalkan TKP, dengan ransel lusuh di punggung yang entah berisikan benda apa. Ketika dirasasampai di tempat yang aman, seraya menunggu dua temannya, penasaran iamemeriksa isi ransel itu. Sebuah kotak serupa peti, penasaran ia buka. Hah, iaterbelalak tatkala di peti itu berisikan bermacam perhiasan yang begitu berharga.Intan, berlian, suasa dan sejenisnya. Emas batangan murni, gemerlap tertatarapih mendebar sejuta angan. Kahawatir terjadi sesuatu, segera aset berhargaitu tergesa ia benahi dan ransel pun kembali digendong

Demi teman seperjuangan harta ini harus dibagitiga, dan ini telah sesuai karena memangkita bekerja bertiga. Tapi apakah Warlan dan Misran setuju? Iya, pasti merekasetuju, bukankah keduanya dalam tindak-tanduk selalu bergantung padadirinya? Tapi entahlah, sebab misisebelumnya dengan membunuh Kolonel Vanderland dan merampas hartanya tiada lainuntuk modal perjuangan. Para pejuang lain yang tengah dalam kesulitan dankelaparan perlu sumbangan. Tapi kenapa di hatinya jadi punya niat untukmembelot dari tujuan?

Kedua temannya memang selalu patuh pada dirinya. Tapi kepatuhan itutentunya dalam hal kebenaran dan kejujuran. Sedangkan ini bentuk kerakusan.Kalau keduanya menolak tentu kerunyaman yang didapat. Dan itu merupakan suatupenyakit yang harus ditumpas! Ya, keduanya harus dienyahkan jika tak sehaluan.Begitulah Badri berangan, lalu ia duduk pada sebuah tunggul.

Kedua orang yang jadi pergunjingan batinnyatiba-tiba muncul dengan nafas terengah. Tampak keringat bercucuran, rasa lelah dan bercampur kepuasan. BahkanMisran sampai menghempas-hempaskan tubuhnya ke tanah. Tangannya bersimbahdarah, bekas pembunuhan yang tak lama terjadi. Si Kolonel Vanderland telahbinasa!

Kemudianmereka saling rangkul, saling dekap. Luapan kegembiraan karena tindakkannyayang berjalan mulus.

“Cobalah buka Dri, apa isi dari peti itu..,” kata Misran penuh rasapenasaran.

“Buka saja sendiri, Ran!” ujarBadri yang sudah tahu isinya seraya melempar ransel berat itu. Tak beda denganBadri, Warlan dan Misran pun tercengang melihat isi peti itu. Jantung keduanyaberdegup. Setelah mampu menguasai diri, satu dua kepingan emas itu diciumnyapenuh suka cita.

Melihat keduanya Badri hanya tersenyum, hatinya harap-harap cemas.Kadang tak bisa diam. Melangkah tegang ke sana kemari. Menjamak rumput, digigitdan dikunyah menahan gugup dalam pandangan. Bertautkah mereka dengan ide praktis keberuntungan ini? Rasanya takmungkin menolak. Bodoh, rezeki sudah di tangan kalau ditolak. Badri terusmengukir strategi agar meraih prestasi gemilang di otak kotornya.

“Lan, Ran,” Badri berucap pelan menggeram. “Selain puji syukur pada YangAgung, kita bertiga harus bangga karena mampu menjadi pejuang yang gigih. Taksatu pun suatu rencana kita yang pernah gagal. Setiap tindakkan selalu membuahkanhasil dan mengena sasaran. Tempo hari kita mampu menghadang musuh , berlanjutmenculik Kapten Nymilbosh dari baraknya. Dan apa yang barusan terjadi, lebihdari sekedar prestasi gemilang. Sedikit membusungkan dada pun wajar karenakebersamaan kita.”

Warlan dan Misran antusias mendengarkan Badri bertutur kata. Bak sebuahwejangan yang bijak dari seorang panutan.

“Kenapa perjuangan kita selalu mulus, tiada lain dan tiada bukan karenaridhaNya. Diridoi karena berjuang di jalan yang benar. Tak rela tanah air inidijarah penjajah, tak sudi bumi pertiwi ini dijamak

orang luar. Selain itu…,” tiba-tiba Badri berhenti berujar. Dahinya berkerenyit,seolah memikirkan sesuatu. Baru setelah beberapa saat kemudian ia melanjutkanperkataannya.

“Dengan keberhasilan merampas harta ini, dalam waktu tak lama kitabertiga akan menjadi orang yang kaya mendadak!”

Warlan dan Misran tiba-tiba tersentak mendengar perkataan terakhirBadri. Tersentak campur kaget. Seribu tanya, antara percaya dan tidak, semuanyabercampur galau di dada. Omongan Badri yang melenceng itu bak suara petir disiang bolong. Walau cuma pribahasa namun pada akhinya mereka tiba-tibamerasakannya. Keduanya saling tatap.

