15 Maret 2015

Freak Love

Cerpen Putri Maal CB (Radar Surabaya 15 Maret 2015)


    Tuhan, kembali aku bersimpuh di hadapan-Mu
     Bukan karena aku lagilagi ingin mengeluh tentang hidupku.
     Tapi aku bersimpuh karena rasa syukur yang tiada tara ini
    Aku tau, Engkau telah memberikan sesuatu yang kubutuhkan
   Tuhan, tolong terus jaga hatiku
   Jangan sampai dia mengkhianati-Mu
   Karena aku yakin
   Kau tidak akan memberikan cobaan
yang tidak sanggup kulalui
   Aku, Afla Aisyah Maghfira, yang
terus berjuang mencari makna di balik
cinta yang telah kupupuk dengan awal
yang salah, tapi tetep berusaha untuk
tidak mengkhianati-Nya. Ini kisahku.
   Awal pertemuanku dengannya pada
30 Juni 2013. Aku melihatnya menampilkan
dance cover bersama temanteman
yang lain di suatu even yang
kebetulan aku juga salah satu panitianya.
Awal aku tertarik padanya karena
dia meng-cover salah satu idolaku,
SHINee Minho. Aku kagum. Aku sangat
tidak kecewa melihat Minho-ku
yang berkharisma. Setelah mereka
selesai tampil, aku kembali melanjutkan
aktivitasku. Aku lupa padanya.
Aku tidak lagi mencari keberadaannya.
    Tapi semua berubah saat acara telah
selesai. Ketua panitia acara tersebut
memperkenalkan aku kepada panitia
yang lain. Dia yang terakhir mengenalkan
dirinya padaku. Sosok berkaca
mata itu mendatangiku dan menjabat
tanganku. Aku menyambut uluran tangannya
dengan tatapan kosong.
Entah apa yang ada di pikirannya saat
itu aku tidak peduli. Yang aku pedulikan,
aku seolah melihat sosok cinta
pertamaku satu-satunya orang yang
membuatku jatuh cinta pada pandangan
pertama di sana. Aku melihat
senyum tipisnya, matanya yang bersinar
ramah, dan pipinya yang terkadang
bersemu kemerahan di kulitnya
yang putih. Sosokku yang tadinya ceria,
yang tadinya sangat gemar
berkenalan dan berceloteh ria, mendadak
kaku saat bersentuhan dengannya.
Dada ini bergemuruh cepat. Apa
cinta ini muncul kembali? Apa hati ini
mulai terbuka lagi setelah bertahuntahun
lamanya kututup? Ini bukan
yang pertama kalinya bagiku. Jadi aku
kenal betul dengan perasaan ini. Perasaan
yang sangat tidak ingin kurasakan
lagi. Perasaan yang sukses
membuatku menjadi murung. Aku
tidak ingin mengenalnya. Detik itu aku
bertekad untuk tidak terlalu dekat
dengan seorang Bima Alfredo Immanuel.
Dia akan menghancurkanku,
itulah yang kupikirkan.
    Seolah imanku sedang diuji, Tuhan tidak
membiarkanku. Saat perjalanan pulang,
dia memintaku untuk duduk di
sampingnya dengan alasan ingin mengenalku.
Aku hanya diam, aku tidak
ingin memulai percakapan dengan orang
yang kuyakini akan membuatku
kehilangan keceriaanku lagi. Tapi dia
terus memberikan keramahannya padaku.
Dia bertanya apapun tentangku.
Saat mengetahui aku sedang kuliah di
PTN yang akan dimasukinya, dia makin
tertarik. Sesekali dia menyelipkan
ceritanya. Aku menanggapinya dengan
sopan. Percapakan itu terus berlanjut
seru, aku pun semakin lupa dengan
tekadku di awal. Aku suka dengan gaya
bicaranya. Aku nyaman bercerita dengannya.
Bodohnya, aku tertarik untuk
mengenalnya lebih jauh lagi.
    Tuhan benar-benar memberi cobaan pa
daku. Fakta bahwa kami memiliki tanggal
lahir yang sama membuat pikiranku
makin kacau. Aku semakin memikirkannya.
Kemungkinan-kemungkinan
apa lagi yang akan terjadi kedepannya.
    Sejak hari itu, kami semakin dekat.
Dia atau aku rutin untuk memulai percakapan
di sebuah aplikasi chatting.
Saat kami dan teman-teman yang lain
merayakan kesuksesan acara kami di
kolam renangpun, dia selalu bersamaku.
Aku ingat ucapannya saat itu, “Fla,
hari ini kamu sama aku aja ya. Janji.”
Benar, sepanjang hari itu, tidak sedetik
pun aku jauh darinya. Ada apa
denganku? Aku tidak ingin seperti ini.
    Di hari pengumuman kelulusannya, dia
menggenggam tanganku erat, dia
mengungkapkan betapa bahagianya dia.
“Fla, akhirnya kita sekampus!”. Iya, kita
sekampus, dan cobaanku makin bertambah
berat.
    Saat liburan semester, aku harus pulang ke
rumah orangtuaku yang memang beda
kota, dia terus bertanya kapan aku
akan kembali lagi, bagaimana dia bisa
cepat menghubungiku. Apa maksudnya?
Dia mulai Membutuhkanku atau apa?
    Di rumah, keluargaku mengetahui
perbedaanku. Aku jadi sering tersenyum, aku tidak
lagi cuek, dan aku tidak pernah
lepas dari handphoneku.