Danangin pun berkesiut dari utara, mengabarkan gumpalan jelaga di benak mereka.

Badri.Sang ujung tombak perjuangan gamang gemetar, cemas karena tak sampai menujusasaran. Raut wajahnya berubah-ubah. Adasesal dan kesal. Sesal dengan ucapan tanpa sambutan. Kesal karena misinyadianggap mainan. Keberanian dan keraguan berebut di tengah harap. Munculkepasrahan, mau ngerti syukur dan membodohkan diri jangan. Macan yang bersiagadatang kucing jadi kawan, datang banteng jadi lawan. Matanya beringas, bergulirke kiri dan kanan. Namun yang seolah pesakitan itu membisu seribu basa,berdebat hati beribu tanya, lelaki ini tak tahan memendam kata.

“Kenapa kalian semuanya diam diajak bicara, apa tidak mendengar?”

“Bukan. Tapi karena tidak mengerti.”

“Hah, tidak mengerti? Mananya yang tidakmengerti?”

“Tidak mengerti perkataanmu. Telingaku yang rusak ataukah lidahmu yangsalah?”

“Perkataan yang mana?”

“Itu..soal kita bertiga yang bakal kaya mendadak.”

“Ooh itu, memang tak salah!”

“Ya… tapi aku tak mengerti, bakal kaya mendadak dari jalan mana?” Warlandan Misran sebenak pertanyaan. Melihat itu Badri tertawa ngakak dan telunjuknyaikut berulah.

“Dasar otak udang. Harta yang ini dibagi tiga, tahu? Lantas dengan sembunyi-sembunyi jual ke cina. Atau timbun dulu!”

Kedua teman itu berdiam.

“Dibagi tiga, siapa saja orangnya?”

“Warlan, Misran, dan saya..!”

Namun keduanya tak setuju dengan gagasan itu. Di hati keduanya, percumaberjuang berbulan-bulan kalau pada akhirnya jadi penghianat. Kasihan banyakpejuang lain dan rakyat yang lapar. Kalau akan terjadi begini buat apa dulu mauterjun menjadi pejuang? Begitu pemikiran keduanya yang didengar Badri. Lagipula harta rampasan itu inti sebenarna milik bangsa kita sendiri yang daripemerasan tenaga dan pengorbanan nyawa. Karenanya kita tak perlu merasa rugiuntuk memberikan harta ini kepada yang punya khak. Bukankah dulu tekad kitaberjuang tanpa pamrih? Warlan dan Misran mencerca Badri tanpa segan. Bahkankeduanya menyuruh Badri membaca istigfar. Karuan saja lelaki itu merah mukanya.Antara malu dan kesal ia bermuram durja.

“Dasar kalian berotak bodoh. Tak tahu diuntung. Dengarlah Lan, Ran, perampasanharta berharga ini tak ada yang tahu, jadi kamu-kamu tak usah khawatir dantakut. Lagi pula perlu berpikir jernih, untuk memiliki harta ini bukan suatukerakusan atau penghianatan, tapi ini setimpal dengan pengorbanan. Coba pikir,coba rasakan, selama perjuangan dalam hidup ini kalian sudah punya apa? Takpunya apa-apa bukan? Juga nantinya belum tentu pemerintah memberi jaminan hidupkepada kita selain hanya berucap syukur dan terimakasih di balik jiwanya yangkorup. Jadi kesimpulannya harta ini harus dibagi tiga demi kehidupan kita kedepan yang gemilang. Ngerti tidak?”

Keduanyatetap bersikukuh. Tak akan terima keputusan itu.

Bersamaan pada itu, langit yang semula cerlang cemerlang. Mendadakberubah gumpalan awan yang pekat, sepekat pemikiran mereka. Berbulan, bertahunpenuh kebersamaan, pahit sama-sama, manis sama pula, di saat itu harus berpisahkarena berbeda haluan. Pemikiran mereka sungguh jauh bersebrangan.

“Kalian semua goblok! Tak tahu diuntung, kekayaan dan kesenangan sudahdi depan mata malah ditolak. Apakah kalian lebih senang sengsara?” Badri tak sungkan berkata-kata geram.

Kepekatanlangit adalah kepekatan jiwanya. Gelap terus menyergap. Tak ingat sobat, takingat teman seperjuangan. Kawan itu berubah lawan yang harus dikalahkan.Hatinya tumbuh murka dan angkara. Doorr….! door…! Warlan dan Misran jadi sasaranpeluru. Keduanya ambruk. Bahkan Warlan tak sedikit pun bergerak, sekejapnyawanya lenyap. Beda dengan Warlan, walau terbata-bata Misran mampu berucap.“Tak sedikit pun aku sangka kau akan berbuat durja. Dan hati-hatilah kawan,menanam kacang tak akan menjadi timun. Serapi apa pun aib kau sembunyikan,Allah Maha Tahu, suatu saat perbuatanmu akan terbongkar. Allahu Akbaaarr….!” Dan ia menghembuskan nafas terakhirnyamenyusul Warlan.

Hidup tergantung apa yang ditanamkan. Sedebu perbuatan tak akan luput dari perhitungan. Selihai apa pun akting demi menutupi kejahatan, toh akan terbongkar pula. Badri yang selama 35 tahun dimanja dengan harta, tahta dan wanita, kini pestaitu akan berakhir ketika seorang tamu bertandang ke rumahnya.***@





*OtangK.Baddy, penulis serabutan , tinggal di Pangandaran.




Suka · Komentari · Bagikan

Ainil Huri, Dadan Supardan dan 23 orang lainnya menyukai ini.

Nina Rahayu Nadea Hem, kabita lah ku abah. Cerpenna dimuat. Hiks...hiks...hiks
4 Juni 2013 pukul 16:24 · Batal Suka · 1
Otang K Baddy Ah lumayan wae daripada ngangin sareng ngasin mah. Komo Ibu mah langkung produktif batan abah, nyerat teh nanjung di dua bahasa..
4 Juni 2013 pukul 16:39 · Suka
Sam Edy makasih udah ditag, aku copas dulu, ntar baca di rumah ya, selamat selamat ditunggu traktirannya sate madura, colek Ibunda Muna Masyari...
4 Juni 2013 pukul 16:39 · Suka
Virgorini Dwi Fatayati Wah keren nih...bagus
4 Juni 2013 pukul 16:46 · Suka
Otang K Baddy Ini cerpen bertele-tele Sam Edy, cerpen lama yang lama menggelandang dan terbentur di sejumlah tembok redaktur. Mohon maaf jika banyak kata yg tak sikron. Jangan colek Bunda Muna Masyari ah, malu dan takut digeplak..hehe
4 Juni 2013 pukul 16:49 · Suka
Otang K Baddy Mungkin hanya judulnya saja yg keren Virgorini Dwi Fatayati
4 Juni 2013 pukul 16:50 · Suka
Virgorini Dwi Fatayati Aeh saya sudah baca isinya kok....bagus...
4 Juni 2013 pukul 16:58 · Batal Suka · 1
Otang K Baddy Begitu memang adanya Virgorini Dwi Fatayati, tak ada yang unik..maaf karyaku tak sekeren karya anda tentunya hehe..
4 Juni 2013 pukul 17:01 · Suka
Teguh Afandi Selamat abah.... Tapi baru dilike. Belum dibaca... Soale pakai hape
4 Juni 2013 pukul 18:25 · Batal Suka · 1
Junaidi Khab mantap...
4 Juni 2013 pukul 18:30 · Suka
Yatti Sadeli Hebat Abah, nembe diaos ..... sae pisan isina. Nuhunnya tos di tag. Eh judulna keren.
4 Juni 2013 pukul 18:35 · 1
Sihabuddin Cakep keren
4 Juni 2013 pukul 19:23 · Batal Suka · 1
Nur Latifah trimakasih ikutan ditag, selamat Abah, makin cetar aja nih..ditunggu tagnya lagi..kiki emotikon
4 Juni 2013 pukul 19:41 · Batal Suka · 1
Helatini Hela sippp, kbitaaa tapi teu mampu nurutan
4 Juni 2013 pukul 19:51 · Suka
Otang K Baddy Teguh Afandi makasih, mohon maf cerpennya masih acakadut. tentu banyak kata yg tak sikron..maaf
4 Juni 2013 pukul 19:57 · Suka
Otang K Baddy Yatti Sadeli, muhun judulna wungkul nu sae, eusina mah teu aya pestaan..
4 Juni 2013 pukul 19:58 · Suka
Otang K Baddy Nur Latifah, ya, semoga kita biisa mengarah ke karya yg lebih baik..
4 Juni 2013 pukul 19:59 · Suka
Otang K Baddy Helatini Hela, apan tos ngintun waktos harita ka Suara Daerah, mugi engal dimuat
4 Juni 2013 pukul 23:01 · Suka
Helatini Hela duka teuing sajak da,
4 Juni 2013 pukul 23:03 · Batal Suka · 1
Otang K Baddy Insa Allah dimuat, masalahnya terbit bulanan
4 Juni 2013 pukul 23:08 · Suka
Helatini Hela doakeun we,
4 Juni 2013 pukul 23:09 · Batal Suka · 1
Cipta Arief Wibawa cerpennya cukup menarik Mas smile emotikon
senang sudah di-tag.
5 Juni 2013 pukul 6:14 · Batal Suka · 1
Otang K Baddy Ya, sekedar memecah kebekuan imaji Bang Cipta Arief Wibawa hehe
5 Juni 2013 pukul 8:11 · Suka
Ida Refliana Maaf, Bah, belum sempat baca. Banyak cucian kotor, sumur kering lagi. Terimakasih tag-nya... smile emotikon
9 Juni 2013 pukul 8:42 · Batal Suka · 1
Otang K Baddy Gk apa-apa mba Ida Refliana, cerpennya jelek,tak beda jauh dengan yang dimuat di Pikiran Rakyat hari ini
9 Juni 2013 pukul 13:25 · Suka
Ida Refliana Uhuyy... Mantraaapppp! Sukses terus buat abah like emotikon
9 Juni 2013 pukul 14:04 · Batal Suka · 1
Meydiana Suandi Kang Otang K Baddy, selamaaat yaaaa....hari ini di PR....
9 Juni 2013 pukul 14:56 · Batal Suka · 1
Helatini Hela selamat makin eksis aja
11 Juni 2013 pukul 1:28 · Batal Suka · 1