Saat aku lengah, Mama memeriksa
handphoneku. Dia tau, aku
jatuh cinta. Tapi aku mendalihnya.
Aku tau reaksi apa
yang akan diberikannya
saat mengetahui aku mencintai
orang yang ‘berbeda’. Ini cinta
terlarang.
    Aku berusaha menahan perasaanku.
Tapi TIDAK BISA!!! Apalagi saat aku
kembali aku datang ke suatu gathering
yang dia adalah salah satu adminnya
dia menyambutku dengan pelukannya
dan langsung memintaku duduk
di sampingnya.
    Hari-hariku penuh dengannya. Malam
itu, 21 Agustus 2013, aku tidak bisa
lagi menutupi fakta bahwa aku mencintainya.
Aku mengungkapkannya. Dia
mengingatkanku tentang ‘perbedaan’
kami. Tapi aku tidak peduli! Aku benarbenar
mencintainya. Dia mengatakan
bahwa dia juga menyukaiku, dia nyaman
bersama denganku. Aku bahagia.
    Sejak saat itu aku menjadi pribadi
yang berbeda. Semua orang menyukai
perubahanku, tapi tidak sedikit dari
mereka yang kecewa setelah tau apa
penyebab perubahanku yang membaik
itu. Tapi aku sangat mencintainya.
Salah satu sahabatku mengingatkanku,
“Nanti kamu bisa ngerasain sendiri apa
akibatnya. Pikirkan orangtuamu, Fla.”
Aku sangat mengerti apa maksud
perkataannya, tapi aku bisa apa?
    Petaka itu mulai muncul. Aku makin
posesif kepadanya. Walaupun tidak
secara langsung aku mengungkapkannya,
tapi aku yakin dia merasakannya.
Aku semakin takut kehilangannya.
    Siang malam aku berdoa agar selalu
dipersatukan oleh-Nya. Tapi seolah
menertawakan kebodohanku, Tuhan
mempertemukanku dengan Mamanya.
Saat itu dia sedang sakit, jadi aku ke
rumahnya. Anak kecil sekali pun pasti
akan langsung tau bahwa aku bukan
hanya sekedar teman dengannya melihat
perhatianku yang mungkin terkesan
agak berlebihan. Seharusnya
aku agak menahan diri agar Mamanya
tidak mengetahui hubungan kami. Aku
terlalu bodoh waktu itu.
   Semua terungkap pada 5 Oktober 2013.
Bima mengatakan semua yang dikatakan
oleh Mamanya. Aku sudah sangat tau
hari ini akan datang, tapi kenapa secepat
ini? Aku tidak sanggup kehilangan
cintaku lagi. Aku tidak mau sendiri lagi.
Malam itu aku memeluknya sangat erat,
aku juga memberikan first kiss ku. Aku
menunjukkan semua perasaanku. Saat
aku menciumnya, dengan mengalirnya
air mata ini, yang juga membasahi pipi
dan bibirnya, aku ingin dia tau bahwa
aku benar-benar mencintainya. SANGAT
MENCINTAINYA.
     Cobaanku tidak hanya berhenti di situ.
Dengan putusnya kami, aku kira akan
benar-benar lepas darinya, ternyata
tidak. Kami semakin dekat. Aku dan
dia ternyata punya banyak kesamaan
yang membuat kami seolah tidak
terpisahkan. Aku tidak lagi sungkan
untuk main ke rumahnya karena status
kami yang hanya teman. Mama dan
kakaknyapun semakin baik padaku. Aku
harap perasaan ini bisa bertahan.
    Tapi lagi-lagi Tuhan mengujiku.
Malam itu, 29 November 2013, kami
pulang terlalu larut. Pintu kostku sudah
tertutup dan tidak diperbolehkan untuk
dibuka lagi. Bima, yang kebetulan
rumahnya sedang kosong, menawariku
tempat tinggal. Kami tidur bersebelahan.
Sebagai perempuan normal, wajar
kalau dadaku bergemuruh di situasi
seperti ini. Tapi aku terus mencoba
tidur, aku yakin Bima tidak akan
melakukan apapun padaku.
    Saat bangun, hal yang pertama kulihat
adalah wajahnya yang sangat dekat
denganku. Aku merasakan hembusan
nafasnya di pipiku. Aku menelusuri setiap
lekuk wajahnya. Aku kembali mengaguminya.
Tanpa sadar, bibirku menyentuh
permukaan bibirnya. Lembut, agak basah,
dan menenangkan. Refleks akupun
bangun. Mungkin dia tersadar atas apa
yang telah kulakukan, dia mulai menggeliat.
Takut dengan apa yang akan
dikatakannya, aku segera ke kamar mandi
dan membasuh wajahku. Tak lama, terdengar
teriakannya, “Fla, kita langsung
siap-siap ya!” Syukur, dia tidak menyadarinya.
    Aku semakin tidak bisa lepas darinya
sejak ciuman itu. Tapi dia tidak mencegah
ataupun menolak apapun yang kulakukan.
    Berita mengejutkan itupun terungkap.
Aku mengetahui masalahnya yang paling
besar. Bukannya menjauhinya, aku
malah semakin agresif padanya. Mungkin
dia jenuh deganku. Dia benar-benar menjauhiku.
Sekitar sebulanan aku tidak lagi
berada dekat dengannya sampai temanteman
kami membuat kami rukun lagi. Seharusnya
setelah mengetahui semuanya
aku bertobat. Tidak lagi memulai apapun
dengannya. Tapi seolah aku sudah
bebal, aku tahan banting.
    Aku mencari celah untuk dekat
dengannya lagi, dan aku berhasil.
Dia masih membutuhkanku.
Bahkan dia tidak ragu
menulis kata ‘date’ denganku di salah
satu akun sosial media miliknya. Seolah
aku punya harapan, di 27 April 2014 saat
itu kami sedang mengikuti event khusus kolam
renang kami kembali berciuman di
bawah air. Dia tidak menolakku. Untuk
pertama kalinya dia membalas ciumanku, dan ciuman itu
terjadi bukan hanya sekali. Aku tidak
tau kalau itu akan menjadi kali terakhir
kami melakukannya. Hari itu dia
memelukku erat dan memimbisikkan
kata ‘makasih’ di telingaku.
    Mungkin waktu itu adalah ungkapan
perpisahan darinya, tapi aku tidak mengerti.
Aku terlalu bodoh untuk memahami
apa maksud dari perlakuannya
selanjutnya. Dia tidak lagi membahas
rentetan pesanku, bahkan
mengacuhkan semua perbuatanku.
    Aku mulai tidak tahan, aku mulai
melakukan sesuatu seolah dia masih
milikku. Aku hanya takut dia kembali ke
masalahnya lagi dan hari itu pun datang.
    27 Juni 2014. He said, “Iya, aku masih
kayak gitu. Dan itu bukan urusanmu.
Kamu harus tau, Fla, aku ga butuh
kamu lagi. Pergi dari hiduku!”
    Dia mengusirku. Berminggu-minggu
selanjutnya aku hidup dalam kesedihanku.
Aku tidak lagi menjadi sosok
yang sosial, aku tidak peduli terhadap
apapun lagi. Perlahan, dengan bantuan
teman-temanku, aku kembali menata
hidupku. Aku mulai kembali kepada-Nya.
Aku curahkan semua penyesalan dan
kebodohanku. Tapi doaku untuknya tidak
pernah pupus. Aku ingin dia melepaskan
masalahnya, walau tanpa aku.
    Entah apa yang telah direncanakan oleh
Tuhan, setelah semua yang telah dia
lakukan padaku belakangan aku mengetahui
bahwa dia selalu menjelek-jelekkan
aku di depan semuanya, dia tidak pernah
merasa kalau dia membutuhkanku, dan
dia selalu benci tiap dekat denganku aku
memaafkannya begitu saja. Aku bertekad
untuk tidak lagi memikirkan yang duludulu.
Bahkan akupun mau untuk kembali
ke rumahnya, tempat dia dulu mengusirku,
untuk meminta izin kepada Mama
dan kakaknya agar dia ikut liburan
bersama kami ke pantai. Aku sangat
berusaha untuk bersikap normal, seolah
tidak ada masalah di antara kami.
Untungnya, dia juga bersikap sama.
    Akhir Agustus 2014, dia kembali
menghubungiku. Dia meminta bantuanku.
Aku tidak menolak. Tanpa memikirkan
apa-apa, aku memulai semuanya lagi.
    Bima selalu ada di saat aku membutuhkannya,
sebagai tempat pelampiasan
emosi, cerita, impian bodoh, dan
dia selalu memberikan celetukan-celetukan
yang katanya tidak disengaja
tapi sukses merubahku. Semua yang
kubutuhkan ada pada dirinya. Aku
juga selalu berusaha untuk ada di saat
dia membutuhkanku. Entah siapa
yang memulai, kami sudah memanggil
diri kami sebagai BEST BUDDY.
    Semua berjalan biasa saja. Akupun
tidak lagi mempunyai perasaan khusus
kepadanya. Sampai 21 Februari 2015
lalu, dia kembali membuka semuanya.
Dia meminta maaf atas semua perbuatannya
yang dulu, dia mengatakan
bahwa sebenarnya dia sangat membutuhkanku,
dan dia menceritakan dari
awal tentang masalahnya itu. Dia
terlihat begitu rapuh. Sangat ingin aku
merangkulnya, memeluknya, menggenggam
tangannya, menenangkannya,
dan meyakinkannya bahwa dia
pasti bisa berubah. Ada aku di sini.
Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk
selalu mendukungnya dan membantunya.
Tapi kutahan semua itu.
Jika aku melakukannya, hal itu hanya
akan menyakitiku lagi. Sekuat mungkin
aku tahan untuk tidak lagi melakukan
kontak fisik dalam bentuk
apapun dengannya. Aku takut perasaan
itu akan muncul kembali. Aku tidak
ingin persahabatan ini putus kembali
hanya karena keegoisanku.
    Aku tersenyum ke arahnya, dan mengatakan,
“Kamu ga perlu takut, Bi.
Kamu ga sendiri. Coba buka matamu,
masih banyak tempat yang bisa menjadi
pengalih perhatianmu dan melupakan
semuanya, terutama masalahmu
itu. Cuma kamu yang bisa merubah
diri kamu, bukan orang lain, bukan juga
aku. Yang penting, kamu harus yakin.
Kamu ga boleh nyerah. Dan kamu
jangan berpikiran sempit. Inget, masih
ada aku. Oke?”
    Dia menatap dalam mataku. “Makasih
banyak karna kamu selalu tau apa
yang aku butuhin, Fla. Sekarang aku
ngerti. Semua yang udah kamu lakukan,
hanya untuk kebaikanku. Tolong
jangan tinggalin aku, Fla. Sehina
apapun yang akan aku lakukan
selanjutnya, tolong ingatkan aku.”
    “Sip!”