3 Juli 2015

Pisau

Cerpen Otang K.Baddy (Pikiran Rakyat 15 Desember 2013)
     Sebagai pengemban amarah, yang kerap tertawa dan bersorak jika dalam kemenangan. Menjerit bak tersengat bara api sebelum kemudian menguap jika dalam kekalahan, selayaknya kau tetap aku perangi. sebab kamu ini telah jadi musuh nyataku!
      Saya akan terus mengutukmu tanpa batas waktu. Betapa tidak, sebab bujuk rayumu yang selalu menyesatkan bukanlah suatu fitnah, melainkan nyata-nyata sebuah pendosa.
     “Pisau itu sudah tak aku pakai lagi, selain ujungnya sudah patah juga ia sudah berkarat. Jadi kini benda itu sudah tak berfungsi lagi. Sudah tercampak menjadi sampah,” katamu ketika meminjam bibir lelaki tua itu.
Ujungnya patah, berkarat? Tak berfungsi dan tercampak menjadi sampah?
      “Haha…!”
      Hust, jangan bangga. Tawaku ini bukan tawa sebangsamu yang intinya mematikan nurani. Tawa ini adalah sinisme atas kegoblokkan aktingmu yang jelas kentara di depan mataku. Bahkan, jikapun kamu jauh dariku, tetap saja tak akan mampu mengelabuiku dengan berjuta akting. Perlu dicatat dan diingat, mata dan telingaku tak tuli tak buta. Kenapa, ya.. karena yang saya bicarakan di sini adalah fakta. Sekali lagi, fakta!
Makanya saya akan terus mengutukmu. Jauh atau pun dekat bagi kau dan aku bukanlah suatu ukuran. Berperang atau berdebat di area terbuka, di alam nyata maupun maya, dalam artikel opini atau pun fiksi, bagi kau dan aku bukan persoalan. Makanya, setelah perseteruan-perseteruan di berbagai macam ruang dan waktu tanpa usai, dalam sebuah cerpen ini pun saya kamu undang. Dan saya tak khawatir –apalagi cemas, seandaianya cerpen ini tak dimuat PR pun bukankah kita berdua tetap selalu bersitegang?
      Oya, apa yang persoalan kita tadi?
      “Soal pisau yang patah, berkarat, tercampak dan menyampah.”
Iya itu! Kalau dengan orang-orang bloon –yang kebloonannya tentu karenamu, bisa saja omonganmu dipercaya. Tapi jika dengan saya, wualah nol besar. Omonganmu lebih dari ngabla, goblok. Sebaliknya sama saja dengan melegalkan kenyataan bahwa kamu itu seorang penipu yang terkutuk.
     Hei, dengarkan!
     Seandainya benar ujung pisau itu telah patah dan berkarat, tercampak menjadi sampah, itu hanya cangkangnya. Aslinya tidak. Aslinya kan kamu. Yang saat itu berpura-pura jadi dewa penolong ketika seorang lelaki sakit hati dan bertapa di mulut goa. Menjelmalah kau dalam sebuah pisau bersinar dan siap mengabdi.
     “Alhamdulillah, akhirnya dapat juga pusaka ini,” kata lelaki tua saat itu. Kamu pun tersenyum tatkala lelaki itu sembah sungkem. Lantas kerjasama pun dibuat, dalam arti kinerja saling membutuhkan.
     “Benar, kan?”
     Tuh, kamu tertawa karena apa yang kukatakan adalah benar alias fakta.
Maka jangan kira aku tak tahu tentang pisau itu. Bukan patah atau hilang menjadi sampah, melainkan pisau itu telah dimakan oleh lelaki itu. Memang maunya kamu punya wadah atau tubuh yang lebih elegan. Sebab jika terus di pisau itu tentu kurang leluasa alias agak kaku untuk memperdaya umat. Kamu bisa juga disebut siluman sih, siluman yang perlu cangkang. Ya, cangkangnya tubuh lelaki itu.
     Satu hal yang paling memuakkan, tubuh yang kau rasuki itu adalah tubuh mertua saya. Sekali lagi, mertua saya!