    Sepulang dari rumahnya, aku kembali
menangis. Apa aku bisa selalu ada
untuknya dengan mengabaikan perasaanku?
Apa aku yakin perasaan ini
akan sanggup ku tahan? Aku sangat
ingin membantunya, tapi aku takut
akan semakin menyakiti diriku lagi.
   Ya Tuhan, rencana apa lagi yang
akan Kau ciptakan untukku? Tolong,
bukakan pintu hidayah-Mu untukku,
agar aku bisa mengerti apa yang akan
aku lakukan selanjutnya.
    Aku untuk kamu, kamu untuk aku
    Namun semua apa mungkin iman
kita yang berbeda
    Tuhan memang satu, kita yang tak sama
    Haruskah aku lantas pergi meski
cinta takkan bisa pergi. (*)

8 Maret 2015

Layar Tancap



Cerpen: Edy Firmansyah (Radar Surabaya 8 Maret 2015)
    
                   
     Fuad hanya terpaku ketika
Ripin, bapaknya, dimasukkan
ke dalam liang lahat.
Matanya sembab. Pikiran
berkecamuk. Mengapa Tuhan memanggil
bapaknya dengan cara keji begitu? Seandainya
ia menuruti bapaknya untuk
tak nonton layar tancap malam itu,
mungkin pagi ini ia masih bisa membuatkan
bapaknya kopi. Tapi takdir
berkehendak lain. Bapaknya telah
pergi untuk selamanya. Tuhan begitu
kejam. Fuad terus membatin. Fuad tak
tahan. Fuad tak sanggup sendiri.
      “BapakÖbapakÖ!” orang-orang terus
memegangnya erat.
      “Jangan sampai lepas. Nanti dia nekat”
teriak yang lain sambil terus
mencangkul.
      Pelan-pelan jasad bapaknya yang dibalut
kafan yang sebagian memerah karena
darah tak kelihatan lagi. Ditimbun
tanah. Fuad menangis sejadi-jadinya di
antara gemuruh langit dan lafal doa.
***
      Fuad baru saja melompat ke sungai,
ketika kawan-kawannya bergegas naik
dan meninggalkannya. Meski tak puas
menikmati sejuk air sungai, Fuad menepi
juga. Mengenakan celananya, tanpa
sempat mengenakan baju, lalu berlari
mengejar kawanannya ke lapangan.
Bajunya ia pegang di tangan.
      “Mobil itu datang. Mobil itu datang.”
Teriak kawannya, Kharis, yang berlari
paling depan.
      Mobil yang dimaksud adalah mobil
jenis van berpengeras suara dan digantungi
poster besar berbagai jenis film.
Mesin mobil itu bergerung memecah
kesunyian lapangan di terik siang di
tengah kampung. Suara mesin yang
tumpang tindih dengan suara pengeras
suara membuat soundtrack iklan KB
terdengar buruk. Bergemerisik dan
kerap membuat gendang telinga gatal.
      Kawanan itu terus berlari mendekati
mobil berwarna biru buram dengan beberapa
bagian cat terkelupas itu kemudian
membuntutinya dari belakang. Kharis
berhasil melompat ke belakang van sambil
terus tertawa jumawa. Yang lainnya masih
terus berlari di belakang mobil van itu
sambil bersorak sorai kegirangan.
      Fuad terus berlari agak jauh tertinggal
di belakang. Sambil berlari ia kenakan
bajunya yang sedari tadi digenggamnya.
Sebenarnya Fuad ingin terus mengikuti
kawan-kawannya berlari dan biasanya
berhenti di samping sekolah dasar di sisi
lapangan tempat mobil van itu juga
berhenti. Fuad memang terpesona dengan
segala peralatan bioskop keliling itu. ia
heran mengapa bisa dari proyektor film
dan gulungan pita itu keluar gambar di
layar putih yang ditancapkan di belakang
gedung SD itu. Tapi pikiran anak-anaknya
belum juga nyampek. Fuad hanya
melongo. Heran. Kemudian berdecak
kagum dalam hati.
      Tapi kali ini ia urungkan niatnya mengejar
kawanannya. Fuad kemudian
memutuskan berbelok, berlari lekas-lekas
menuju rumahnya. Dari pengeras suara
mobil van itu ia dengar nanti malam
akan digelar misbar. Layar tancap. Akan
diputar lima filem. Dua film horor, dua
film silat dan satu film komedi. Tutur
Tinular dan Koboi Cengeng adalah dua
film favoritnya. Dan ia harus memberi
tahu bapaknya, Ripin, bahwa ia akan
nonton misbar sampai malam. Misbar
adalah singkatan dari gerimis bubar.
Dinamakan demikian karena layar
tancap yang diputar akan dihentikan jika
gerimis turun. Sebab peralatan itu bisa
rusak jika terkena air.
      Sudah hampir satu tahun bioskop ke
liling itu tak mampir ke kampungnya
memberi hiburan. Biasanya hampir tiap
bulan misbar itu digelar. Dan orang-orang
kampung akan berduyun-duyun
datang ke lapangan. Duduk bersila sampai
larut malam menyaksikan film-film
yang barangkali hanya bisa dinikmati di
gedung-gedung biokop di Kabupaten.
       Ripin sedang mengasah batu akiknya
di ruang tamu, ketika Fuad tiba-tiba
berlari masuk menuju dapur, menyambar
kendi dan menenggak isinya,               
kemudian kembali ke ruang tamu.
      “Ada apa kok ngos-ngosan begitu. Seperti
dikejar demit aja.” Ujar bapaknya
sambil menimang-nimang bacan yang
baru saja digosoknya.
       Dengan nafas tersenggal-senggal Fuad
menceritakan keinginannya nonton
misbar di lapangan seusai mengaji di
surai haji Tholib malam nanti. Ia meminta
sejumlah uang jajan. Tapi Ripin
menggeleng tanda tak setuju. Fuad terus
merajuk. Tapi Ripin terus menggeleng
sambil menimang-nimang akiknya.
      “Bapak tak bisa antar. Nanti malam
bapak ada perlu ke rumah Haji Romli
ngurus acara sholawatan.”
      “Pak, Fuad bisa pergi sendiri. Nanti
berangkat ramai-ramai sama teman.”
      “Bahaya pulang malam-malam. Sekarang
banyak pembunuhan dan anak
hilang.”
      Ripin tahu bahwa ia memang terlalu
keras pada anak semata wayangnya
itu. Banyak melarang ini itu. terutama
aktivitas anaknya pada malam hari.
Tapi apa boleh buat. Ia tak mau anaknya
bernasib seperti dirinya. Jadi anak
jalanan, kemudian jadi preman. Ia
ingin anaknya tumbuh seperti anak
normal lainnya. Sekolah, mengaji,
membantu orang tua, setelah lulus bisa
cari kerja. Kalo bisa jadi pegawai negeri
atau guru ngaji.
      Masih lekat dalam ingatan Ripin hari
terakhirnya bertemu ibu dan bapaknya.
Malam itu, karena tak tahan dipukuli
terus sama bapaknya, emaknya akhirnya
memilih minggat dari rumah. Membawa
serta Ripin menyusuri jalan yang
semakin gelap ke arah kota. Tapi tanpa
tujuan pasti. Emaknya berjalan dengan
langkah-langkah cepat dan lebar, dan
Ripin yang waktu itu masih sekecil Fuad
sempat kepayahan mengimbanginya.
Tidak ada sepatah katapun diucapkan
Enaknya. Sedangkan Ripin melangkah
dengan penuh perasaan takut. Jalan raya
sudah dekat, kurang dari seratus meter.
Tiba-tiba Emak berhenti. Terlihat berpikir
keras, lalu berbalik arah. Setengah
bergumam, Emak bilang bahwa dia lupa
bawa uang. Tergesa-gesa, Emak menyuruh
Ripin menunggu. Tidak menunggu
jawaban, Emak berlari ke arah rumah,
meninggalkan Ripin sendirian
       Mulanya Ripin berdiri di jalan
kampung yang lengang itu dan bermaksud
menuruti Emaknya, namun kemudian
kecemasan bergumul dan meningkat
cepat. Ripin memutuskan berlari
sekencang-kencangnya ke arah rumah.
Tas besar yang dibawa Emaknya
ditinggalkannya tergolek di atas jalan.
Terengah-engah, di depan rumah, Ripin
mendapati pintu depan terbuka dan di
dalam ruang tengah, Ripin melihat
bapaknya sedang menjambak rambut
Emak dan sedang menghantamkan
kepala Emak yang kecil itu ke arah
dinding. Melihat itu, Ripin kemudian
berlari menjauhi rumah, menuju pasar
malam dan tak pernah kembali.
     Beruntung Ripin diambil anak seorang
guru ngaji. Dan kemudian jadi
pedagang ayam. Hidupnya tak lagi susah
seperti waktu masih kecil. Ia tak
harus menjadi preman seperti bapaknya
hanya sekedar untuk cari makan.
Sekali waktu, setelah tahu nasib
emaknya, ia datang ke kuburnya.
Membersihkan nisan Emaknya dan
memanjatkan doa agar Emaknya
tenang selalu di alam kubur. Sementara
bapaknya sendiri ia tak tahu. Setelah
mendengar cerita kalau bapaknya
ditembak petrus, Ripin tak pernah
tahu di mana kubur bapaknya.
      Karena itu Ripin tak mau Fuad seperti
dirinya. Cukup dia saja yang mengalami
hidup sebatang kara dan
sempat jadi anak jalanan dan pencopet.
Fuad jangan. Samasekali jangan.
      Fuad menghentikan rajukannya.
      Ketika bapaknya menyebut tentang
maraknya pembunuhan dan orang hilang,
bayangan tentang seonggok mayat
mengapung di kali tempat ia biasa
mandi melintas. Mayat itu perutnya sobek,
isinya terburai. Kata orang, mayat
itu orang jahat. Mati dibantai ramai-ramai
karena suka mengguna-gunai orang.
Mengerikan. Mayat yang mengapung
di kali itu membuat ia dan
kawan-kawannya tak pernah lagi mandi
di kali untuk beberapa waktu lamanya.
      Tapi Fuad lekas-lekas menghapus bayangan
itu. Ingatan tentang misbar menempel
lagi dalam kepalanya. Fuad merajuk
lagi. Kali ini dengan nada keras
dan mulai merengek sambil menangis.
Tapi bapak bergeming. Menggeleng dan
ngeloyor pergi ke kamar mandi, berwudhu,
lalu berjalan ke mushalla Haji Romli,
meninggalkan Fuad yang terus sesegukan
di ruang tamu, sendirian. Beberapa
saat kemudian terdengar suara bapaknya
mengumandangkan adzan
dhuhur dari toa mushalla.
     Tangis Fuad makin keras. Ia membayangkan
seandainya ibunya ada di sampingnya,
ia akan merajuk pada ibunya
untuk meluluhkan hati bapaknya agar
bisa menonton misbar. Tapi apa daya,
untuk meredakan tangisnya. Ibunya
sudah di surga bersama adiknya.