     “Duh Gusti, Ya Allah, dia itu mertua saya. Mertua Saya!”
      “Aauww…!”
Tahan goblog! Sesekali tahan dong, dengan hanya sekali menyebut nama Allah saja kamu sudah panik dan kesakitan. Padahal itu pun cuma bisik di hati. Tapi kenapa tatkala seorang koruptor bersumpah di pengadilan dengan mulutnya berteriak “Allahu Akbar” kamu malah tenang-tenang saja. Malah saya lihat kamu makin setia dengannya. Dasar penjilat kau, ah!
     Maka selanjutnya kau harus diam, tak perlu komentar apalagi mendebati saya. Sebab apa pun reka kata yang kau ucapkan, tak bakal membuatmu menjadi mahluk yang sempurna. Jika sudah terkutuk, ya tetap terkutuk!
***
      Memang sesama manusia harus saling menghormati. Terlebih pada orang tua, dalam hal ini termasuk mertua. Tapi untuk mertuaku, tidak! Tapi awas jangan salah tafsir, jika selama ini saya ingin membunuh mertua itu. Mertua yang lelaki itu, yang telah membuat istrinya manut. Dan kemanutannya itu otomatis jadi sesamanya. Menjadi kembarannya. Malah, karena telah menelan pisau itu maka menjadi wadah setanlah mereka. Itulah sebabnya saya ingin membunuh mereka, membunuh lakunya. Sebab kalau tak dibunuh kelakuannya, celakalah keduanya.
     Memang mertuaku bukan pemangku negeri berdasi. Hidupnya tak bermobil, tak bermotor, bahkan sepeda pun tak pernah punya. Rumahnya bukan gedung bertingkat, bukan pula gedung biasa yang normal pada umumnya. Rumah mertua hanya tembok usang berdinding tebal tanpa semen. Namun yang bertingkat dan menjulang adalah kerajaan angkaranya. Setidaknya itu menurut saya sebagai menantunya.
Jujur saja, secara umum memang tak mencolok apa-apa yang saya tudingkan. Saat Jum’at kliwon atau Rebo Wage, tak tercium bakar kemenyan. Pun di dalam ruangan atau sudut kamar sempit, tak tampak bubur hitam-putih dan kembang setaji.
      “Itu bukan zamannya,” begitu secara tak sengaja suatu saat mereka berujar. Memang saya angguki, tapi bukan berarti percaya tanpa kelainan dalam hidupnya. Toh pelit dan kejam pada anak-cucu, bukankah itu pun suatu kelainan?
.     Mohon dicatat, yang bicara di sini adalah aku. Seorang menantu dari mertuaku. Yang entah stress atau apa di otakku, tiba-tiba tanpa sengaja mampu merekam keganjilan-keganjilan itu. Anehnya keganjilan-keganjilan itu telah membuat sepasang suami-istri gaek itu awet jaya. Kukatakan jaya, selain gampang beli tanah-kebun, herannya tak pernah mengalami sakit. Yang ada paling cuma pura-pura sakit.
Kendati tak memuja Buta Ijo, setan ipri atau Nyai Blorong, saya berani menuduh bahwa kehidupan mertuaku memakan tumbal. Gelagat itu terbaca setelah fakta demi fakta terus bicara, termasuk dengan setan/iblis yang saat ini dekat kita dan kusuruh diam dulu.
     Sebenarnya aku tak mengalami ketika Kang Karsum –kakak iparku, saat meninggal dulu. Sebab saat itu aku masih kecil dan belum jadi menantunya mereka. Yang saya alami saat-saat menjelang kematian Ceu Warsoh, kakak iparku yang kedua. Dia sakit keras setelah sebelumnya dicaci-maki oleh ibu-bapaknya alasan minta pinjam beras. Padahal lebih dari wajar jika Ceu Warsoh –yang lama menjadi janda, minta pinjam atau diberi barang dua liter beras atau lebih pun, sebab setiap panen tak kurang bepuluh ton gabah kering didapat mertua.
     “Ita..pulanglah kamu, karena nenek dan kakek lagi tak punya uang, relakan gajimu untuk membayar biaya perawatan rumah sakit,” kata mertua istri via telepon yang diangguki mertua lelaki kala itu. Heran,padahal tabungan mereka di BRI hasil penjualan gabah puluhan juta.
Dan meninggalah Ceu Warsoh, anak kedua dari mertuaku.
      Bagaimana Ceu Imas, kakak iparku yang ketiga? Apakah akan menjadi korbannya? Memang nyawanya tidak, tapi rumahtangganya yang sudah berjalan hampir 20 tahun dengan kang Hadi dan telah dikarunia satu anak perawan, tiba-tiba berantakkan. Ceu Imas berbuat serong hingga berujung perceraian.
***
      Ita, anaknya Ceu Warsoh berhenti jadi pembantu rumahtangga karena dilarang nenek-kakeknya. “Percuma jadi babu gajinya tak mampu untuk membeli sawah-kebun,” katanya. Seperti dalam dongeng, ada-ada saja alasan untuk membuat cucunya itu tersiksa. Tak sekedar disebut pemalas, hal sepele model boros sabun mandi pun kerap jadi masalah. Ita sering disiksa, digebuk kayu bakar. Yang fatal dan gila, tega-teganya seorang kakek meludahi kemaluan cucunya setelah sebelumnya menjambret handuk gadis itu usai mandi. Mending kalau di kamar mandi, ini di halaman rumah dan dilihat para tetangga. Bah!
      Setelah kabur ke Jakarta, Ita pun menikah dengan orang Cilegon. Bibi-Mamang, adiknya bapak kerap mewanti agar hasil tanah warisan yang 20 juta itu segera diberikan pada Ita. “Ini sekedar mengingatkan janji Akang, uang itu akan diberikan jika Ita menikah,” begitu kata Bi Jumsih, adiknya bapak. Bukan tanpa alasan, sebab Ita sudah bulat ingin menetap dan bikin rumah di Citangkil, Cilegon daerah suaminya. Namun lelaki itu tak juga menunaikan janjinya, sekalipun Ita kerap bolak-balik memintanya tak secara langsung.
     Saat Ceu Imas hajatan menikahkan gadis semata wayangnya, tiba-tiba terjadi kisruh. Biangkeroknya siapa lagi kalau bukan lelaki gaek itu. Ita yang datang jauh-jauh dari Cilegon bersama suami dan satu anaknya yang masih bayi disambut caci-maki di depan para tamu undangan. Karuan saja irama pongdut yang sengaja menghibur di panggung pun sempat berhenti beberapa saat.
      Saya terus merekam keganjilan demi keganjilan itu. Watak mertuaku yang pelit dan galak pada Ita, anehnya tak berkutik tatkala diketahui Ceu Imas nyeleweng dengan menantunya. “Biarlah, soal itu semua tiada yang anti,” katanya tanpa malu. Padahal jinah, apalagi antara mertua dan menantu seperti yang dialami Ceu Imas, bukankah itu seperti binatang?
      “Sudahlah, itu lupakan saja!” tegas kedua mertuaku, “Yang kita pikir mengenai Si Ita. Tak cuma 20 juta, sebagai rasa bersalah saya selama ini akan tambahkan 10 juta, jadi dengan 30 juta semoga bisa buat nambah modal hidup di Citangkil sana.”
       Tangis bahagia begitu kentara di wajah Ita. Begitu pun di wajah kedua mertuaku. Bahkan lelaki itu sampai tertawa terbahak ketika sore hari didengar bus Patas jurusan Pangandaran-Merak terguling di tanjakan Nagreg.
      Dan aku yakin, lelaki yang tertawa itu bukan mertuaku yang sejujurnya. Melainkan kamu, ruh jahat yang mendiami pisau itu!(*)
       (Pangandaran, 17 September 2013)