Ibunya mati saat hendak melahirkan
adiknya. Sementara adiknya hanya
bertahan seminggu di dunia kemudian
juga menyusul ibunya menuju surga.
Fuad kini berdua dengan bapaknya.
      Malam begitu bersahaja dengan beribu
bintang dan bulan berbentuk perahu di
langit. Angin membawa gigil udara ke
dalam kulit. Ripin sedang duduk diberanda
sambil menghisap kretek dan memutar
tasbih ketika Fuad pulang mengaji.
     “Cuci tangan, cuci kaki. Setelah itu
tidur” perintah Ripin.
      Fuad melengos masuk rumah. Langsung
naik ke tempat tidur tanpa menuruti
perintah bapaknya. Memejamkan mata.
Tapi tak bisa tidur. Ia membayangkan
kawan-kawannya sedang berlarian di
lapangan sambil makan ancang menunggu
misbar dimulai. Ia membayangkan
aroma sedap kacang rebus dan
gulali menyeruak ke dalam hidungnya.
      Beberapa saat kemudian Fuad mendengar
langkah kaki bapaknya menuju
kamar. Fuad lekas-lekas merapatkan
matanya. Pura-pura tertidur lelap.
Dirasakan tangan bapaknya membelas
rambutnya. Didengarnya suara shalawat
keluar dari mulut bapaknya sebaliknya
tiga kali. Kemudian dirasakan tiupan dari
mulut bapaknya di ubun-ubunnya. Fuad
terus merapatkan matanya. Tapi tak bisa
tidur. Bayang-bayang misbar masih
menerkam pikiran kanak-kanaknya.
      Rumah hening. Suara dengkur Ripin
bersautan dengan suara jangkrik di luar.
Dingin menyergap ke dalam sumsum ke
dalam tulang. Fuad pelan-pelan membuka
mata. Melihat ke arah bapaknya yang
rebah di sampingnya. Berkali-kali
mengguncangkan tangan bapaknya pelan
untuk memastikan bapaknya tertidur
pulas. Setelah yakin, ia pelan-pelan
beringsut dari ranjang menuju dapur.
Menaiki lemari dan mengambil kaleng
tempat bapaknya menyimpan uang hasil
jualan ayam. Selembar uang seribu ia
kantongi, lalu menuju pintu belakang,
membuka grendel dan bergegas berlari
menuju lapangan. Nonton misbar.
      Saat Fuad sampai di lapangan, film koboi
cengeng baru separuh jalan. Film komedi
yang diperankan Ateng, Iskak dan
Dartok Helm kesukaannya. Fuad segera
duduk di kerumuman kawan-kawannya
sambil menikmati kacang rebus yang baru
saja dibelinya. Ia terpingkal-pingkal
bersama kawannya tiap melihat adegan
lucu di film itu. Ia ngakak seakan lupa
bahwa siang tadi ia menangis hebat.
      Sementara itu, saat Fuad tertawa
lepas menonton layar tancap, sebuah
mobil jenis station wagon berhenti di
depan rumah Ripin. Tak lama kemudian
kabel listrik diputus. Listrik padam.
Tiga orang berbadan tegap dan
bertopeng ala ninja menerobos masuk
ke rumah Ripin dengan mendobrak
pintu. Tanpa kesulitan mereka menemukan
Ripin tengah terlelap tidur.
Tanpa banyak komentar mereka
mengeluarkan pisau dan pedangnya.
“Cras...crasss” Ripin langsung bersimbah
darah dan meninggal.
Lehernya nyaris putus digorok.
      Mayatnya kemudian diseret ke luar
rumah. Dilemparkan ke pinggir jalan.
Beberapa orang sempat melihat station
wagon itu. Berpenumpang empat
orang berambut cepak dan selalu
menenteng handy talky. Orang-orang
merubung mayat Ripin. Desas-desus
beredar, Ripin mati dibunuh ninja.
     Fuad masih tertawa terpingkal-
pingkal tiap berlangsung adegan lucu dalam
dalam koboi cengeng(*).

2 Maret 2015

Daun dan Kematian



Cerpen: M Arrijalul Mukhlisun  (Radar Surabaya 1 Maret 2015)
  

      Aku hanyalah selembar daun
yang mulai menua termakan
usia. Terlahir dari
sebuah pohon yang tertancap
kuat di pinggir jalanan
kota. Mungkin agaknya
aneh ada pepohonan yang turut
menghiasi keramaian kendaraan kota,
namun memang demikianlah adanya.
      Melihat berbagai macam dedaunan
yang menempel di ranting masing-masing,
dengan ukuran yang kecil berwarna
hijau muda nan cerah saling
berdampingan. Sedikit lebar dengan
warna hijau tua, gelap. Patah tubuh
dan tinggal separuh. Sampai yang coklat
kering hampir mati. Aku jadi teringat
saat pertama kali melihat keindahan
bumi ini. Ya! aku pernah menjadi
mereka semua.
       Ranting yang menjulang tinggi, kala
itu, membuatku berada di atas daundaun
yang lain. Warna hijau muda
yang melapisiku tampak menambah
keelokan tersendiri bagiku. Saat mentari
pagi mulai menyunggingkan senyum
sinarnya ke segala penjuru bumi,
ada perasaan bangga yang merasukiku.
Kerena menurutku, akulah yang
pertama kali menyambut senyum itu.