2 Juli 2015

Kampung Toke

Cerpen Otang K.Baddy ( Pikiran Rakyat 9 Juni 2013 )

      Entah kenapa tiba-tiba kampung itu dijuluki kampung toke. Aku tak tahu pasti selain hanya menggangguk atau mengiyakan jika seseorang bertanya di mana tepatnya aku tinggal. “Oh, dari Kampung Tokek itu ya?” demikianlah orang di luar desa atau bahkan sampai di luar kabupten menyebut nama lain kampungku. Dan memang meski tak tertera di KTP atau data wilayah, Kampung Tokek lebih populer di banding nama aslinya Kampung Rawung.
      “Jika kelak mau berumah tangga, awas, jangan beristri dari Kampung Toke,” kata nenekku ketika saat itu aku masih kelas V SD. Tak sedikit pun aku mengomentari atau bertanya kenapa atau ada apa dengan Kampung Toke. Toh omongan soal beristri –apalagi perkara berumah tangga—itu pun sudah termasuk berlebihan dilontarkan padaku yang masih polos kala itu. Tapi melihat aku bergeming malah nenekku tampak cemas dan berkata, “Itu pun jika tak mau bernasib seperti ayahmu yang sering tergigit toke, bahkan sampai kepergiannya.”
      Tetap saja aku tak tertarik dan tak mengerti tentang apa yang dipesankan nenekku, bahkan sampai kepergian ibunya ayah itu. Memang benar ayah beristrikan ibu itu berasal dari Kampung Rawung alias Kampung Toke. Kampung tetangga, masih satu desa. Namun, seingatku kepergian ayah yang lebih dulu dari nenek itu bersumber dari penyakit asmanya yang akut dan tak kunjung sembuh. Jadi bukan tergigit mahluk bernama toke.
**
      Maka menikahlah aku dengan seorang istri dari Kampung Toke. Tak berpikir dari orang mana aku harus berjodoh. Sesuai harapan dan keyakinan, yang namanya jodoh –kendati dibebaskan memilih, hakikatnya tetap Tuhan yang ngatur. Jadi apa yang telah datang dan menimpa, termasuk beristrikan dari Kampung Toke itu, kuterima sebagai rahmat dan anugerah yang perlu disyukuri.
      Sebagai kesepakatan kedua pihak aku pun netap di Kampung Toke, tempat semula istriku tinggal dan dilahirkan. Sebagaimana umumnya masyarakat tani kami pun ikut bertani. Membuka ladang, menggarap sawah dan menanam palawija. Hidup terasa rukun, suasana adem-ayem, bahkan sampai beranak dua. Mungkin semua terjadi karena pernikahan kami di samping jodoh yang kuat, juga berkat do’a mertua yang tampak begitu cocok atas kehadiranku sebagai menantunya. Terlebih setiap sebulan sekali, kami tak menolak jika beliau minta dibuatkan bubur dua warna, yang katanya sebagai bakti anak pada orang tua. Dan Sejujurnya aku tak pernah digigit mahluk yang bernama toke. Begitu pun yang lain di kampung itu, entahlah, belum satu pun aku melihat orang yang tengah digigit toke, terlebih sampai meninggal.
**
       Dan isyu tentang toke itu mendadak santer jadi perbincangan dari mulut ke mulut. Harga satu ekor bisa mencapai puluhan juta lebih, bahkan ada yang berani menukarnya dengan sepeda motor yang masih gresh. Dan tentu saja Kampung Toke jadi fokus utama sebelum lainnya bagi para penggila toke. Tak sedikit mereka yang datang dari luar kampung, luar desa, bahkan ada yang luar kabupaten. Lalu terbetik di benakku, mungkin inilah jawaban atas julukan tentang Kampung Toke. Julukan sebelum datangnya suatu fakta. Seperti ada yang menafsirkan Tasik yang berarti ‘keusik’, semuanya gelap sebelum terjawab dengan letusan Galunggung dan huru-hara pasir besi. Demikian juga dengan julukan kampungku, Kampung Toke, yang ternyata (entahlah) tiba-tiba menjadi ramai suara toke.
       Di hampir setiap rumah, tunggul kayu dan tebing batu toke-toke itu tiba-tiba banyak berada. Setiap malam, pagi dan sore, selalu ramai berbunyi, saling bersahutan satu sama lainnya. Tokkee…tokee..tokkee..!
Tapi para pemburu toke itu tampak kecewa atas buruannya. Toke-toke yang ditemukan di tempat ini tak sesuai dengan apa yang diharapkan. Ukurannya kecil-kecil alias umum. Sedang yang dibutuhkan mereka toke yang berukuran besar, antara satu sampai dua kilogram.
     “Ini bukan main-main, yang dua kilogram bisa mencapai ratus-jutaan, bahkan bisa ditukar dengan mobil sekelas avanza,” kata seseorang dalam suatu kerumunan. Namun sampai beberapa hari, minggu, bulan, jenis toke yang dicari itu tak juga ditemukan. Dan orang-orang jadinya –terlebih aku—tak merasa tergiur. Sebab itu suatu yang mustahil. Jangankan yang satu kilogram, untuk ukuran enam-tujuh ons pun tak ada. Berat toke umumnya tak jauh dari 3-4 ons. Dan seumpama ada tentu itu bukan toke biasa, melainkan namanya toke ajaib yang berada di negeri dongeng.