Aku yang pertama menyentuh rintik
hujan ketika langit mulai menyirami
bumi. Saat burung-burung terbang melebarkan
kedua sayapnya, aku dapat
melihatnya dengan jelas. Langit biru,
awan putih yang menghambur mewarnai
biru langit. Sampai rembulan dan
para bintang yang menghias malam di
atas sana, tampak utuh olehku.
      Tidak seperti dedaunan yang berada
di bawahku, untuk memandang semua
itu mereka masih terhalang oleh gerombolan
daun lain yang ada di atasnya.
Meski demikian, tak pernah aku
mendapati mereka protes pada yang
lain tentang keadaan ini. Mereka yang
berhijau gelap saling mempersilahkan
yang berhijau cerah untuk menikmati
masa-masa itu. Semua mereka saling
mengerti. Saat sepoi angin menyapa,
mereka semua menari bersama mengikuti
alunan angin itu. Saat debu jalanan
saling beterbangan, bercampur
asap knalpot semburan kendaraan,
mereka seperti menepuk-nepuk bagian
tubuh yang lain, membersihkan segala
yang menempel dan mengotori hijau
warna tubuhnya dengan bantuan
angin itu. “Kehidupan yang penuh
kedamaian,” ucapku lirih.
      Fajar mulai merekah, menjulang dari
ufuk timur. Embun pagi turun menyerbu
bumi menambah kesegaran pagi, membangunkan
daun-daun yang beristirahat dalam
layu semalam suntuk, dan siap menyambut
hangatnya sinar mentari pagi.
      Semalam jalanan dibawah sana
tampak sepi, tidak dipadati oleh kendaraan
yang berlalu lalang dan kadang
terjebak macet panjang. Lampu kota
yang setia bersinar seakan menyulap
jalan-jalan menjadi semakin sunyi.
Daun-daun pepohonan di sepanjang
jalan tampak memantulkan sinarnya.
Mereka semakin anggun dengan itu.
      Satu, dua mobil mulai bermunculan di
pagi hari yang masih buta dan entah dari
mana dan mau kemana. Bus-bus malam
yang melesat cepat ditemani pengap asap
seakan merobek kegelapan, berperang
semelawan segarnya embun pagi. Sesekali
kendaraan-kendaraan itu menghempas
serta menyeret dedaunan yang ada di
bawah sana. Mereka mulai berguguran
diterpa angin yang menyembul dari
jalanan yang dilewati. Perlahan mereka
mulai terinjak berbagai macam roda yang
melintas buas di jalanan. Mereka merintih,
menangis, sebelum akhirnya hancur
lebur, dan mati. Belum sempat mereka
menikmati sinar mentari untuk yang
kesekian kalinya, mereka harus hengkang
meninggalkan semuanya. Seluruh daun
tampak sedih melihat semua itu. Begitu
juga denganku yang hanya terpaku
melihat tanpa bisa membantu berbuat.
     “Maksudmu?” Tanyaku penuh ketidak
pastian, namun sedikitpun ia tak
bergeming memberikan jawaban.
      Riuh risih dedaunan masih bisa kudengar
meraung berteriak. Mengumpat.
Menyalahkan kendaraan-kendaraan
itu. Suaranya saling bersahutan,
hampir tak bisa kubedakan. Mereka
melakukan itu sepanjang hari, setiap
ada dedaunan yang menjadi korban
ganas kendaraan. Bagi kami seluruh
daun yang ada adalah keluarga. Jauh
dekat tak peduli kegembiraan, kesedihan,
kami sama-sama merasakannya.

      ***
      Matahari mulai meninggi. Sinarnya
semakin ganas membakar bumi. Angin
yang menyembul dari balik kendaraan,
asap kotor yang dilahirkannya, suara
bising yang keluar, semuanya kami
sambut dengan penuh bunga. Bagi
manusia, mungkin semua itu adalah
virus dengan berjuta-juta penyakit.
Namun tidak bagiku, bagi kami bangsa
daun semua itu merupakan sebuah
ramuan penyegar, dan dari semua itu
pula kami menemukan kehidupan.
      Hari terus berlalu. Selama itu kami
hidup penuh kedamaian. Kendaraan
yang selalu menampar dedaunan, kini
tamparan itu tak mampu lagi menjangkau.
Daun-daun yang dulunya melambaikan
dirinya ke jalan-jalan, kini telah
tersapu bersih. Dahan dan rantingnya
pun ikut musnah. Hanya tinggal dahan
tinggi, menjulang menandingi gedunggedung
pencakar langit di kota ini.
      Dan saat itu, aku bukan lagi daun yang
pertama kali menyambut senyum sinar
mentari pagi. Bukan yang pertama
menyentuh rintik hujan yang turun
membasahi bumi. Aku tak lagi dapat
melihat jalas burung-burung yang
mengibaskan sayap di atas sana. Tidak
mampu melihat telanjang biru langit
beserta gumpalan awan yang setia menghias.
Aku hanya bisa mengintip semua
itu melalui celah yang ada di sela-sela
dedaunan yang mulai tumbuh lebat di
atasku. Warnaku juga tidak lagi cerah,
secerah mereka-mereka yang baru terlahir
kedunia melalui rahim sang pohon.
      Aku yang menginjak dewasa, tak muda
juga tak tua, kala itu, sempat digegerkan
oleh segerombolan orang yang
menenteng gergaji mesin. Tidak perlu
ditebak apa yang hendak mereka lakukan.
Pohon-pohon yang berjajar rapi
di tepi jalan, ingin mereka sapu bersih
dengan si Gigi besi itu.
      “Daun-daun yang berjatuhan telah
mengotori jalan, mengurangi keindahan
kota, lebih baik kita manebangnya,”
Kata salah seorang dari mereka.
      “Lagi pula adanya pohon ini hanya
akan menambah gelapnya kota, meskipun
ada cahaya matahari.”
       Mengetahui hal itu semua pohon
beserta daun-daunnya menjerit histeris,
melawan raungan gergaji yang mulai
mengiris. Dan siap memberantas habis.
      Aku mendengar jelas jeritan para daun.
Tidak dengan penebang-penabang brutal
itu, mereka sama sekali tidak mendengarnya.
Dengan buas mereka menghabisi
pepohonan yang ada di sepanjang
jalan. Andai bisa melawan, mungkin
pohon-pohon itu akan memamerkan akarakar
kuat yang telah lama terpendam.
Menghempaskan tubuh-tubuh kecil
mereka. Tapi itu tidak mungkin. Pohonpohon
itu hanya diam pasrah.
       Lima, Enam, Sepuluh, pohon mulai
roboh memotong jalanan yang sepi kala
itu. Dan jeritan masih kudengar jelas.
Tidak puas, daun-daun yang mulai
terhempas ke bibir jalan mengumpat,
mengutuk mereka yang membunuh
sumber kehidupannya.
      Aku semakin cemas. Tidak lama lagi,
aku dan daun-daun yang ada di pohon
ini akan segera musnah. Tinggal menunggu
giliran. Ya! Tinggal tujuh pohon
lagi di depan yang belum mereka
selesaikan dan sepuluh pohon di
belakang siap di tebang. Melihat daundaun
yang bergelimagangan memadati
jalan, aku ingin menangis, menjerit
seperti mereka. Namun, sekali lagi,
percuma para penabang pohon itu takkan
mungkin mendengar.
      Dengan sekejap, jalanan tersulap
menjadi lautan daun dengan ranting
yang bertebaran di sana-sini. Di
seberang jalan sana adalah orang-orang
yang hanya terpaku asyik menonton
adegan pembunuhan kami.
      Di tengah terik matahari yang se
makin menyengat, mereka dengan giat
menggoreskan gergaji mesin itu ke
tubuh pohon-pohon. Di saat yang bersamaan,
aku tertegun heran mendengar
jeritan dedaunan yang mulanya
menggelegar, kini tak lagi kudengar.
Semuanya diam serentak. Dan beberapa
saat suasana di antara kami menjadi
sunyi.
       Mereka semakin gencar membantai.
Dedaunan kembali riuh ramai. Tapi
tidak dengan jeritan histeris nan
mengiris. Tidak dengan itu. Doa, ya!
Seluruh daun yang tersisa mengumandangkan
doa, doa untuk keselamatan
bersama. Suaranya yang saling bersahutan
seakan mengobrak-abrik panas
matahari kala itu. Mengundang angin
berdebu untuk mengusir orang-orang di
bawah sana, memanggil awan mendung
yang lama tak menampakkan dirinya.
Dua pohon lagi berhasil mereka gulingkan.
Deru mesin gergaji seakan menyayat
siapa saja yang mendengarnya.
Mereka bersorak ria. Bangga dengan
apa yang mereka lakukan. Satu pohon
lagi roboh ke jalan disambut tepuk
tangan ramai orang-orang menonton di
tepi jalan. Aku tak sanggup lagi melihat
kejadian yang memilukan ini.
      Perlahan, cahaya matahari tak lagi
ganas. Sedikit demi sedikit awan mendung
mulai menyelimuti langit. Matahari
mengalah. Ia menarik seluruh
sinar yang di tebarnya ke bumi.
Dengan cepat langit yang cerah kini
berubah menjadi hitam pekat. Dari segala
penjuru angin berhembus buas.
Dengan bantuannya, seluruh pohon
yang tersisa seperti mengamuk.
Menghempaskan dahan beserta ranting
mereka melawan kebrutalan para
penebang. Tak lama, mendung mulai
menumpahkan gerimis. Suaranya
serasa mengiris. Tak mau kalah angin
mendesau dengan kuat, membuat tirai
hujan semakin tebal dan kelabu. Petir
mulai memamerkan kilat silaunya.
Guruh yang menggelegar menambah
suasana semakin gencar. Di bawah
sana mereka mulai mematikan mesin
gergaji. Semua orang menghambur,
berlarian mencari tempat berlindung.
     Tanpa henti, suara dedaunan yang
ada terus menggema. Memenuhi
seluruh isi dunia.
***
      Keesokan harinya para penebang itu
tak lagi menampakkan batang hidung
mereka. Hanya sekelompok petugas
kebersihan yang mulai menyapu daundaun
yang berserakan, dan pohon-pohon
yang terkapar tak berdaya di jalanjalan.
Sejak saat itu, kehidupan kami
kembali dengan kedamaian seperti
semula. Mentari pagi dengan sinarnya.
Embun pagi dengan kesegarannya. Semilir
angin dengan gelitiknya. Langit
malam dengan bulan bintangnya. Dan
segala pernak pernik kehidupan dengan
berbagai macam warnanya.
      Dan detik ini aku hanyalah selembar
daun yang mulai menua termakan
usia. Hampir tiba waktunya: warna
yang menguning, berubah coklat kering,
sampai akhirnya terhempas oleh
sambaran angin, dan tepisah dari ranting.
Jatuh. Sampai di aspal jalanan.
Disambut roda kendaraan. Remuk.
Hancur dan tamat sudah. (*)