      Dan isyu toke berharga jutaan pun lenyap. Yang ada cuma pemburu toke biasa dari luar kampung yang konon dijual seribu perak per ekor. Masyarakat pribumi tak sedikit pun tertarik, dan membiarkan toke-toke itu perlahan hilang dan suaranya jarang terdengar lagi. Kampung Toke jadi sepi.
**
      Mas Parman –selanjutnya Wa Kaman (mengakrabkan panggilan buat anakku pada Uwaknya, beliau orang Jatim yang menikahi Oyoh-- kakak iparku) tiba-tiba sakit. Perutnya mengembung bak busung lapar. Aneh, padahal ia tak pernah lapar. Wa Kaman termasuk rajin bekerja. Terlebih sejak ter-PHK di pabrik pakan unggas di Cileungsi Bogor, ia membulatkan tekadnya untuk hidup bertani di Kampung Toke, menggarap sawah-ladang pemberian mertuanya –yang juga mertuaku. Dengan hasil panen yang luamayan jadi ia jauh dari yang namanya kelaparan.
     Berkat hasil jual tanah warisan dari Jatim dan sedikit uang pesanggon kala itu, ia mampu membeli sebidang tanah untuk kemudian dibangun rumah tembok alakadarnya, oramg kampung menyebutnya’balong saat’.
      Dalam sakitnya Wa Kaman mengeluh bahwa perutnya terasa bak ditusuk-tusuk benda tajam. Beberapa kali ke dokter, juga dengan cara obat kampung, tak ada yang mempan. Hingga lahir kesimpulan, jalan terakhir untuk mengatasi semuanya harus dengan cara ‘melek’. Satu solusi yang dipesankan Romo Kandang -- julukan almarhum Mustofa, ayahnya Wa Kaman, atas kecerdikannya saat perang kemerdekaan melawan Belanda. yakni dengan laku tak tidur. Sebagai kerabat, aku merasa berdosa jika tak menunaikan tugas untuk menemaninya.
     Dengan berbekal air putih, kami pun melek.
     Pada malam pertama tak ada isyarat apa-apa. Hanya sakit di perut yang dikata bak ditusuk-tusuk itu katanya agak berkurang.
     Malam kedua, yang diduga akan lebih aman, malah sebaliknya. Sekira pukul 10 malam, Perut Wak Kaman sakitnya menjadi-jadi, bahkan saking tak tahannya sampai ia berjungkir-balik di lantai. Karena panik yang membucah, atas permintaan Ceu Oyoh –istrinya Wa Kaman, saya meng-sms salah satu keluarganya di Magetan, Kuceritakan semuanya, termasuk soal lelaku ‘melek’ itu. Sesuatu yang tak terduga sekaligus mencengangkan, “Coba periksa, apakah di bawah jam dinding itu ada seekor toke?” kata Mas Samin di sms itu. Dan.. jiah!, mahluk predator berkulit kasar seperti hiu itu, bak tergertak seketika nelusup ke balik jam dinding.
      “Gebuk dengan sapu lidi, tapi jangan sampai mati” sms dari Mas Samin kemudian.
Karena takut jam dinding terjatuh, meski tak telak aku berhasil memukul dua kali dengan sapu lidi, sebelum kemudian toke itu menyelamatkan diri masuk lobang langit-langit. Aneh, Wa Kaman sakitnya langsung sembuh. Paginya seorang lelaki, tetangga terdekat, tiba-tiba menjenguk Wa Kaman seraya mengucap syukur atas kesembuhan sakit perut itu.
      “Penyakait zaman kini memang aneh-aneh. Termasuk saya, tiba-tiba tulang-tulang ini semalam terasa remuk,” ujar lelaki itu seraya meringis menahan sakit. Lantas menyalami Wa Kaman dan berharap sakit tulangnya segera sembuh.
     Apa kaitannya dengan toke itu, kami segera menebak-nebak. Kabar dari mertua, lelaki itu sebelumnya mewanti agar tanah itu dijual pada dirinya. Kepalang SPPT-nya nempel, katanya. Permintaan itu sering dilontarkan pada Tisno –anak si empunya tanah, yang meninggal setelah sebelumnya sakit perut dan didampingi toke. Tapi sang mertua segera menggalangnya, sebelum kemudian dibayar Wa Kaman.
      Terpikir itu aku jadi teringat omongan nenek tentang nasib ayah. Secara medis memang menderita asma yang akut. Namun di balik itu ada cerita lain, mungkin ayah selalu menolak untuk menerima paham yang dianut mertuanya. Yakni setiap Selasa kliwon harus mengadakan ritual di kamar khusus, dengan sesaji bubur merah-bubur putih. Tapi apakah nyambung jika dikaitkan dengan toke-toke itu? Entahlah.**@
(Pesisir Kidul, akhir Mei 2013)


*Otang K.Baddy –nama feba dari Otang Komaludin. Menulis cerpen dan puisi, tinggal di Pangandaran.

No rek BRI: 4016-01-001033-50-2 A/n: Otang Komaludin
Hp: 082130928552
e-mail: otangk234@gmail.com